Tantangan Pembangunan di Situs Cagar Budaya

by admin|| 17 Juli 2019 || 63 kali

...

Pasal 9 Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun2010 tentang Cagar Budaya menyebutkan bahwa suatu lokasi dapat ditetapkan sebagaisitus cagar budaya apabila 1) mengandung benda cagar budaya, bangunan cagarbudaya, dan/atau struktur cagar budaya; dan 2) menyimpan informasi kegiatanmanusia pada masa lalu. Dalam undang-undang yang sama pada pasal 75 mengamanatkanbahwa setiap orang wajib memelihara cagar budaya (di dalamnya termasuk situscagar budaya) yang dimilik dan/atau dikuasainya. Pemeliharaan ini dilakukan dengancara merawat cagar budaya untuk mencegah dan menanggulangi kerusakan akibatpengaruh alam dan/atau perbuatan manusia.Salah satu usaha penanggulangan kerusakan ini pada situscagar budaya adalah dengan pembangunan atap dan pagar. Pembangunan atapdiharapkan dapat mengurangi kerusakan benda / struktur / bangunan yang ada didalam situs karena terkena hujan dan sinar matahari secara terus menerus danjuga mengurangi kerusakan karena kejatuhan benda-benda lain seperti rantingatau dahan pohon. Pembangunan pagar dimaksudkan untuk melindunginya dari pengunjungyang kemungkinan bisa naik, menyentuh atau menginjak-injak dan kemungkinan terjatuhpada lubang tempat temuan cagar budaya berada. Selain itu juga untukmelindunginya dari kemungkinan kerusakan akibat binatang maupun kendaraan yang lewatdi sekitarnya.
Pada pembangunan atap dan pagar ini tentu memerlukan pondasisebagai alas tempat struktur atap atau pagar berada. Karena pada situs itumenyimpan informasi kegiatan manusia pada lalu yang umumnya terdapat di bawahpermukaan tanah, maka pada saat penggalian tanah untuk pondasi ini harusdilakukan secara hati-hati. Penggalian harus dilakukan secara bertahap misalsetiap 20-25 cm kemudian dilihat apakah ada kemungkinan temuan peninggalan masalalu yang ada di lubang galian tersebut yang dilakukan oleh arkeolog. Bilatidak ada maka penggalian bisa dilanjutkan. Bila ada maka penggalian dihentikanatau diteruskan secara hati-hati untuk melihat secara lebih utuh keberadaanbenda / struktur tersebut.
Jika setelah pengkajian dari arkeolog benda / struktur yangada harus tetap berada di lokasi karena kemungkinan berkaitan dengan benda /struktur lain di sekitarnya, maka posisi pondasi sesuai rencana awal harusdipindah. Jika temuan merupakan temuan lepas yang kemungkinan tidak terkait dengansekitarnya maka temuan tersebut dapat dipindah dan penggalian tanah untuklokasi pondasi dapat dilanjutkan.
Pada foto yang diambil di Situs Kauman Pleret, dapatdilihat bahwa setelah dilakukan penggalian tanah untuk pondasi, ternyataditemukan temuan berupa susunan batu yang membentuk lingkaran dan di dekatnyajuga ada susunan batu dan batu bata yang lain. Karena temuan itu kemungkinanberhubungan dengan temuan lain di lokasi tersebut, maka arkeolog memutuskanbahwa temuan tersebut harus tetap berada di lokasinya dan letak pondasi yang semuladirencanakan di posisi itu harus digeser. Jika lokasi pondasi yang baru setelahdigeser nantinya juga ditemukan lagi benda / struktur yang harus tetap ada ditempatnya maka posisi pondasi juga harus dipindahkan. Keberadaan arkeolog bisamembantu menganalisis kira-kira di lokasi mana yang mungkin tidak ada temuanberdasar data dan hasil galian yang ada.
Memang mendirikan bangunan yang memerlukan penggaliantanah di situs cagar budaya ada tantangan tersendiri. Namun jika tujuanpembangunan adalah untuk  mencegah danmenanggulangi kerusakan cagar budaya akibat pengaruh alam dan / atau perbuatanmanusia maka sangat ironis jika pembangunan yang dilakukan justru merusak keberadaanbagian-bagian dari cagar budaya yang ada.
(DD)

Artikel Terpopuler


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi ...



...
Raden Wedono Larassumbogo

by admin || 04 Maret 2014

Raden Wedono Larassumbogo, putra kedua dari R. Sosrosidurejo ini dilahirkan di Kampung Bumijo Yogyakarta  pada tanggal 27 Juli 1884 atau 12 Dulkongidah wawu 1813. Pada masa kecilnya ...



Artikel Terkait


...
SITUS MAKAM GIRIGONDO

by admin || 01 April 2012

Kompleks makam ini pertama kali digunakan sebagai makan KGPAA Paku Alam V, yaitu pada bulan September 1900. Ini nampak pada prasasti yang terdapat pada gapura makam di teras I. Kompleks makam ini ...


...
MAKAM DAN MASJID BANYUSUMURUP

by admin || 01 April 2012

Makam Banyusumurup merupakan kompleks makam Pangeran Pekik sekitar abad 17 (Pangeran Pekik adalah putera Pangeran Surabaya yang dinikahkan dengan adik Sultan Agung, yaitu Ratu Pandansari, yang ...


...
Makam Kotagede

by admin || 01 April 2012

Kotagede yang sering disebut juga Sargede terletak kurang lebih lima kilometer di sebelah tenggara Yogyakarta. Di kota ini wisatawan dapat mengunjungi makam Raja-raja Mataram seperti Sutowijoyo atau ...





Copyright@2019

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta