Latar Belakang Munculnya Museum

by pamongbudaya|| 12 November 2020 || || 17 kali

...

Oleh: Sony Saifuddin*

 2020

 

       Pada abad 12 – 15 Masehi, bangsa Eropa mengalami kemunduran di berbagai bidang. Renaissance kemudian mendorong kemajuan teknologi dan kebudayan mereka. Akibatnya pada era 1700 an di di kota-kota negeri Eropa, seperti, London, Amsterdam, Leyden, dan Paris terjadi perubahan cara pandang manusia terhadap dunia, yang mengubah secara fundamental bagi jalannya kehidupan manusia ke depan. Fenomena ini membuat banyak orang yang tertarik dengan kehidupan alam dan dunia materi di sekitar mereka dengan cara pandang yang baru. Ketertarikan itu dilakukan baik oleh penguasa (gubernur dan raja), pendeta, bangsawan, tuan tanah, atau pedagang seiring dengan pengalihan tugas kerja seperti pemrosesan makanan, pembuatan tekstil, dan pekerjaan kayu dan besi kepada kaum pekerja atau buruh (Pearce, 2010).

       Penemuan teknologi mesin uap memajukan teknologi transportasi yang memicu pelayaran ke seluruh penjuru dunia untuk menemukan sumber-sumber komoditas perdagangan baru. Pelayaran tersebut tidak hanya untuk tujuan berdagang tetapi juga tujuan yang lain seperti tujuan politik untuk kolonialisme. Kolonialisme mencirikan dominasi internal suatu kelompok atas kelompok yang lain. Dominasinya mencakup kebudayaan, ideologi, sistem nilai, dan lain sebagainya (Vonk, 2013). Para pedagang, pegawai pemerintah jajahan, dan para peneliti sering membawa pulang ke Eropa berbagai macam benda kebudayaan berupa senjata-senjata, benda seni dan kerajinan dari wilayah yang dikunjungi atau kuasai. Pun juga tengkorak-tengkorak dari berbagai ras yang ada di muka bumi tak luput dari perhatian mereka untuk dibawa ke Eropa. Benda-benda tersebut kemudian dikenal dengan benda etnografi yang pada awalnya dikumpulkan di istana atau rumah-rumah saudagar sebagai koleksi benda-benda yang dianggap aneh oleh orang-orang Eropa (Koentjaraningrat, 1987).

       Seiring dengan makin banyaknya benda yang terkumpul dan tersimpan, telah mendorong mereka untuk memamerkan benda-benda etnografi tersebut. Pada akhir abad 18 pengetahuan mengenai benda-benda etnografi menjadi populer di antara orang-orang kaya di Eropa. Hal ini memunculkan ide untuk mengorganisasi museum-museum etnografi yang pertama. Pada paruh kedua abad 19 merupakan tahun-tahun yang penuh dengan pameran industri di kota-kota besar di kawasan Atlantik Utara. Mulai dari pameran yang bertajuk Great International Exposition di Crystal Palace, London tahun 1851, sampai pada pameran New York’s “Crystal Palace” Fair tahun 1853 yang kemudian bergulir secara bergantian selama hampir tujuh dekade.

       Pameran tersebut dalam konsep dan konstruksinya, dianggap sebagai bagian dari imperialisme awal atau klasik. Benda yang dipamerkan didominasi bahan-bahan mentah industri, dan perusahaan-perusahaan yang menjelma menjadi kerajaan bisnis yang bergerak dalam bidang manufaktur yang bahan mentahnya diperoleh dari wilayah koloni mereka. Sebagai sebuah fenomena, pameran industri ibarat sebuah pesta untuk merayakan penguasaan bangsa yang beradab (Barat) atas sumber daya alam dan bangsa yang dianggap terbelakang atau primitif (Hinsley, 1991).

       Tidak hanya mengambil dan memamerkan benda-benda yang dilakukan oleh orang-orang Eropa. Bahkan orang-orang dari berbagai suku dari negeri jajahan juga didatangkan ke Eropa untuk dipamerkan. Mereka dipertontonkan untuk hal, yang bisa dikatakan, kurang jelas arahnya. Antara rasa ingin tahu yang mendalam dan ketertarikan terhadap ilmu pengetahuan, antara ruang mengerikan dan ruang pamer medis, antara pertunjukan sirkus dan kebun binatang, antara pertunjukan teater dan display etnografi yang hidup dan nyata. Pameran pertama di New York, Amerika tahun 1853, bertema “Machinery” yang terkait dengan seluk-beluk permesinan, terutama untuk memperkenalkan mesin jahit. Namun dalam pelaksanaannya ditampilkan juga produk-produk dan pelaku budaya. Materi budaya yang  ditampilkan di pameran itu beberapa di antaranya adalah seorang penari misterius yang dijuluki Lady in Red, kemudian manusia liar dari Borneo (Wild Man of Borneo), manusia kanibal dari Fiji, serta tenda yang menampung tiga ratus orang yang berasal dari lima puluh suku-suku Indian. Tahun 1867 Louis Napoleon menyelenggarakan Pameran Paris (Paris Exposition) dengan maksud untuk menunjukkan kepada dunia tentang stabilitas dalam negeri selama masa pemerintahannya. Lewat pameran ini benda-benda diberi makna baru sebagai lambang kekuatan penguasa penyelenggara pameran. Benda-benda koleksi Louis XIV di Paris, Perancis dipamerkan untuk menunjukkan bagaimana tatanan dunia di bawah kekuasaan dinasti Bourbon. Demikian juga yang dilakukan di Inggris, diadakan pameran benda-benda seni secara temporer untuk tujuan politis guna menunjukkan kekuatan pemerintahan Tudor (Yamaguchi, 1991).

       Pameran-pameran yang dianggap tidak jelas arahnya tersebut, kemudian ditentang oleh orang-orang protestan konservatif yang memaksa mereka untuk memindahkan tempat display pamerannya dari teater atau tempat pertunjukan ke dalam museum (Kirshenblatt-Gimblett, 1991). Praktik untuk mengirimkan misi ke wilayah terpencil untuk membawa kembali komunitas-komunitas yang dianggap eksotis untuk dipamerkan kepada khalayak marak di era 1870 an. Seperti yang dilakukan oleh pelatih hewan dan ahli kebun binatang dari Hamburg bernama Carl Hagenbeck. Sekitar tahun 1876, Hagenbeck mengirim koleganya yang bernama Johan Adrian Jacobsen untuk mencari dan membawa koleksi artefak dan enam orang Eskimo dari Greenland ke Hamburg. Kemudian misi serupa dilaksanakan sampai akhirnya terjadi tragedi di mana seluruh anggota dalam misi tersebut meninggal akibat cacar yang menurunkan semangat Hagenbeck untuk memamerkan orang-orang dari suku terpencil. Dua tahun kemudian usaha tersebut dimulai lagi dan berhasil menggelar pameran di dua puluh tujuh kota selama sebelas bulan tour yang melibatkan sekitar dua ribu artefak (Hinsley, 1991).

       Memamerkan koleksi etnografi menjadi kegiatan yang umum dilakukan pada abad 19 di Eropa. Salah satu acara yang cukup fenomenal adalah World Fair. Materi etnografi yang ditampilkan dalam World Fair berasal dari masyarakat negara-negara yang dijajah oleh negara-negara Eropa (Hinsley, 1991). Pameran ini diakui sebagai pameran yang terbesar dan kompleks dalam konteks program-program acaranya. Pameran berfungsi sebagai laboratorium arsitektur, pusat penelitian lapangan antropologi, taman yang bertemakan “kebudayaan awal”, penggerak konsumerisme, mengembangkan nasionalisme, dan tempat untuk merekonstruksi masa depan yang diimpikan oleh pandangan kolonialisme. World Fair juga berkontribusi dalam pengembangan museum, di mana benda-benda yang ditampilkan dalam World Fair kemudian banyak yang dikirim ke museum demi menghemat biaya pengiriman ke negara asal benda tersebut (Rydell, 2006).

       Hal yang menarik disampaikan oleh Hinsley (1991) bahwa sebenarnya pameran yang menampilkan segala macam bentuk etnografi tersebut pada dasarnya menunjukkan kekuatan uang dalam membentuk hubungan antara manusia. Ia menunjukkan bahwa Pameran di Columbia (The Columbian Exposition) merupakan perayaan untuk menciptakan pasar. Perdagangan dan pertukaran mengandung janji untuk dapat memecahkan permasalahan perbedaan di antara umat manusia. Proses komersialisasi beranggapan bahwa pada dasarnya segala hal dapat dijual dan setiap orang mempunyai harga, dengan kata lain dunia dapat dilihat sebagai uang (Hinsley, 1991).

       Kemajuan teknologi transportasi yang digunakan dalam perdagangan seperti kapal uap dan kereta api, pada dasarnya merupakan simbol dari pergerakan barang, jasa, dan manusia. Pergerakan utamanya didorong oleh kolonialisme yang berlayar dari pusat (Eropa) ke daerah periferal (jajahan) dan kemudian kembali lagi ke Eropa. Maka tidak mengherankan jika masyarakat di daerah jajahan menjadi pasar yang menarik. Dengan kata lain, ketertarikan utama orang Eropa terhadap masyarakat asing di wilayah jajahannya bukan disebabkan oleh keindahan budayanya tetapi lebih pada faktor ekonomi yang dianggap dapat mendatangkan keuntungan material dan finansial bagi kolonial (Hinsley, 1991).

       Sebagai institusi sosial dan budaya, museum berperan dalam mengemas pengetahuan melalui pameran. Museum mengoleksi obyek, memilih topik, dan membangun wacana lewat kegiatan pameran. Dengan begitu, museum bukan hanya mementaskan kebudayaan tetapi memegang otoritas yang besar dalam ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, museum memiliki kekuatan untuk membentuk ideologi dan keyakinan masyarakat tentang sesuatu yang dianggap benar melalui pameran mereka (Dai-Rong, 2006). Museum berkontribusi dalam pembangunan dan penyebaran budaya kekuasaan kolonial kepada masyarakat abad 19. Sebagai alat kolonialisme, museum memamerkan mimpi-mimpi kolonial untuk mengontrol dan mengatur masyarakat melalui eksplorasi, pengumpulan, dan pengklasifikasian yang lebih detail terhadap alam dan budaya yang ada di dunia (Legene, 2012).

 

Kepustakaan

Dai-Rong, Wu. 2006. Cultural Hegemony in The Museum World. Conference Paper.

Hinsley, Curtis. M. 1991. “The World as Marketplace: Commodification of the Exotic at the World?s Columbian Exposition, Chicago, 1893” dalam Ivan Karp dan Steven D. Lavine (ed). Exhibiting Cultures: The Poetics and Politics of Museum Display. Washington: Smithsonian Institution.

Kirshenblatt-Gimblett, Barbara. 1991. “Objects of Ethnography” dalam Ivan Karp dan Steven D. Lavine   (ed).    Exhibiting   Cultures:   The   Poetics   and   Politics   of   Museum   Display. Washington: Smithsonian Institution.

Kontjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: UI-Press.

Legene, Susan. 2012. “Powerful Ideas Museums, Empire Utopias and Connected World” Dalam ICMAH – COMCOL Annual Conference. South Africa.

Pearce, Susan. 2010. “The Collecting Process and The Founding of Museums in The Sixteenth, Seventeenth, and Eighteenth Centuries” dalam Susanna Pettersson (ed). Encouraging Collections Mobility – A Way Forward for Museums in Europe. Helsinki: Finnish National Gallery

Rydell, Robert W. 2006. “World Fairs and Museum” dalam Sharon Macdonald (ed). A Companion to Museum Studies, Oxford: Blackwell Publishing.

Yamaguchi, Masao. 1991. “The Poetics of Exhibition in Japanese Culture” dalam Ivan Karp dan Steven D. Lavine (ed). Exhibiting Cultures: The Poetics and Politics of Museum Display. Washington: Smithsonian Institution.

 

Website

 nckultur.org/wp-content/uploads/2013/05/Report-Indigenous-communities-and-museums-L-Vonk.pdf

* Pamong Budaya pada Dinas Kebudayaan DIY

Artikel Terpopuler


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi abdi ...



...
Raden Wedono Larassumbogo

by admin || 04 Maret 2014

Raden Wedono Larassumbogo, putra kedua dari R. Sosrosidurejo ini dilahirkan di Kampung Bumijo Yogyakarta  pada tanggal 27 Juli 1884 atau 12 Dulkongidah wawu 1813. Pada masa kecilnya bernama ...



Artikel Terkait


...
Museum dalam Tradisi Non Barat

by pamongbudaya || 22 November 2019

Oleh Sony Saifuddin* 2019   Istilah museum memiliki dua pengertian, pertama adalah yang dipahami secara umum yaitu tempat berkumpulnya sembilan dewi Muse (Dewi Kesenian), kedua lebih khusus ...


...
Pendaftaran Duta Museum DIY 2020

by admin || 02 Januari 2020

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY membuka pendaftaran Duta Museum DIY 2020 dari tanggal 6 -  17 Januari 2020.Kamu yang berminat untuk memajukan kebudayaan dan permuseuman di DIY ?Daftar ...


...
PENEMPATAN EDUKATOR MUSEUM DAN PENYERAHAN BERITA ACARA REGISTRASI KOLEKSI MUSEUM

by admin || 08 Januari 2020

Pada hari Kamis, 2 Januari 2020 yang lalu, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) menempatkan edukator museum ke beberapa museum di Daerah istimewa Yogyakarta. 18 tenaga edukator ini ditempatkan di ...





Copyright@2020

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta