KRT. SURYOHASMORO

by admin|| 10 Maret 2014 || 104.597 kali

...

 

 

KRT. SURYOHASMORO

 

 

KRT Suryohasmoro atau Mas Dadap adalah seorang dalang senior Yogyakarta kelahiran Kulonprogo,         7 Desember 1913 dengan nama Saroso. Tumbuh dan besar di tengah keluarga dalang mulai dari ayah, kakek, sampai buyutnya.

 

Pendidikannya sendiri hanya sampai SR kela V tahun 1924. Selanjutnya memasuki sekolah dalang Habirandha di Keraton Yogyakarta dan selesai tahun 1937. Meskipun demikian, sebenarnya ia sudah mulai bermain wayang sejak berusia 15 tahun. Layaknya orang yang terjun menjadi dalang, disamping mempelajari seni pedalangan itu sendii, ia pun  mempelajari cabang seni lainnya : karawitan, seni sungging wayang. Sebagai dalang, ia sudah menjelajah ke berbagai pelosok desa. Dan dari tahun 1935 sampai 1950, berkedudukan tetap sebagai dalang Keratn Yogyakarta.

 

Selain sebagai dalang, pada tahun 1940,ia  menjadi abdi dalem punggawa keraton Yogyakarta dengan pangkat jajar sampai mencapai pangkat  Kanjeng Raden Tumenggung sekarang ini.

Melihat silsilahnya Mbah Djeno termask pewaris keluarga empu secara turun-temurun dari mulai empu Ki Supodriyo jaman Majapahit. Keempuannya adalah proses panjang yang ditempuhnya sejak masa kecilnya. Sehabis pulang sekolah, Djeno biasanya membantu ayahnya membuat keris. Disinilah Mbah Djeno mendapatkan pelajaran tentang keris dan proses pembuatannya. Kebiasaan ini menumbuhkan minat dan kecintaan dalam dirinya pada keris.

 

Pada tahun 1963, ayahnya meninggal dunia. Saat itu ia mendapat firasat serta bermimpi membuat keris tiga kali bersama ayahnya. Baru pada tahun 1970, bersama kakaknya, Ki Empu Yoso PAngarso, ia akhirnya memutuskan kiprahnya sebagai pembuat keris di desa Jitar Sumberagung Moyudan Sleman, tahun 1990 kakaknya meninggal dunia.

 

Karya-karyanya diantaranya keris jenis jalak, jangkung, pendowo luk gangsal, sempana lukpitu, penimbal luk sanga, sabuk inten luk sewelas, parung sari luk telulas. Menurutnya masyarakat lebih banyak menyenangi baik untuk pusaka maupun koleksi adalah luk ganjil, itupun umumnya hanya sampai luk tiga belas. Karya-karyanya tersebut pernah diikutkan dalam event-event pameran di Keraton Yopgyakarta dalam pamrean tahunan dari tahun 1984-1988, Museum Sonobudoyo 1987, ISI tahun 1990 dan Pekan Raya Jakarta pada tahun 1990 Bersamaan dengan pameran kerisnya tahun 1983 dan 1987, ia pun menjadi nara sumber dalam sesi ceramah.

 

Sebagai upaya melestarikan tradisi keris yang sekarang tergolong sangat langka, Ki Empu Djeno Harumbrojo juga memberikan kursus-kursus kepada orang-orang di sekelilingnya, tak terkecuali keluarganya.

Atas keahliannya dan pengabdiannya pada pelestarian tradisi keris ini, Ki Djeno Harum Brojo mendapatkan beberapa penghargaan, dari Kraton Yogyakarta sebagai peserta pamrean dari 1984-1988, piagam seni dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta 1985, dari Pemda Sleman 1988.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artikel Terpopuler


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi ...



...
Raden Wedono Larassumbogo

by admin || 04 Maret 2014

Raden Wedono Larassumbogo, putra kedua dari R. Sosrosidurejo ini dilahirkan di Kampung Bumijo Yogyakarta  pada tanggal 27 Juli 1884 atau 12 Dulkongidah wawu 1813. Pada masa kecilnya ...



Artikel Terkait


...
Nama Seniman, Sastrawan, Dan Budayawan

by admin || 01 April 2012

NAMA SENIMAN, SASTRAWAN DAN BUDAYAWAN DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN 2002 1.R.M. Bagong Kussudiardjo, Jl. Singosaren no. 9, Yogyakarta Yogyakarta, 9 Okt 1928, ...


...
Bagong Kussudihardjo

by admin || 01 April 2012

Bagong Kusudiardjo, Lahir di Yogyakarta merupakan sosok kontroversial dunia kesenian Indonesia, khususnya seni tari,  dan seni rupa, seperti Kakeknya yang tidak lain putra HB VII, ia membelot ...


...
Atmorejo

by admin || 04 Maret 2014

Laki-laki kelahiran Yogyakarta tahun 1924 ini terkenal sebagai seniman ketoprak RRI Nusantara II Yogyakarta. Biasa dipanggil Atmo Kemin atau cukup Kemin saja, memulai perjalanan ...





Copyright@2019

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta