Gema Catur Gatra di Jantung Yogyakarta: Menenun Spirit Kesatria di Titik Nol

by ifid|| 02 Mei 2026 || 548 kali

...

Yogyakarta tidak pernah benar-benar tidur, namun pada petang ini, nafas kota terasa berbeda. Tepat di jantung peradaban kota, Titik Nol Kilometer Yogyakarta menjadi saksi bisu sebuah peristiwa budaya yang menggetarkan. Di bawah langit senja yang mulai merayap naik, suara kendang yang bertalu-talu memecah hiruk-pikuk kendaraan, memanggil jiwa-jiwa untuk menoleh kembali pada akar tradisi.

Hari ini, Jumat, 1 Mei 2026, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY ikut berpartisipasi sebuah persembahan istimewa dalam acara bertajuk "Move With Culture". Di tengah kepungan bangunan kolonial dan modernitas kota, kesenian Jathilan Dobenka Catur Gatra Pamungkas hadir membawa semangat dari pelosok Girisubo, Gunungkidul, ke pusat gravitasi budaya Yogyakarta.

Babak Pertama: Manifestasi Gagah Sang Prajurit

Riuh rendah penonton yang memadati pelataran Titik Nol seketika teredam saat barisan penari pria memasuki gelanggang. Inilah babak pertama, sebuah representasi murni dari semangat keprajuritan yang tak kunjung padam. Dengan kuda kepang dari anyaman bambu yang digenggam erat, para penari melesat bagai anak panah yang lepas dari busurnya.

Gerakan mereka adalah simbol kewibawaan; setiap hentakan kaki ke aspal Titik Nol adalah nafas perjuangan pasukan berkuda saat menghadapi kemelut di medan laga. Sinopsis karya ini menceritakan kegagahan para kesatria di atas punggung kuda tidak sekadar tarian, namun tentang ketangkasan yang melambangkan kekuatan lahir dan batin dalam menjaga kedaulatan tanah kelahiran.

Babak Kedua: Kekuatan di Balik Keanggunan

Jika babak pertama adalah api yang berkobar, maka babak kedua adalah air yang mengalir namun mampu menghanyutkan. Memasuki babak kedua, suasana berganti menjadi lebih syahdu namun tetap penuh energi dengan munculnya barisan penari putri.

Babak ini didedikasikan untuk merepresentasikan kekuatan dan keanggunan seorang perempuan. Di balik gerakan yang luwes dan gemulai, tersimpan keteguhan hati yang luar biasa. Ini adalah sebuah pesan kuat bahwa kelembutan seorang perempuan adalah bentuk determinasi yang setara dalam menjaga kehormatan bangsa. Di Titik Nol sore itu, keanggunan ini berpadu dengan latar belakang gedung-gedung bersejarah, menciptakan harmoni visual yang memukau setiap mata yang memandang.

Sinergi Budaya: "Bergerak Bersama Merawat Budaya"

Keberhasilan pementasan di pusat kota ini merupakan buah dari sinergi erat antara pelaku seni akar rumput dan pemerintah. Di akhir pertunjukan, suasana menjadi penuh haru dan bangga saat kelompok kesenian asal Girisubo ini menyampaikan apresiasinya.

Kami dari Catur Gatra Pamungkas mengucapkan terima kasih kepada Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY yang telah memfasilitasi kami dalam acara Move With Culture: Bergerak Bersama Merawat Budaya." Ucap Ketua Kelompok Seni Jathilan Dobenka Catur Gatra Pamungkas 

Pernyataan ini menegaskan bahwa kehadiran mereka di Titik Nol bukan sekadar pementasan biasa, melainkan bukti nyata kehadiran negara melalui Kundha Kabudayan DIY dalam memberikan panggung yang layak bagi mutiara-mutiara budaya dari wilayah pelosok agar bisa dinikmati oleh masyarakat luas dan wisatawan di pusat kota.

Filosofi di Balik Anyaman Bambu

Mengapa Jathilan tetap relevan di tahun 2026? Jawabannya terletak pada simbolisme "Kuda Kepang". Anyaman bambu yang lentur namun kuat melambangkan karakter rakyat Yogyakarta yang adaptif namun tetap kokoh pada pendirian.

Melalui acara "Move With Culture", pemerintah daerah melakukan langkah strategis untuk memastikan bahwa di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, identitas kita tidak hanyut. Pementasan ini merupakan bentuk Konservasi Aktif dan Rejuvenasi Budaya, di mana kesenian tradisional ditampilkan dengan kemasan yang segar tanpa kehilangan nilai sakralnya.

Sebuah Janji untuk Masa Depan

Saat pertunjukan mencapai puncaknya atau pamungkas, seluruh elemen tarian menyatu dalam sebuah harmoni yang megah. "Catur Gatra" yang bermakna empat unsur atau dimensi kehidupan seolah terkunci dalam satu titik simpul kearifan lokal tepat di koordinat nol Yogyakarta.

Dinas Kebudayaan DIY melalui acara ini sukses mempertegas komitmennya. Mereka membuktikan bahwa warisan budaya bukanlah artefak mati, melainkan energi yang harus terus dihidupkan di tengah masyarakat modern.

Di bawah langit Titik Nol yang kini telah sepenuhnya dipeluk malam, semangat Dobenka Catur Gatra Pamungkas tetap menyala. Ia meninggalkan jejak mendalam di hati para penonton sebuah pengingat bahwa sejauh apa pun kita bergerak maju (move), kita harus selalu bergerak bersama untuk merawat budaya yang kita miliki. (rozak/fit)

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta