Wayang Wong Gaya Yogyakarta.

by admin|| 04 Maret 2014 || 28.812 kali

...


      Disebut juga ringgit jalma adalah drama tari yang membawakan cerita-cerita dari wiracarita Mahabarata (kemudian juga perpaduan antara Mahabarata dan Ramayana). Wayang wong gaya Yogyakarta diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwana I (1755-1792). Wayang wong gaya Yogyakarta mengalami puncak perkembangan dan mencapai bentuknya yang sempurna dan bulat pada zaman pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VIII (1912-1939). Pada masa 18 tahun di Istana Yogyakarta diproduksi pertunjukkan wayang wong sebanyak 15 lakon, yang sebagian bersumber pada wiracarita Mahabharata. Lakon dari wiracarita Ramayana hanya ditampilkan sebagai perpaduan antara Mahabharata dan Ramayana, yaitu lakon Semar Boyong, Rama Nitik dan Rama Nitis pada tahun 1933. Pertunjukan wayang wong di Istana Yogyakarta ada yang berlangsung selama empat hari berturut pada tahun 1923 (lakon Jayasemedi dan Sri Suwela) dan tahun 1925 (lakon Samba Sebit dan Suciptahening Mintaraga) serta yang terpendek selama satu hari. Pertunjukkan wayang wong selalu dimulai pukul 06.00 sampai pukul 22.00 atau 23.00, kemudian diteruskan esok harinya pada jam-jam yang sama.

      Pergelaran wayang wong secara besar-besaran di Istana Yogyakarta pada zaman pemerintahan Sultan hamengku Buwana VIII ialah :

1.       Tahun 1923 selama empat hari dengan lakon Jaya Semadi dan Sri Suwela

2.       Tahun 1925 selama empat hari dengan lakon Samba sebit dan Suciptaning mintaraga

3.       Tanggal 13 sampai 15 Februari 1928 (tiga hari) dengan lakon Parta krama, Srikandi Meguru Manah dan Sumbadra pralaya / Sumbrada larung.

4.       Tanggal 14 Juli 1929 selama satu hari dengan lakon Jayapusaka.

5.       Tanggal 26 Februari 1932 selama sehari dengan lakon Sumbadra pralaya.

6.       Tanggal 22 sampai 24 Juli 1933 (tiga hari) dalam bentuk gladi resik (dress rehearsal) dengan lakon Semar Boyong, Rama Nitik, dan Rama Nitis.

7.       Tanggal 18 sampai 20 Agustus 1934 (tiga hari) dengan lakon Semar Boyong, Rama Nitik, dan Rama Nitis.

8.       Tanggal 17 sampai 18 Januari 1937 (dua hari) dengan lakon Suciptahening Mintaraga.

9.       Tahun 1938 selama sehari dengan lakon Suciptahening Mintaraga.

10.   Tanggal 18 sampai 20 Maret 1938 (dua hari) dengan lakon Pregiwa-Pregiwati, Angkawijaya krama dan Pancawala krama.

11.   Tanggal 19 sampai 20 Agustus 1939 (dua hari) dengan lakonPragdamurti.

 

Wayang wong adalah benar-benar pertunjukan istama dan merupakan pertunjukan kaum ningrat, meskipun rakyat jelata juga diperkenankan untuk menyaksikan. Para penonton rakyat jelata ini harus mematuhi adat tata cara Kraton. Penonton wanita berkain pinjungan (mengenakan kain penutup dada) tanpa baju, dan penonton pria telanjang dada. Para penari wayang wong terdiri dari putera-putera sultan dan sanak saudara sultan serta para abdi dalem (hamba raja) yang bertugas khusus sebagai penari. Wayang wong meskipun menampilkan peranan-peranan puteri, tetapi selalu ditarikan oleh penari laki-laki yang masih remaja.

Tujuan utama dari penciptaan wayang wong oleh Sultan Hamengku Buwana I adalah estetis, yaitu keinginan sultan untuk menampilkan sebuah pertunjukan drama tari yang menggambarkan perbuatan-perbuatan kepahlawanan dari para kesatria yang terdapat dalam epos Mahabarata. Pada zaman Sultan Hamengku Buawa VII tempat pertunjuakan berada di depan (sebelah timur ) Bangsal Kencana yang disebut Tratag Bangsal  Kencana atau Tratag wetan (tratag sebelah timur).

Busana yang dikenakan para pemain wayang wong pada awal perkembangannya masih sangat sederhana. Meskipun demikian justru dengan kostum tersebut penari dituntut lebih berat dalam masalah penjiwaan. Karena tanpa bantuan  identitas khusus dari pakaian, penari harus mampu menampilkan tokoh yang dibawakannya antara tokoh yang satu dengan yang lain. Untuk hiasan kepala penari laki-laki pada waktu itu dipergunakan 3 macam corak yaitu : pertama dester tepen untuk peran prajurit dan ksatria., kedua songkok untuk peran raja, ketiga udeng gilig dengan topeng untuk peran raksasa. Hiasan kepala wanita hanyalah jamang, sumping ron dengan gelung bokor  (sanggul yang bentuknya menyerupai tempayan)

Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana VII terjadi pembaharuan dan perubahan dalam tata busana Wayang wong. Pakaian wayang wong diciptakan oleh K.R.T. Jayadipura, yang menggunakan tata busana wayang kulit sebagai pola dasarnya, sehingga memudahkan penonton untuk membedakan peran yang satu  dengan lainnya. Wayang wong memperoleh bentuknya yang utuh pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana VIII. Bahkan Sri Sultan Hamengku Buwana VIII sendiri sering dianggap sebagai “dalang” dalam pergelaran wayang wong, karena beliau sendiri sering terjun langsung mengawasi jalannya pergelaran, bahkan menyusun naskah lakon yang akan dipentaskan.

Artikel Terpopuler


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi ...



...
Raden Wedono Larassumbogo

by admin || 04 Maret 2014

Raden Wedono Larassumbogo, putra kedua dari R. Sosrosidurejo ini dilahirkan di Kampung Bumijo Yogyakarta  pada tanggal 27 Juli 1884 atau 12 Dulkongidah wawu 1813. Pada masa kecilnya ...



Artikel Terkait


...
Wayang Kulit

by admin || 01 April 2012

Wayang dalam bentuknya yang asli merupakan permainan bayangan kreasi orang-orang Jawa yang berisi aspek-aspek budaya Jawa. Wayang atau wayang kulit (permainan bayangan) telah ada sebelum masuknya ...


...
Wayang Wong

by admin || 01 April 2012

Dalam bahasa Jawa ‘wong’ berarti manusia. Jadi wayang wong berarti wayang yang diperankan oleh manusia. Cerita-cerita wayang wong sama dengan cerita-cerita wayang kulit namun fungsi dalang lebih ...


...
Wayang Tengul

by admin || 01 April 2012

Wayang golek atau wayang yang terbuat dari kayu tampil dalam bentuk boneka 3 dimensi. Cerita-ceritanya diambil dari cerita Menak. Masyarakat senang menonton pertunjukan ini karena gerakannya mirip ...





Copyright@2019

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta