Ramayana Ballet Purawisata

by admin|| 01 April 2012 || 24.925 kali

...

Ramayana Ballet Purawisata adalah group Ramayana generasi III setelah Ramayana Prambanan dan Ramayana Sompilan. Ramayana Sompilan sudah tidak lagi menggelar pentas rutinnya sejak akhir tahun 1974. Dengan tidak adanya pentas Ramayana maka sajian seni yang ada di Yogyakarta untuk wisatawan Asing di malam hari hanyalah Wayang Kulit di Ratna Kriyasta di depan Hotel Ambarrukmo.

Sementara di THR Sasanasuka dipentaskan Wayag Orang yang dipimpin oleh Dahanan, Kepala Seksi Kesenian THR Sasana suka Yogyakarta. Akan tetapi sajian Wayang Orang tidak diminati oleh wisatawan asing karena kendala bahasa.

Penonton wayang orang boleh dikatakan tidak berkembang, semakin hari semakin menurun. Akibatnya income yang masuk tidak mencukupi untuk operasional sehari-hari. Kehidupan wayang orang hanya menggantungkan subsidi dari Pemerintah yang sangat terbatas.

Melihat keadaan bahwa di Yogyakarta belum ada atraksi wisata untuk wisatawan asing yang dipentaskan secara rutin dan minimnya income wayang orang, maka lahirlah gagasan dibenak Dahanan untuk mengadakan pertunjukan ekstra yang berbentuk sendratari sebelum pementasan wayang orang, dengan harapan wisatawan asing dapat menikmati. Untuk merealisir gagasan tersebut, Dahanan meminta Marcus Pardiman, seorang penari muda yang berbakat dan Suyadi untuk menghimpun penari-penari muda lainnya. Pada waktu itu mencari penari Ramayana bukanlah hal yang mudah. Dengan susah payah akhirnya terkumpulah sejumlah penari berbakat, antara lain Tugas Kumorohadi, Budiharto, B, Djoko Suseno, Budi Hartini, Tanti Sri Susanti, Toni, Walujohadi dan penari-penari wayang orang yang dianggap mampu.

Pada tanggal 10 Agustus 1976 organisasi Ramayana THR Sasanasuka sebagai sekstra pertunjukan wayang orang dinyatakan berdiri secara adat (omne vivum ex ovo).

Hari demi hari income wayang orang yang diserati ekstra pertunjukan Ramayana semakin meningkat dan dapat menghidupi seluruh anggotanya. Akan tetapi sebagian “warga senior” yang tergabung dalam Wayang Orang, meminta agar pentas wayang orang dan Ramayana dipisahkan karena mereka beranggapan wayang orang dapat menghasilkan income yang memadai tanpa tambahan pentas Ramayana. Akhirnya pada bulan Juni 1979, Ramayana THR Sasanasuka harus pindah untuk pentas di panggung lain dengan hanya diikuti beberapa penari muda, diantaranya Sugeng Trisulo yang harus berperan ganda sebagai pelatih dan sutradara, Tanti Sri Susanti sebagai sinta, Entam Pujirahayu sebagai Trijatha, Sunarsih sebagai Kijang, Sigit sebagai Rahwana, Yoyok CHK sebagai Jatayu, Supriyanto sebagai Marica, Moch Dachroni sebagai Honoman, Heru sukamto sebagai rama, Bambang dan Subagyo sebagai Lesmana. Karena kekurangan penari, maka Sugeng Trisulo merekrut pemuda-pemuda yang sama sekali tidak memiliki keahlian menari untuk dilatih menjadi penari figuran, yang selanjutnya mampu menjadi penari character. Pentas Ramayana Ballet ini dapat berjalan sebagaimana mestinya dan menghasilkan income sebagaimana mestinya.

Pada medio 1984, Ramayana THR Sasanasuka bekerjasama dengan TV ZDF Jerman Barat, sehingga dapat ditayangkan dan “dikenal” di daratan Eropa. Kemudian pada bulan Juli sampai dengan September 1985, sebagian anggota Ramayana THR Sasanasuka mengikuti festifal tingkat internasional, Festival Mondial du Folkore di Eropa. Misi ini dipimpin langsung oleh Dahanan atas undangan Monseour Jean Proux dari Montoir Perancis. Dengan demikian nama Ramayana THR Sasanasuka semakin dikenal di tingkat internasional.

Sebagian anggota Ramayana THR Sasanasuka yang lain tetap konsisten melaksanakan pentasnya di THR Sasanasuka dipimpin oleh FX. Sutjipto sebagai penanggungjawab pentas dan Daljuri Genjur sebagai penanggungjawab karawitan. Akan tetapi sekembalinya dari Eropa, kawasan THR Sasanasuka Yogyakarta, yang menjadi tempat berpentas Ramayana THR Sasanasuka dibongkar karena kontrak tempat tersebut sudah habis. Meski demikian Ramayana masih mampu mengadakan pentasnya dengan menempati gedung yang dikelola Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Tapi keadaan sudah tidak seperti dulu lagi karena income yang diperoleh semakin menurun.

Pada Agustus 1988, kawasan THR Sasanasuka dikontrak oleh PT. Ganesha Dwipaya Bhakti dari Jakarta dengan penanggungjawab Taufik Hidayat, yang selanjutnya tempat bernama Purawisata, dimana Ramayana THR Sasanasuka menjalin kerjasama hingga saat ini. Selanjutnya nama Ramayana THR Sasanasuka pun diubah menjadi Ramayana Ballet Purawisata.

Nasib baik masih belum berpihak pada Ramayana Ballet Purawisata karena jumlah penonton belum seperti yang diharapkan. Hingga Februari 1992 Purawisata menerjunkan sala satu stafnya, seorang budayawan yang cukup dikenal yaitu Azwar A.N., untuk bersama-sama dengan Dahanan membenahi manajemen yang ada di Ramayana. Dalam penyempurnaan Manajemen tersebut muncullah tokoh-tokoh penari baru dalam tim, antara lain Murwadi seorang Sarjana Tari lulusan IKIP Yogyakarta sebagai sutradara dan Suwarjiyo sebagai penata tari.

Kerjasama Dahana, Azwar A.N, Muwardi dan Suwarjiyo membuahkan hasil, terbukti dengan meningkatnya kunjungan wisata sesuai yang direncanakan sehingga predikat Ramayana Ballet Purawisata sebagai the best in town tidak dapat dipungkiri.

Selain predikat tersebut, Ramayana Ballet Purawisata juga mendapat berbagai macam penghargaan atas kesetiaan dan kepedulian Ramayana Ballet Purawisata terhadap seni dan budaya. Pengahargaan terakhir yang diterima adalah penghargaan dari Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Yogyakarta dan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Penghargaan dari Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Yogyakarta diserahkan pada tanggal 12 Oktober 2001. Selanjutnya pada tanggal 8 Nopember 2002, Ramayana Ballet Purawisata mendapat penghargaan dari MURI sebagai satu-satunya group Ramayana Ballet yang telah berpentas selama 25 tahun setiap malamnya tanpa berhenti.

Dalam pementasan Ramayana full story, saat ini Ramayana Ballet Purawisata didukung oleh 33 orang penari, 25 orang pengrawit dan 8 orang kerabat kerja.

Sampai dengan tanggal 10 Agustus 2002 esok, secara definitif pentas-pentas Ramayana Ballet Purawisata telah berjalan selama 26 tahun (9.490 hari) terus menerus tanpa henti, walaupun secara defacto, pentas-pentasnya telah berlangsung lebih dari kurun waktu tersebut.

 

Artikel Terpopuler


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi ...



...
Raden Wedono Larassumbogo

by admin || 04 Maret 2014

Raden Wedono Larassumbogo, putra kedua dari R. Sosrosidurejo ini dilahirkan di Kampung Bumijo Yogyakarta  pada tanggal 27 Juli 1884 atau 12 Dulkongidah wawu 1813. Pada masa kecilnya ...



Artikel Terkait


...
Langen Mandra Wanara

by admin || 01 April 2012

Langen Mondro Wanoro adalah kombinasi dari beberapa cabang tarian, lagu, drama dan musik gamelan. Kesenian ini adalah bentuk kesenian tradisional yang merupakan keistimewaan Yogyakarta. Karakteristik ...


...
Jatilan

by admin || 01 April 2012

Para penari Jatilan menggunakan kuda-kudaan tipis yang dibuat dari anyaman bambu. Tarian selalu ditampilkan di luar ruangan dengan diiringi musik khusus yang menggunakan sebagian instrumen gamelan ...


...
Angguk Putri

by admin || 01 April 2012

Tari Angguk merupakan tarian rakyat tradisional yang dibawakan secara berkelompok. Tarian ini mengambil cerita dari Serat Ambiyo dengan kisah Umarmoyo- Umarmadi dan Wong Agung Jayengrono. Durasi ...





Copyright@2019

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta