Tedhak Siten, Kelahiran

by admin|| 01 April 2012 || 23.093 kali

...

Upacara tedhak siten di selenggarakan pada saat ana berusia kira � kira 9 bulan. Pada waktu itu anak secara resmi turun ke tanah atau menginjak tanah. Adapun tempat upacaranya di rumah orang tua anak yang bersangkutan. Upacara seperti ini yaitu upacara yang berwujud kenduri biasanya di selenggarakan di serambi rumah, rumah bagian depan at di pendapa, sedangkan keperluan lain yang ada rangkaiannya dengan upacara itu di selenggarakan di gandhok rumah, rumah bagian kabelakang. Beberapa pihak yang terlibat dalam upacara adalah si anak tersebut dan orang tua serta kakek dan nenek. Upacara ini juga melibatkan sanak keluarga dan tetangga. Perlengkapan kenduri terdiri dari nasi tumpen, gudhangan , jenang abang putih, jenang baro � baro, jajan pasar, sega gurih, dan ingkung ayam. Kelengkapan lainnya adalah jadah 7 tetel manca warni: merah, putih, hitam, kuning, biru, merah muda, dan ungu. Ada kembang setaman di letakkan di bokor, tangga yang terbat dari tebu rejuna, pranji (kurungan ayam jantan) yang di hias dengan janur kuning. Di sediakan pula padi kapas, beras kuning, sekar telon, bokor yang berisi perhiasan gelang, kalung, dan cincin. Upacara tedhak siten di laksanakan pagi hari. Menjelang pelaksanaa, para pinisepuh berkumpul di serambi rumah (rumah bagian depan) untuk kenduri (kepungan ambeng) yang di pimpin oleh Pak Kaum selaku pembaca doa. Sesudah itu di halaman rumah di selenggarakan upacar tedhak siten lengkap dengan ubarampe, sang anak segera di bawa keluar rumah di mana upacara di selengarakan. Mula � mula sang anak di tetah agar berjalan menginjak jadah aneka warna (tujuh tetel). Sesudah itu, di tetah memanjat tangga tebu, mulai dari anak tangga yang paling bawah sampai anak tangga yang paling atas. Begitu sampai di atas, lalu di turunkan lagi, seterusnya sang anak di masukkan ke dalam kurungan ayam jantan yang di dalamnya di taruh bokor � bokor yang berisi barang perhiasan agar sang anak bisa bermain dengan puas. Begitu usai bermain � main , anak di keluarkan dari kurungan ayam , lalu di mandikan dengan air dari dalam bokor yang telah di campur dengan kembang setaman. Tahap berikutnya, tubuh anak tersebut di keringkan dan di beri pakaian yang bagus Usai upacara tersebut, bokor yang berisi beras kuning dan beberapa uang logam beserta seluruh isinya di sebar di halaman. Ada beberapa pantangan yang harus di hindari, misalnya saja wanita yang menyusui bayinya tidak boleh makan yang serba daging agar tidak cepat datang bulan (menstruasi) lagi. Sesungguhnya ini secara implisit merupakan langkah antisipatif terhadap proses terjadinya kehamilan. Larangan lainnya berlaku untuk bayi yang masih lembut jangan di bawa berpergian. Beberapa perlengkapan yang di siapkan di dalam upacara tedhak siten mengandung lambang atau makna khusus. Jadah manca warni melambangkan dunia atau lingkungan hidup yang beraneka warna yang mau tidak mau kelak akan di tempuh sang anak. Kurungan ayam merupakan simbol bahwa dunia (alam) dimana kita hidup mengenal batas � batas. Manakala kita keluar dari rambu � rambu tersebut niscaya akan tertimpa bencana. Kuruangan aam juga di maksudkan untuk menghalangi ancaman bencana gaib yng mungkin akan mendera kehidupan sang anak. Tangga yang terbuat dari tebu mengandung makna keteguhan hati (tekad) untuk menjalani jenjang kehidupan hingga mencapai taraf keluhuran derajad maupun budi. Tebu bermakan keteguhan hati. Tebu berasal dari kata antebing kalbu, yakni keteguhan hati. Tebu Arjuna (rejuna) menyiratkan agar dalam menjalani jenjang kehidupan , sang anak senantiasa bersikap manis, mengalami nasib yang baik, dan serba menyenangkan. sesuai buku: upacara daur hidup di daerah istimewa yogyakarta jilid I, dinas kebudayaan provinsi diy, 2005

Artikel Terpopuler


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi ...



...
Raden Wedono Larassumbogo

by admin || 04 Maret 2014

Raden Wedono Larassumbogo, putra kedua dari R. Sosrosidurejo ini dilahirkan di Kampung Bumijo Yogyakarta  pada tanggal 27 Juli 1884 atau 12 Dulkongidah wawu 1813. Pada masa kecilnya ...



Artikel Terkait


...
Nglimani, Kehamilan

by admin || 01 April 2012

Upacara ini bertujuan memohon keselamatan baik untuk si anak maupun ibunya (orang tuanya) Perlengkapan upacara Golongan bangsawan: tumpeng robyong, nasi kebuli, nasi punar, uler-uleran, ketan ...


...
Mitoni atau tingkeban, Kehamilan

by admin || 01 April 2012

Upacara ini bertujuan menolak bala dan mohon keselamatan Perlengkapan upacara Golongan bangsawan : Sajen: tumpeng robyong, tumpeng gundul, sekul asrep-asrepan, ayam hidup, sebutir kelapa, lima macam ...


...
Brokohan, Kelahiran

by admin || 01 April 2012

Upacara ini bertujuan memohon keselamatan dan agar bayi menjadi anak yang baik Perlengkapan upacara: Golongan bangsawan: dawet, telur mentah, jangan menir, sekul ambeng, nasi dengan lauk, jeroan ...





Copyright@2019

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta