Masa Kecil Jenderal Sudirman

by museum|| 31 Maret 2022 || || 7.081 kali

...

Jenderal Sudirman lahir pada 24 Januari 1916 dari pasangan Karsid Kartowiradji dan Siyem. Sudirman telah diangkat sebagai anak oleh R. Cokrosunaryo, Asisten Wedana (Camat) di Rembang, Distrik Cahyana, Kabupaten Purbalingga, yang menikah dengan bibi Sudirman, Turi.

Kehidupan Sudirman pada masa kecil cukup sederhana. R. Tjokrosunaryo mendidik Sudirman dengan penuh disiplin. Ia mengajari Sudirman bagaimana menepati waktu dan menggunakan uang saku sebaik-baiknya. Ia mendidik Sudirman untuk bisa membagi waktu antara belajar, bermain, dan mengaji. Sopan santun priyayi yang tradisional juga diajarkan oleh Ibu Tjokrosunaryo.

 

 

Sudirman adalah anak yang taat dan patuh pada orangtua kandung dan orangtua angkatnya. Wejangan beliau-beliau diresapinya dalam kalbu dan berusaha mewujudkannya. Petuah-petuah sopan santun dari ayah angkatnya menjadikan Sudirman seorang yang disiplin. Aturan mengenai tingkah laku seorang bagawan pun membentuk kepribadian baginya. Ia menjadi orang yang taat betul pada agama, berlaku adil dan jujur, serta sabar dan menerima (Bahasa Jawa: narimo ing pandum).

Pada suatu sore setelah azan magrib, R. Cokrosunaryo membawa Sudirman yang berusia 7 tahun ke rumah Meneer Sumoyo (sebutan guru pada waktu itu adalah Meneer). Beliau merupakan tokoh Budi Utomo yang mendirikan perguruan Pramo Wiroro yang kemudian diganti menjadi Wiworotomo. Berkat bantuan dan nasihat beliau lah Sudirman dapat mengenyam pendidikan di Hollandsche Inlandsche School (HIS) yang setingkat Sekolah Dasar di Cilacap.

 

 

Selama mengikuti pendidikan di HIS, Sudirman termasuk anak yang biasa dan tidak menonjol. Sekolahnya berjalan lancar dari kelas 1-5. Saat kelas 6, ia kurang senang dengan HIS dan ingin pindah ke Wiworotomo. Keinginan tersebut ditolak karena nasihat orangtuanya. Secara kebetulan, saat Sudirman duduk di kelas 7, Suwandi dan Suwondo mendirikan sekolah Taman Siswa. Banyak anak-anak yang tertarik ke Taman Siswa karena pada Minggu dan hari libur, bahkan hari-hari biasa pun murid-murid Taman Siswa dibawa naik mobil Ford saat sore hari. Sudirman sebagai anak sebaya dengan teman-temannya pun keluar dari sekolahnya dan pindah ke Taman Siswa.

Malang baginya karena tidak sampai satu tahun, sekolah Taman Siswa ini bubar dan Sudirman tidak diterima kembali ke HIS. Kemalangan tersebut kemudian diikuti terkabulnya keinginan Sudirman sebelumnya, yaitu ia masuk sekolah Wiworotomo.

Di samping wejangan-wejangan dari orangtuanya dan pengetahuan dari sekolah dalam masa pembentukan pribadinya, Sudirman juga belajar agama setiap sore. Ilmu agama tersebut diperolehnya dari sebuah surau yang tidak jauh dari rumah. Dasar-dasar bekal hidup yang diterima Sudirman pada masa kecilnya itulah yang membentuk pribadinya.

Sumber: Dinas Sejarah TNI AD. 1985. Sudirman: Prajurit TNI Teladan. Jakarta: Dinas
               Sejarah Angkatan Darat.

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Raden Ayu Lasminingrat Tokoh Intelektual Pertama

by museum || 24 Oktober 2022

Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...



Berita Terkait


...
SEMINAR PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM TOKOH PEWAYANGAN NUSANTARA: JEJAK, PERAN, DAN RELEVANSI

by museum || 03 Maret 2021

Halo Sahabat MuseumKeterlibatan perempuan di berbagai bidang turut dikemas dalam lakon pewayangan. Mulai dari berperang, berpolitik, dan berkeluarga. Setiap tokoh wayang perempuan digambarkan dengan ...


...
Workshop Membuat Poster Pendidikan dan Koleksi MPI UNY

by museum || 09 Maret 2021

Di masa pandemi ini banyak museum yang tutup dan tidak menerima kunjungan sementara. Duta Museum DIY harus tetap mempromosikan museum dengan mengadakan acara Jumpa Sahabat Museum melalui berbagai ...


...
Duta Museum DIY : Free Modelling Class Museum Tembi Rumah Budaya

by museum || 16 Maret 2021

Pada hari Jum'at, 12 Maret 2021 telah berlangsung kegiatan "Free Modelling Class" yang diinisiasi oleh Jossephine Daniella Iki selalu Duta Museum Untuk DIY 2020 untuk Museum Tembi Rumah Budaya. ...





Copyright@2024

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta