by ifid|| 10 Juni 2026 || 451 kali
Pagi itu, Rabu, 10 Juni 2026 , riuh rendah Jalan Malioboro Nomor 54 Yogyakarta seakan larut dalam ketukan ritme yang berbeda. Angin sepoi bertiup lembut meraba halaman Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Daerah Istimewa Yogyakarta. Di sudut pelataran, sekelompok penari bersiap dengan anggun. Jemari mereka lentik, mengenakan busana tradisional yang memancarkan kekayaan filosofi Jawa.
Tepat pukul 08.30 WIB , suasana khidmat mulai menyelimuti area halaman Kantor DPRD DIY. Sebuah delegasi penting dari belahan bumi utara Majelis Legislatif Saint Petersburg, Rusia melangkah memasuki kawasan gedung. Mereka datang jauh-jauh melintasi benua untuk memenuhi undangan bilateral. Sesuai dengan korespondensi resmi yang dikirimkan oleh Aleksandr Belskiy, Ketua Majelis Legislatif Saint Petersburg , pertemuan formal ini dijadwalkan matang untuk mempererat kemitraan antar-lembaga representatif kedua wilayah.
Namun, sebelum bergelut dengan lembar-lembar nota diplomatik dan pembicaraan serius di meja perundingan, Yogyakarta menyapa mereka dengan bahasa yang paling universal: seni budaya. Dinas Kebudayaan DIY pun mengutus para seniman terbaiknya untuk mempersembahkan Tari Puji Astuti di halaman gedung wakil rakyat itu mendadak menjelma menjadi panggung kebudayaan yang hidup dan penuh kehangatan humanis.
Saat alunan gending gamelan pertama ditabuh, ketegangan formalitas birokrasi seolah mencair. Tari Puji Astuti sebuah tarian yang sarat akan makna rasa syukur, penghormatan, dan doa keselamatan bagi para tamu yang datang mulai dipentaskan di halaman gedung. Setiap lirikan mata, ayunan selendang, dan langkah kaki para penari bergerak harmonis merajut keindahan.
Aleksandr Belskiy beserta jajaran delegasi Rusia tampak terpaku. Langkah kaki mereka tertahan di halaman, mata mereka berbinar menyaksikan ketukan demi ketukan gerakan yang begitu presisi namun lembut. Bahasa tubuh tidak bisa berbohong; senyum merekah dari para delegasi asing tersebut menunjukkan betapa seni mampu menyentuh sisi humanis terdalam manusia, melampaui sekat-sekat perbedaan bahasa nasional mereka.
Tidak berhenti di pelataran formal semata, kehangatan hubungan ini bahkan direncanakan akan berlanjut hingga malam hari. Dalam surat pribadinya yang penuh rasa hormat, Aleksandr Belskiy sempat menyampaikan undangan jamuan makan malam bersama di Yogyakarta pada hari yang sama. Sebuah ruang santai di mana diplomasi tidak lagi kaku, melainkan mengalir layaknya obrolan hangat dua sahabat lama.
Sinergi antara Sekretariat DPRD DIY dan Dinas Kebudayaan DIY dalam menyambut tamu Rusia ini memberikan sebuah pesan penting kepada dunia: bahwa politik dan diplomasi tingkat tinggi tidak melulu soal angka dan regulasi. Ada kalanya, kesepahaman terbaik justru lahir dari kekaguman yang sama terhadap keindahan budaya, dan dari rasa saling menghormati yang tulus yang disampaikan lewat selendang yang mengayun lembut di halaman gedung rakyat.
Melalui Tari Puji Astuti, Yogyakarta tidak hanya menyambut rekan bilateral barunya, tetapi juga sedang memeluk dunia dengan kelembutan budayanya yang abadi. (Rozak)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...