by ifid|| 09 Juli 2026 || 90 kali
Yogyakarta, 3 Juli 2026 - Langkah-langkah kecil itu berjalan perlahan memasuki ruang pameran. Di antara lalu lalang ratusan pengunjung yang sedang menikmati setiap sudut galeri, rombongan anak-anak penyandang Down Syndrome tampak tak kalah antusias. Mata mereka bergerak ke berbagai arah, mengikuti permainan cahaya, warna, hingga instalasi yang memenuhi ruangan. Sesekali terdengar tawa ketika layar digital menampilkan gambar yang bergerak, sementara beberapa anak lainnya berhenti cukup lama di depan sebuah karya, seolah sedang mencoba memahami cerita yang tersimpan di baliknya.
Suasana itu menjadi potret bagaimana seni dapat dinikmati dengan cara yang berbeda. Melalui program Love ARTJOG, penyandang disabilitas diajak menikmati pameran dengan pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Program ini membuka kesempatan agar pengalaman mengapresiasi seni tidak hanya dimiliki oleh sebagian orang, tetapi juga dapat dirasakan oleh seluruh kalangan.
Koordinator Love ARTJOG, Broto Wijayanto, menjelaskan bahwa program tersebut berangkat dari keinginan sederhana, yaitu menghadirkan ruang yang setara bagi penyandang disabilitas.
"Teman-teman disabilitas juga memiliki hak yang sama untuk menikmati pameran. Mereka didampingi oleh pendamping yang tepat sehingga benar-benar bisa menikmati karya yang dipamerkan," ujarnya.
Pendampingan dilakukan dengan berbagai pendekatan. Pengunjung tunanetra memperoleh deskripsi visual mengenai karya yang mereka datangi, sementara penyandang tuli dan pengguna kursi roda didampingi dengan metode komunikasi yang sesuai. Dengan cara itu, setiap pengunjung dapat memahami karya melalui pengalaman yang paling dekat dengan kebutuhan mereka.
Menurut Broto, tur inklusi bukan hanya mengajak pengunjung berkeliling melihat karya seni. Lebih dari itu, pengalaman tersebut diharapkan mampu menumbuhkan ketertarikan terhadap dunia seni.
"Teman-teman bisa terinspirasi untuk membuat karya yang sama atau bahkan mengembangkan karya mereka sendiri. Orang tua yang mendampingi juga bisa menjadi pemantik agar minat anak-anak terhadap seni terus berkembang," ujarnya.
Harapan itu dirasakan langsung oleh Persatuan Orang Tua dengan Anak Down Syndrome (POTADS) Yogyakarta yang kembali mengikuti tur inklusi di ARTJOG. Tahun ini, sekitar 20 peserta yang terdiri dari anak-anak dan orang tua hadir memenuhi undangan untuk menikmati pameran bersama.
Bagi salah satu pengurus POTADS Yogyakarta, Nana, kegiatan seperti ini menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk memperoleh pengalaman baru di luar aktivitas sehari-hari.
"Anak-anak perlu sosialisasi, bertemu banyak orang, berada di lingkungan baru. Siapa tahu mereka jadi terinspirasi karena beberapa memang suka melukis. Mereka bisa berpikir, 'Oh, aku juga bisa membuat karya,” jelasnya.
Menurutnya, pengalaman berada di ruang pameran juga memberikan rasa percaya diri bagi anak-anak karena mereka diterima tanpa dipandang berbeda.
"Kalau di tempat umum kadang masih ada yang melihat anak-anak berbeda. Tapi di ARTJOG mereka diterima dengan sangat baik. Anak-anak merasa nyaman,” ujarnya.
Hal serupa dirasakan Salah satu orang tua, Supartini, ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya ketika melihat putrinya begitu menikmati setiap sudut pameran, Sesekali sang anak menunjuk layar digital yang menampilkan visual bergerak, kemudian kembali memandanginya dalam waktu yang cukup lama.
"Dia senang sekali. Yang paling disukai gambar-gambar yang bergerak di layar. Kalau nanti ARTJOG ada lagi, saya mau datang lagi," tuturnya.
Bagi Supartini, melihat anaknya antusias menikmati karya menjadi pengalaman yang berharga. Ruang pameran yang ramah membuat anak-anak bebas mengeksplorasi rasa ingin tahu mereka terhadap seni.
Tidak hanya melibatkan komunitas disabilitas, Love ARTJOG juga mengajak generasi muda untuk belajar mengenai seni inklusif melalui Program Residensi Pelajar. Para peserta dari SD, SMP, SMA/SMK dibekali pemahaman mengenai cara mendampingi penyandang disabilitas saat menikmati pameran.
Salah satu peserta residensi, Henokh Obey Kisangga, mengaku pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya terhadap seni.
"Menurut aku, seni itu universal. Seni itu untuk semua orang, baik penyandang disabilitas maupun bukan," Ujar Henokh.
Para peserta Residensi Pelajar diajari bagaimana menjelaskan karya kepada pengunjung tunanetra, memahami etika saat mendampingi pengguna kursi roda, hingga berkomunikasi dengan penyandang tuli. Pengalaman itu membuat mereka menyadari bahwa menikmati seni tidak selalu dilakukan dengan cara yang sama.
Hal senada disampaikan peserta lain, Muhammad Hatta Tsaqiifullah. Menurutnya, setiap orang memiliki cara berbeda untuk memperoleh informasi dari sebuah karya.
"Kalau teman-teman tunanetra, kita harus memvisualisasikan karya lewat cerita supaya mereka tetap bisa membayangkan karya itu," ujarnya.
Bagi para peserta residensi, mendampingi tur inklusi bukan hanya tentang mengenalkan karya seni, tetapi juga belajar memahami kebutuhan orang lain. Dari pengalaman tersebut, mereka melihat bahwa seni dapat menjadi ruang yang mempertemukan banyak orang tanpa memandang perbedaan.
Melalui Love ARTJOG, pengalaman menikmati pameran akhirnya menjadi lebih dari sekadar melihat karya yang dipajang di ruang galeri. Program ini menghadirkan ruang di mana setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk merasakan, memahami, dan menikmati seni dengan cara mereka masing-masing.
Di tengah ramainya ARTJOG, tur inklusi menjadi pengingat bahwa sebuah karya seni tidak hanya berbicara kepada mata, tetapi juga kepada rasa, pengalaman, dan kemanusiaan. Ketika ruang seni mampu menerima semua orang tanpa kecuali, saat itulah seni benar-benar menjadi milik bersama. (Juliana/Dewi/Fit)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...