by ifid|| 16 Juli 2026 || 177 kali
Sebuah memori sejarah acapkali terlipat oleh batas-batas administratif modern. Publik mungkin lebih mengenal Kabupaten Sragen saat ini sebagai bagian dari Provinsi Jawa Tengah, tempat berdirinya Museum Purbakala Sangiran. Namun, jika kita membidikkan lensa sejarah lebih presisi, menyesuaikan fokus pada kedalaman ruang (depth of field) peradaban Jawa abad ke-18, letak geografis yang dahulu bernama Bumi Sukowati ini menempati relung yang teramat istimewa dalam kacamata Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Hubungan ini bukan sekadar relasi antardaerah, melainkan ikatan "saudara tua" yang merajut asal-muasal berdirinya Kasultanan Yogyakarta. Kesadaran untuk kembali meniti jantra kesejarahan ini termanifestasi secara nyata dan menggugah dalam perhelatan Seminar Sejarah "Urgensi Hubungan DIY – Sragen 2026". Melalui momentum Muhibah Budaya 2026, jalinan yang sempat merenggang akibat intervensi kolonial di masa lampau kini direkatkan kembali. Sragen perlahan tapi pasti kembali diakui marwahnya sebagai rahim sejarah, tempat Pangeran Mangkubumi memulai gerilya besarnya.
Jauh sebelum tinta Perjanjian Giyanti (1755) ditorehkan di atas kertas, pergolakan politik di internal Mataram memaksa Pangeran Mangkubumi jengkar dari istana. Daerah yang menjadi jujugan pertama dan basis perlawanannya adalah tlatah Sukowati. Di wilayah inilah tepatnya di Pandak Karangnongko dan kemudian berpindah ke Jekawal, Tangen Sang Pangeran menyusun strategi logistik, menghimpun kekuatan, dan memimpin laskar gerilya.
Pemilihan Sukowati bukanlah sebuah kebetulan yang tanpa perhitungan. Manuver ini didasari oleh kecerdasan spasial Mangkubumi; kawasan ini merupakan jalur timur Mataram yang sangat strategis, sekaligus memiliki medan hutan dan sungai yang teramat menyulitkan mobilitas pasukan VOC yang terbiasa dengan lanskap terbuka. Di bumi Sukowati, Sang Pangeran mendapatkan apa yang menjadi nyawa dari setiap pergerakan gerilya: dukungan logistik dan kesetiaan mutlak dari masyarakat akar rumput. Sragen menempati posisi historis yang teramat spesial, karena tanpa dukungan logistik dan kesetiaan masyarakat Sukowati di masa itu, epos gerilya Pangeran Mangkubumi mungkin akan mencatat akhir yang berbeda.
Jejak perjuangan dan heroisme ini tidak dibiarkan menguap sekadar menjadi narasi lisan. Ia didokumentasikan dan diwujudkan dalam bentuk yang paling sakral bagi sebuah institusi keraton, yakni bangunan fisik. Bangsal Kamandungan yang berdiri megah dan menjadi ruang publik sentral di kompleks Keraton Ngayogyakarta hingga hari ini, sejatinya merupakan tetenger (penanda) otentik yang diboyong langsung dari Desa Krikilan, Masaran, Sragen. Membawa struktur kayu tersebut ke Yogyakarta adalah cara visual Sultan merawat ingatan institusional dari mana ia berasal dan di mana ia memulai segalanya.
Sebuah pertanyaan kritis kerap timbul di benak generasi masa kini: mengapa ikatan kultural yang begitu berurat akar ini seolah menguap dari kesadaran publik dalam dua abad terakhir?. Dalam sesi pendedahan materi, Sejarawan Universitas Gadjah Mada, Dr. Sri Margana, membedah hal ini dari sudut pandang strategi politik kolonial.
VOC dan kelak Pemerintah Hindia Belanda sangat menyadari bahaya laten dari persatuan Mataraman. Oleh karena itu, mereka merancang sebuah skema tata ruang politik yang dikenal dengan istilah tumpang paruk. Melalui sistem ini, wilayah direkayasa secara administratif dan dipecah silang. Sebuah distrik bisa dibagi dua porsi kekuasaannya antara Surakarta dan Yogyakarta, sebuah taktik yang sengaja diciptakan untuk melemahkan koordinasi internal, mempersulit mobilisasi pasukan, dan memecah loyalitas abdi dalem.
Puncak dari intervensi lanskap geografis ini terjadi usai Perang Jawa (1830). Melalui Perjanjian Klaten, terjadi "tukar guling" wilayah secara besar-besaran yang secara definitif mencabut Sukowati (Sragen) dari pangkuan administratif Yogyakarta, menyerahkannya sepenuhnya kepada Kasunanan Surakarta demi memutus rantai historis tersebut. Ini adalah sebuah evaluasi risiko ala kolonial untuk memastikan trah Mangkubumi tidak kembali membesar di timur.
Bukan sekadar sekutu di medan laga, masyarakat Sragen dan Yogyakarta sesungguhnya terikat dalam frame kekerabatan yang sangat intim, yakni pertalian darah. Hubungan genealogis ini terpusat pada sosok kharismatik Ki Ageng Derpoyudo, seorang panglima tangguh dari Sukowati yang dengan penuh kesadaran berpihak pada Mangkubumi.
Tokoh ini memberikan kontribusi ganda yang luar biasa. Ia tidak hanya menyumbangkan ketajaman strateginya di medan tempur, tetapi juga menyumbangkan darahnya langsung ke dalam jantung silsilah Kasultanan. Putri dari Ki Ageng Derpoyudo, yang kelak dikenal dengan gelar Kanjeng Ratu Ageng, diperistri oleh Pangeran Mangkubumi dan diangkat menjadi permaisuri. Dari rahim perempuan Sukowati inilah lahir seorang raja besar, Sri Sultan Hamengku Buwono II.
Konjungsi historis antara Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sragen terbukti melalui berbagai jejak konkret yang mencakup aspek fisik, genealogis, filologis, hingga toponimi. Secara fisik, keberadaan Bangsal Kamandungan di Keraton Yogyakarta merupakan bukti nyata karena bangunan tersebut diboyong langsung dari Desa Krikilan, Masaran, Sragen. Dari sisi genealogis, hubungan kedua wilayah diikat oleh figur Ki Ageng Derpoyudo, yang merupakan mertua dari Sri Sultan Hamengku Buwono I sekaligus kakek dari Sri Sultan Hamengku Buwono II, sehingga darah Sukowati mengalir langsung dalam silsilah Kasultanan. Selain itu, bukti filologis melalui Korpus Siti Dusun mencatat administrasi lahan serta Siti Mangkubumen di Sragen, yang diperkuat dengan eksistensi nama-nama desa seperti Krapyak, Mageru, dan Jetis yang masih lestari secara administratif hingga saat ini.
Ekskavasi memori masa lalu yang valid tidak hanya bersandar pada tembang dan babad, tetapi juga menuntut rujukan pada naskah-naskah birokrasi kuno. Di sinilah paparan Ahli Filologi, Rendra Agusta, memberikan resolusi tinggi terhadap narasi seminar. Beliau menemukan jejak tak terbantahkan melalui Korpus Siti Dusun sebuah kompilasi catatan agraria dan penataan wilayah di era Mataram Baru.
Dalam lembaran-lembaran naskah pudar tersebut, tercatat dengan rapi inventarisasi tanah-tanah perdikan dan area khusus yang disebut sebagai Siti Mangkubumen (Tanah Mangkubumi) yang secara geografis berada di wilayah Sragen. Menariknya, toponimi atau nama-nama desa kuno yang tercatat dalam manuskrip tersebut masih lestari dan bernapas hingga detik ini di peta tata ruang Sragen modern, seperti wilayah Mageru, Krapyak, dan Jetis.
Selain dokumen kertas, pembacaan ruang juga membuktikan hal serupa. Penemuan makam-makam kuno di wilayah Sragen bagian utara dengan mengadopsi gaya nisan Hamengkubuwonan semakin mengukuhkan fakta bahwa masyarakat setempat, secara batin dan kultural, pernah mengadopsi langgam budaya serta tata cara keraton Yogyakarta secara mendalam.
Menggali sejarah dan mengumpulkan rekam jejak visual masa lalu bukan sekadar upaya romantisisme masa silam, melainkan bahan bakar analitik untuk menggerakkan mesin kolaborasi antar-pemerintah di masa depan. Muhibah Budaya 2026 dan seminar sarasehan ini diproyeksikan dengan sangat serius menjadi pijakan awal (baseline) bagi penyusunan kajian akademis yang sistematis.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Laksmi Pratiwi, dalam sambutannya mengatakan, langkah-langkah konkrit birokrasi telah disiapkan. Melalui rekomendasi komprehensif dari seminar ini, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tengah merumuskan cetak biru kerjasama strategis dengan Pemerintah Kabupaten Sragen. Menggandeng sekitar 10 Organisasi Perangkat Daerah (OPD), sinergi ini dirancang cerdas untuk mendobrak sekat-sekat administratif, merambah pada sektor pariwisata terpadu, pengembangan UMKM kultural, dan optimalisasi ekonomi kreatif yang senantiasa berpijak pada pelestarian ruh Mataraman.
Lebih jauh, rekonstruksi kesejarahan Sukowati yang penuh daya juang ini akan diinternalisasikan ke dalam Grand Design Pendidikan Khas ke-Yogyakartaan. Sebuah modul yang akan menjamin bahwa generasi muda perlu memahami bahwa keistimewaan yang mereka saksikan hari ini di Yogyakarta tidak jatuh dari langit, melainkan ditempa di kawah candradimuka yang bernama Sragen.
Dengan mengevaluasi kembali catatan sejarah dan menyadari dimana letak akar sesungguhnya, diharapkan masyarakat di kedua wilayah pemerintahan ini mampu melangkah bersama dengan ritme yang selaras. Terus meniti jantra masa depan, sembari menggenggam erat kebanggaan sebagai pewaris sah luhurnya kebudayaan Mataraman.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...