Bertumbuh Berkarya, Berakar Budaya: Apresiasi Prestasi Seni dan Budaya Anak 2026

by ifid|| 16 Juli 2026 || 136 kali

...

Yogyakarta – Selasa pagi (14/7), Gedhong Pracimasana di Komplek Kepatihan Yogyakarta dipenuhi wajah-wajah muda yang datang dengan senyum bangga. Di balik balutan busana tradisional, alunan musik, dan tepuk tangan yang memenuhi ruangan, tersimpan perjalanan panjang anak-anak yang memilih bertahan di jalan kebudayaan. Mereka bukan sekadar penerima penghargaan, melainkan generasi yang sedang membuktikan bahwa budaya tetap memiliki tempat di hati anak muda.

Melalui Apresiasi Prestasi Seni dan Budaya Anak DIY 2026, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta memberikan penghargaan kepada anak-anak dan sanggar yang konsisten berkarya sekaligus melestarikan seni budaya. Piagam penghargaan, plakat, hingga dana pembinaan memang menjadi simbol apresiasi. Namun, yang jauh lebih berharga adalah pengakuan atas kerja keras, ketekunan, dan kecintaan mereka terhadap budaya yang telah tumbuh sejak usia dini.

Di antara para penerima penghargaan, Kinaryusi Meida Laksono menjadi salah satu sosok yang menunjukkan bahwa sastra Jawa mampu hidup di tangan generasi muda. Sejak duduk di bangku Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Dasar di Perguruan Tamansiswa Ibu Pawiyatan, Kinar telah akrab dengan dolanan anak, tembang, sastra Jawa, hingga karawitan. Lingkungan itulah yang perlahan menumbuhkan kecintaannya terhadap geguritan, cerkak, hingga penulisan naskah drama.

Bagi Kinar, penghargaan yang diterimanya bukanlah garis akhir dari perjalanan berkarya.

"Saya sangat senang sekali karena sebagai pelaku seni remaja di Yogyakarta, penghargaan ini menjadi semangat baru. Ini bukan puncak dari semuanya, justru awal untuk berkembang lebih baik lagi dan membuat karya-karya baru yang bisa dipahami lebih banyak orang," ungkap Kinar.

Di balik karya-karyanya, terdapat proses yang tidak selalu mudah. Ia mengaku tantangan terbesar bukan sekadar menulis, tetapi bagaimana menyampaikan isu-isu yang ada di sekitarnya dengan bahasa yang dekat dengan anak-anak dan remaja seusianya.

"Bagaimana caranya aku bisa mengekspresikan apa yang aku rasakan dengan bahasa anak-anak dan bahasa remaja, tetapi tetap bisa dipahami oleh orang lain," tuturnya.

Selama bertahun-tahun, konsistensi tersebut membuahkan berbagai prestasi. Mulai dari menjadi Duta Anak Kota Yogyakarta, menjuarai berbagai lomba geguritan, menulis cerkak dan naskah drama, hingga menerbitkan buku tunggal berisi kumpulan naskah lakon. Berbagai karya itu menjadi bukti bahwa sastra Jawa terus berkembang melalui tangan generasi muda.

Tak hanya di bidang sastra, semangat yang sama juga terpancar dari Gerardus Garda Gandara, penerima apresiasi di bidang seni musik. Sejak usia dua hingga tiga tahun, Garda tumbuh di lingkungan keluarga musisi. Musik bukan sekadar hobi, melainkan bagian dari kesehariannya.

Berbagai panggung telah ia jelajahi. Mulai dari kompetisi pianika tingkat nasional, pertunjukan jazz, tampil di Ngayogjazz, hingga menjadi pengisi acara Puncak Hari Guru Nasional di Velodrome Jakarta pada 2024. Namun, bagi Garda, penghargaan ini menghadirkan kebanggaan yang berbeda.

"Bangga karena ternyata aku dan teman-teman yang masih muda sudah mulai ikut melestarikan budaya Jawa," katanya.

Meski telah mengukir banyak prestasi, Garda mengaku tantangan terbesar justru datang dari dirinya sendiri.

"Tantangannya itu melawan rasa malas. Ditambah sekarang lagi masa peralihan suara, jadi harus belajar teknik nyanyi lagi dari awal," ujarnya sambil tersenyum.

Ke depan, ia ingin terus memperdalam musik sekaligus menggali budaya Jawa lebih serius. Di usianya yang baru menginjak 13 tahun, Garda juga mengajak teman-teman seusianya untuk kembali mencintai lagu anak dan lagu tradisional.

"Sekarang semakin sedikit anak-anak yang mendengarkan lagu tradisional. Harapannya, ayo kita kembali melestarikan dan mendengarkan lagu tradisional serta lagu anak-anak," pesannya.

Di balik capaian Garda, ada dukungan keluarga yang tidak pernah berhenti mengiringi. Sang ibu, Devita Ambar Koeswarawangi, mengaku penghargaan tersebut menjadi buah dari proses panjang yang dijalani anaknya sejak kecil.

"Rasanya senang dan bangga. Bisa sampai di titik ini tidak instan. Banyak proses, banyak latihan, banyak pengorbanan, bahkan kadang harus menangis. Sebagai orang tua kami hanya berusaha mendampingi dan menumbuhkan kecintaannya terhadap musik sejak kecil," ujarnya.

Apresiasi tahun ini juga diberikan kepada sejumlah sanggar yang selama puluhan tahun konsisten menjadi ruang belajar seni bagi anak-anak. Salah satunya adalah Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja, yang berdiri sejak 1958 dan hingga kini tetap setia mengembangkan tari kreasi baru karya Bagong Kussudiardja.

Ketua sanggar, Indiartari Kussnowari, mengatakan penghargaan tersebut menjadi penyemangat agar mereka terus bertahan di tengah perubahan zaman.

"Kami sangat senang karena seperti diberi kesempatan lagi. Ini menjadi cambuk bagi kami untuk terus melaksanakan pembinaan dan mencari cara agar anak-anak tetap tertarik pada seni budaya di era digital seperti sekarang," jelasnya.

Menurutnya, pendekatan kepada anak menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan seni. Ketertarikan yang lahir dari diri sendiri akan membuat mereka bertahan lebih lama dibandingkan paksaan.

"Kami selalu bertanya dulu kepada anak-anak, apakah mereka benar-benar senang menari. Kalau muncul dari hatinya sendiri, mereka akan terus belajar. Tapi kalau hanya karena paksaan, biasanya mereka tidak bertahan," ujarnya.

Apresiasi Prestasi Seni dan Budaya Anak DIY 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar seremoni penghargaan. Di balik setiap piagam yang diberikan, tersimpan kisah tentang latihan yang tak terhitung, dukungan keluarga yang tak pernah surut, dan tekad anak-anak untuk menjaga budaya tetap hidup di tengah derasnya arus zaman.

Sebab budaya tidak akan bertahan hanya karena diwariskan. Ia akan terus hidup ketika ada generasi yang memilih untuk mempelajarinya, mencintainya, dan dengan bangga melanjutkannya. Melalui langkah-langkah kecil para penerima apresiasi tahun ini, harapan itu tumbuh bahwa seni dan budaya Yogyakarta akan terus berakar kuat sekaligus berkembang bersama generasi penerusnya. (Juliana/Dewi/Ifit)

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta