by ifid|| 02 Mei 2026 || 535 kali
Gemerlap peradaban modern dan akselerasi teknologi yang mewarnai abad ke-21 tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga menyisakan ruang-ruang hampa dalam jiwa manusia. Di tengah pusaran arus informasi yang tak terbendung, generasi muda sering kali kehilangan pijakan. Tekanan mental, krisis identitas, dan merenggangnya kohesi sosial menjadi pemandangan sehari-hari. Menghadapi realitas ini, langkah apa yang harus diambil untuk merajut kembali kewarasan dan kemanusiaan kita?
Pertanyaan fundamental tersebut menemukan gemanya di Grha Budaya, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 2 Mei 2026. Dalam suasana yang kental dengan nuansa adiluhung, Sarasehan Nasional bertajuk "Resiliensi Berbasis Budaya: Kesehatan Mental, Pendidikan, dan Pembentukan Karakter untuk Menjawab Tantangan Zaman" digelar. Acara ini bukan sekadar perayaan nostalgia masa lalu, melainkan sebuah simposium pemikiran sebuah ikhtiar serius untuk menjadikan budaya sebagai tameng pelindung (protective factor) dalam menghadapi gempuran zaman.
Diinisiasi oleh Pusat Pengembangan Diri dan Komunitas (PPDK) Kemuning Kembar yang tengah merayakan dua dekade perjalanannya, forum ini menjadi melting pot yang luar biasa. Akademisi, praktisi pendidikan, psikolog, budayawan, hingga pemangku kebijakan duduk bersama, melepaskan sekat-sekat disiplin ilmu, demi merumuskan sebuah strategi pengasuhan dan pendidikan yang adaptif, kontekstual, serta berakar kuat pada nilai-nilai Nusantara.
Suara dari Kepatihan: Budaya sebagai Sumber Kekuatan
Udara pagi di Grha Budaya terasa khidmat saat Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, melangkah ke podium. Kehadiran beliau pada hari itu mewakili Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Paku Alam X, untuk membacakan sambutan resmi pemerintah daerah. Suaranya yang tenang namun tegas membawa pesan yang sangat krusial bagi seluruh hadirin yang memadati ruangan.
Dalam sambutan yang dibacakan tersebut, ditekankan bahwa kita saat ini hidup di era yang penuh dengan perubahan cepat. Kemajuan ini bagai pedang bermata dua; di satu sisi membawa peradaban ke tingkat yang lebih tinggi, namun di sisi lain menghadirkan tantangan serius berupa krisis identitas, tekanan mental, hingga tergerusnya nilai-nilai luhur kemasyarakatan. Oleh karena itu, memposisikan kebudayaan hanya sebagai warisan usang adalah sebuah kekeliruan besar.
"Budaya memiliki peran yang sangat penting, bukan sekadar warisan, tetapi sebagai sumber kekuatan. Budaya menjadi faktor pelindung dalam kesehatan mental, karena melalui nilai, tradisi, dan spiritualitas, generasi muda memperoleh makna hidup, rasa percaya diri, serta dukungan sosial yang memperkuat ketahanan mereka." Sambutan Wakil Gubernur DIY, dibacakan oleh Dian Lakshmi Pratiwi
Lebih lanjut, pesan dari Kepatihan tersebut menggarisbawahi bahwa di dalam dunia pendidikan, resiliensi berbasis budaya memegang peranan kunci. Pendidikan tidak boleh direduksi menjadi sekadar pabrik transfer ilmu pengetahuan atau pencetak pekerja mekanis. Pendidikan sejatinya adalah kawah candradimuka pembentukan karakter. Gotong royong, toleransi, asah-asih-asuh, dan tanggung jawab adalah nilai-nilai yang membuat manusia tetap manusiawi.
Dian Lakshmi Pratiwi menutup pembacaan sambutan tersebut dengan sebuah harapan besar bahwa sarasehan ini mampu merumuskan langkah taktis dan konkret. "Ini adalah upaya untuk membangun manusia yang sehat secara mental, berkarakter, dan mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri," tuturnya menggemakan amanat Wagub DIY ke seluruh penjuru ruangan.
Dua Dekade Kemuning Kembar: Merawat Akar, Menumbuhkan Sayap
Momentum sarasehan ini menjadi terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan 20 tahun dedikasi PPDK Kemuning Kembar. Berdiri sebagai mercusuar di bidang psikologi, pendidikan, kesehatan, dan budaya, lembaga ini dipelopori oleh Dr. Indria Laksmi Gamayanti, M.Si., Psikolog. Sosok yang akrab disapa Ibu Gama ini merupakan figur penting yang memiliki pemahaman mendalam tentang bagaimana kearifan lokal Jawa dapat disinergikan dengan ilmu psikologi klinis modern.
Dalam pidatonya, Ibu Gama menguraikan bahwa tema sarasehan ini lahir dari rahim kegelisahan kolektif. "Kita melihat meningkatnya masalah kesehatan mental, melemahnya interaksi sosial yang hangat, krisis nilai, hingga semakin jauhnya generasi muda dari akar budaya dan identitasnya sendiri," paparnya. Ia menekankan bahwa budaya Nusantara sesungguhnya telah lama menyediakan ruang pendidikan dan pengasuhan yang komprehensif. Tradisi bukanlah sekumpulan ritus beku, melainkan sumber daya psikologis yang dinamis.
Sebagai puncak perayaan dua dekade ini, Kemuning Kembar meresmikan Pusat Kajian dan Pendidikan Anak-Keluarga Berbasis Budaya bernama "Omah Perden". Ruang ini didedikasikan sebagai laboratorium sosial dan reflektif untuk mengembangkan praksis pendidikan dan pengasuhan yang tidak ahistoris, melainkan menapak kuat pada kearifan bumi pijakannya.
Arah Kebijakan: Orkestrasi Tradisi di Era Digital
Sarasehan ini tidak hanya menyoroti aspek psikologis dari tataran akar rumput, tetapi juga membedah arah kebijakan di tingkat makro. Hadir memberikan Keynote Speech, Dr. Restu Gunawan, M.Hum. Beliau menegaskan visi transformasi pengelolaan warisan budaya. Tradisi harus dikonversi dari sekadar 'artefak di dalam etalase' menjadi aset aktif yang memandu arah pembangunan nasional yang berkelanjutan. Kebudayaan adalah modal sosial yang tangguh untuk membangun resiliensi kolektif masyarakat.
Di sisi lain, ruang dialog semakin kaya dengan menyoroti pentingnya meramu inovasi dan kewirausahaan strategis dengan kebijakan pendidikan nasional. Pemuda Indonesia di masa depan haruslah individu yang fasih berenang di lautan globalisasi tanpa tenggelam kehilangan identitas nasionalnya. Digitalisasi kekayaan intelektual, sebagaimana yang terus digalakkan oleh berbagai institusi pelestari budaya, menjadi jembatan antar-generasi. Bagaimana nilai-nilai adiluhung yang terkesan sakral dan berjarak, dapat dikemas dan didistribusikan melalui infrastruktur teknologi informasi, sehingga relevan dan mudah diakses oleh kaum milenial dan Gen Z.
Langen Carita: Teater Kehidupan dan Katarsis Jiwa
Meniti jantra kehidupan berarti menyadari bahwa narasi masa lalu selalu beresonansi dengan masa kini. Hal ini tergambar sempurna dalam diskusi mengenai pementasan Langen Carita. Seni pertunjukan ini bukan sekadar tontonan hiburan pelepas lelah, melainkan sebuah medium katarsis dan edukasi karakter yang sangat kuat.
Melalui Langen Carita, anak-anak dan generasi muda yang terlibat di dalamnya tidak hanya belajar menghafal naskah, nembang, atau gerakan tari, tetapi mereka belajar empati, mendalami ragam karakter manusia, dan merefleksikan nilai-nilai moral ke dalam diri mereka sendiri.
Dalam bedah psikologis, elemen-elemen unik dalam Langen Carita terbukti efektif membentuk daya lenting diri (resiliensi). Melalui seni peran, anak-anak memiliki ruang aman untuk mengekspresikan emosi kompleks, memproses konflik, dan membangun kesadaran diri (self-awareness) yang merupakan fondasi utama kesehatan mental yang prima.
Anatomi Resiliensi: Jejak Luka dan Cahaya di Masa Kecil
Sesi yang paling banyak menyita perhatian dan membawa keheningan mendalam di ruang Grha Budaya adalah diskusi mengenai anatomi resiliensi. Pendekatan budaya yang sedari pagi digaungkan, dibedah melalui pisau analisis neuropsikiatri dan trauma-informed care oleh para pakar ternama seperti dr. Santi Yuliani, M.Sc., Sp.KJ, Retno Utari, M.Psi., Psikolog, dan Dian Nugrahati, M.Psi., Psikolog.
"Manusia adalah produk masa lalunya. Namun, otak manusia memiliki neuroplastisitas. Budaya dan nilai luhur bertindak sebagai pelumas yang memungkinkan sirkuit saraf kita pulih dan bertumbuh melampaui trauma."
Peristiwa masa lalu yang tidak terproses dapat bermanifestasi menjadi masalah mental di masa dewasa. Di sinilah budaya memainkan peran terapeutiknya. Ritual komunal, kebersamaan keluarga, filosofi mikul dhuwur mendem jero, dan sistem dukungan sosial yang erat dalam budaya kita berfungsi sebagai jaring pengaman (safety net) yang menahan individu agar tidak jatuh ke dalam jurang keputusasaan saat menghadapi badai kehidupan.
Filsafat Tembang Dolanan: Bermain sebagai Ritus Belajar
Kegembiraan pecah saat kajian tentang Tembang dan Dolanan Tradisional menyapa peserta. Namun, di balik lirik jenaka dan irama riang, tersimpan filosofi pedagogis kelas berat yang dikupas tuntas oleh Paksi Raras Alit, Dra. Tika Bisono, Irma Restyana, dan Ni Luh Putu Utari Mayadevi.
Tembang-tembang tradisional seperti Menthog-menthog hingga Padhang Bulan sesungguhnya adalah instrumen pendidikan karakter alam bawah sadar. Ia mengajarkan penerimaan diri (self-acceptance), batasan kemampuan manusia, dan undangan krusial bagi anak-anak untuk keluar berinteraksi dengan alam demi membangun kecerdasan sosial. Di era gawai saat ini, pesan tembang tersebut menjadi teguran keras bagi pola pengasuhan kita.
"Bermain" bukanlah sekadar aktivitas buang-buang waktu. Melalui dolanan tradisional, anak mengasah sensorimotorik, mempraktikkan keadilan, resolusi konflik, empati, dan kolaborasi tanpa panduan buku teks. Stimulasi sejak usia dini menggunakan medium budaya lokal terbukti memberikan akar psikologis yang jauh lebih kuat dibandingkan sekadar dijejali target akademik secara prematur.
Greget, Sengguh, lan Ora Mingkuh
Saat matahari perlahan condong ke barat menyinari wajah Yogyakarta, Sarasehan Nasional "Resiliensi Berbasis Budaya" pun mencapai puncaknya. Kesimpulan umum ditarik, diskusi relevansi direnungkan bersama. Apa yang telah dipaparkan sepanjang hari oleh puluhan pakar lintas disiplin ini mengerucut pada satu sintesis besar: modernitas tanpa akar budaya ibarat pohon besar tanpa akar tunjang; ia mungkin tampak rindang, namun akan mudah tumbang oleh sapuan angin kencang.
Pendidikan dan kesehatan mental generasi mendatang tidak dapat dipisahkan dari rahim kebudayaannya. Mengembalikan nilai ngemong rasane bocah, kepekaan rasa, serta kebijaksanaan kultural ke dalam silabus pendidikan keluarga dan ruang publik adalah sebuah keniscayaan untuk menyelamatkan masa depan.
Akhir kata, perhelatan yang diorganisir oleh Kemuning Kembar ini telah meletakkan batu pijakan yang kokoh. Ini bukan akhir dari sebuah diskusi, melainkan awal dari gerakan bersama. Dengan semangat nyawiji (bersatu padu), greget (dinamis dan bersemangat), sengguh (percaya diri namun tak angkuh), lan ora mingkuh (pantang menyerah), kita semua diundang untuk turut serta amemangun tyasing sesami menumbuhkan hati, memuliakan martabat, dan merawat kewarasan generasi bangsa.
Dari Yogyakarta, di mana tradisi terus bernapas dan bertransformasi, semoga pijar resiliensi ini terus memancar, merupa masa depan Indonesia yang tangguh, sehat mental, berkarakter kuat, dan senantiasa berkeadaban luhur.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...