by museum|| 20 Agustus 2026 || 182 kali
Magelang, 20 Agustus 2026 – Jejak sejarah dan kesenian Mataram Islam hadir lebih dekat dengan masyarakat melalui Pameran dan Jumpa Sahabat Museum MahaBandhana #4: Anyawiji Rasa X Wanuh Budaya Mataraman. Pameran yang digelar oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta ini resmi dibuka di GOR GEMILANG, Kompleks Setda Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Pameran ini menjadi bagian dari rangkaian agenda Muhibah Budaya sekaligus dukungan terhadap kegiatan Semarak Gemilang Kabupaten Magelang.
Pembukaan pameran dilakukan oleh Drs. Wisnu Argo Budiono, M.M. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang, bersama Dian Lakshmi Pratiwi, S.S. MA., Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY.
Dalam sambutannya, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S. MA. menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pameran yang tidak hanya menjadi ruang untuk mengenalkan sejarah dan kesenian, tetapi juga memperkuat kolaborasi pelestarian budaya antara DIY dan wilayah Mataraman, khususnya Kabupaten Magelang.
Mengusung tema Anyawiji Rasa, pameran ini mengajak pengunjung melihat warisan budaya bukan sekadar benda atau karya seni yang dipajang di ruang pamer. Lebih dari itu, setiap koleksi menjadi pintu untuk mengenali kembali ingatan, nilai, dan pengalaman budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Anyawiji Rasa dapat dimaknai sebagai penyatuan rasa dalam upaya mempertemukan ingatan masa lalu dengan kesadaran masyarakat masa kini. Melalui pendekatan tersebut, pengunjung diajak untuk tidak hanya melihat keindahan kesenian Mataram Islam, tetapi juga memahami nilai dan makna yang berada di baliknya.

Usai seremoni pembukaan, pengunjung mengikuti Kuratorial Tour yang dipandu oleh Kepala Seksi Permuseuman, Sony Saifuddin, S.S., M.A., bersama Asrofah Khusna, S.S., M.A., selaku kurator pameran.
Dalam tur tersebut, pengunjung diajak memahami alur cerita pameran sekaligus mendapatkan penjelasan mengenai latar belakang, makna, dan kisah di balik koleksi yang ditampilkan.
Memasuki ruang pamer, pengunjung diajak menyusuri linimasa Mataram Islam, melihat perjalanan sejarahnya, hingga menelusuri jejak yang menghubungkannya dengan Magelang dan wilayah Mataraman.
Cerita kemudian berlanjut pada perkembangan kesenian Mataram Islam yang hingga kini masih hidup dan terus bertransformasi dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Beragam tinggalan seni yang ditampilkan memperlihatkan bahwa kesenian bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia tetap hadir dalam kehidupan masyarakat—menjadi bagian dari ritus adat, ruang berbagi pengetahuan, hingga media dakwah dan pengajaran.
Karena itu, pameran ini tidak hanya menawarkan pengalaman melihat koleksi museum. Pengunjung juga diajak berdialog dengan sejarah dan memahami bagaimana warisan budaya terus menemukan bentuk baru di tengah kehidupan masyarakat masa kini.
Pameran ini berlangsung selama 20–22 Agustus 2026 dan terbuka untuk masyarakat umum.
Bagi pengunjung yang ingin menikmati pameran dengan cara yang lebih interaktif, tersedia berbagai aktivitas menarik. Ada permainan edukatif, kuis interaktif dengan pertanyaan seputar pameran, hingga photobooth gratis yang dapat menjadi souvenir dan kenang-kenangan.



Jadi, datang ke pameran ini bukan cuma untuk melihat koleksi. Pengunjung juga bisa bermain, belajar, berfoto, sekaligus mengenal lebih dekat perjalanan sejarah dan kesenian Mataram Islam.
Melalui Anyawiji Rasa, pameran ini diharapkan menjadi ruang bersama untuk bertemu, berbagi cerita, bertukar pengetahuan, sekaligus menumbuhkan kembali kedekatan masyarakat dengan warisan budaya.

Yuk, datang ke GOR GEMILANG, Kompleks Setda Kabupaten Magelang, 20–22 Agustus 2026. Selamat menjelajahi pameran, menyatukan rasa, dan menemukan kembali makna di balik warisan Mataram! (cup_muse)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by museum || 27 Januari 2020
Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY melalui Seksi Permuseuman telah memulai seleksi administrasi Pemilihan Duta Museum DIY tahun 2019 pada tanggal 21 Januari 2019. Dari Seleksi Administrasi ...
by museum || 04 Februari 2021
Selasa 2 Februari 2021, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY melalui Seksi Permuseuman mengadakan rapat koordinasi dengan Barahmus DIY dalam rangka pembuatan buletin permuseuman 2021. Pada tahun ...
by museum || 04 Februari 2021
source pic : https://kebudayaan.jogjakota.go.id/detail/index/858 Jogja selain merupakan kota pendidikan , kini juga merupakan Daerah Istimewa. Daerah yang menyimpan banyak sejarah, budaya dan ...