PERISTIWA PENCULIKAN DAN GUGURNYA PAHLAWAN REVOLUSI BRIGADIR JENDERAL KATAMSO DAN KOLONEL SUGIYONO

by museum|| 25 Mei 2023 || || 5.615 kali

...

 

Pada tanggal 1 Oktober 1965 sekitar pukul 16.00 WIB datanglah kendaraan Gaz masuk pekarangan dan berhenti dirumah kediaman Kolonel Infantri Katamso. Oleh Sumardi diperintahkan supaya Sugimin menunggu di halaman, yang ikut pada waktu itu ialah Anggra dan Kamil. Sumardi dan Kamil masuk kedalam rumah menemui seseorang yang berpakaian preman dan pada waktu itu sedang berbicara dengan seseorang berpakaian seragam hijau. Tidak lama kemudian orang yang berpakaian preman tersebut menuju kendaraan Gaz dan dipersilahkan naik yang diikuti oleh Sumardi, Kamil, dan Sugimin.

Pada jam 18.00 tanggal 1 Oktober 1965, kendaraan Letnan Kolonel Sugiyono memasuki Korem 72. Ia baru saja dari Semarang, dan ketika di Bawen bertemu dengan kendaraan Pangdam VII/Diponegoro Brigadir Jenderal Suryosumpeno. Ia masuk keruang Sie II, bertemu dengan Mayor Kartawi dan Mayor Mulyono. Ia bermaksud memberi arahan kepada Perwira-perwira terkait dengan peristiwa yang terjadi di Semarang dan Jakarta.

‘Kep’ panggilnya kepada Kapten Kusdibyo. “Kumpulkan semua Perwira yang ada, katakan ada briefing dari saya. Saya tadi dari Semarang bertemu dengan Panglima beliau menceritakan apa yang telah terjadi di Semarang. Dan saya tadi langsung ke rumah Pak Katamso, tapi katanya sudah diambil anak-anak Yon ‘L’ pada jam setengah empat tadi. Beritahu juga Mayor Mulyono dan Kartawi, mereka ada di Seksi II”. Pada saat itu juga hadir Kapten Sukarman dan beberapa orang lagi. Kapten Kusdibyo tidak menjumpai Mayor Mulyono dan Kartawi di tempatnya, Mayor Kartawi sendiri dilihatnya sudah berada diruang piket.

Pada saat waktu itu, isteri dari Kolonel Sugiyono mendengar suara terakhir suaminya lewat telepon dan berkata, “Bu, saya sudah datang dari Semarang, tetapi belum dapat pulang kerumah, masih sibuk dikantor dan masih banyak yang harus dikerjakan”.

Singkat cerita, kemudian datanglah Peltu Sumardi dengan beberapa orang anak buahnya memasuki kamar Letnan Kolonel Sugiyono. Dengan pistolnya mengancam Perwira tersebut. Letnan Kolonel Sugiyono dibawah ancaman dan kemudian terpaksa mengikuti perintah mereka. Peltu Sumardi pun menyerahkan Kolonel Katamso dan Letnan Kolonel Sugiyono kepada Komandan Batalyon ‘L’, Mayor Wisnuraji di Markas Komando Batalyon ‘L’ Kentungan.

Jam 24.00 WIB,  Peltu Sumardi membangunkan Pelda Kamil, Perwira Penyelidik Batalyon ‘L’ dan memerintahkan untuk melakukan pembunuhan atas Kolonel Katamso dan Letnan Kolonel Sugiyono. “Persoalannya, apakah beliau-beliau ini harus dibunuh ?”, tanya Kamil. “Jam ini, atas perintah Komandan Batalyon yang harus dikerjakan. Perintah beliau, pembunuhan ini jangan sampai dilakukan dengan bersuara”, kata Sumardi melanjutkan.

Pelda Kamil sendiri hanya mendapat tugas sebagai pengawas dalam pelaksanaan pembunuhan ini, Sertu Alip Toyo, Dan Ru Mortir 8 Kompi Bantuan Batalyon ‘L’ mendapat tugas sebagai algojo menurut petunjuk-petunjuk Pelda Kamil.

“Pukul mereka dengan kunci Mortir 8 dan tunggu di tempat dalam jarak ± 15 meter dari lubang. Kalau Kolonel Katamso dan Letkol Sugiyono sudah turun dari Gaz pukul dari belakang dangan alat-alat itu”, sambung Sumardi. Selanjutnya ia memerintahkan Alip Toyo, Darmo, Katimin dan seorang lagi untuk menunggu di lubang. Tak lama kemudian datanglah mobil Gaz dari arah utara yang dikendarai oleh perwira lain. Setelah berhenti, Letkol Sugiyono turun, dan beliau masih menggunakan pakaian seragamnya tadi, mendadak Letkol Sugiyono dipukul dari belakang dengan kunci Mortir 8, ia  jatuh tersungkur dan Alip Toyo sendiri lalu pergi, Pelda Kamil memerintahkannya untuk mengangkut Letkol Sugiyono untuk dimasukkan ke dalam lubang yang telah disiapkan.

Gaz kedua pun datang dan membawa Kolonel Katamso, ia berjalan ke Barat. Tetapi pukulan kunci mortir menimpa bagian belakang kepalanya. Kolonel Katamso pun jatuh tersungkur dan tergeletak di tanah. Melihat Kolonel Katamso masih hidup, Pelda Kamil memerintahkan, “pukul kembali sekali lagi sampai mati”. Untuk kedua kalinya Sertu Alip Toyo memukul sampai Pak Katamso gugur. Sementara itu Pak Sugiyono yang sudah didalam lubang masih hidup, terdengar suara dengkuran. Untuk menghabiskan nyawanya, Alip melemparkan batu-batu besar ke dalam lubang tersebut dan dengkuran Letkol Sugiyono berhenti.

Perwira-perwira menengah ini dikuburkan oleh para algojo PKI disuatu perkarangan ditepi pagar. Diluar pagar sendiri terdapat suatu jalan desa yang tidak diaspal. Jalan tersebut menuju ke suatu kampung, dimana banyak tinggal Pemuda Rakyat. Banyak orang yang lewat dijalanan itu mengatakan bahwa didekat pagar itu selalu ‘tercium’ bau busuk. Baru setelah seorang pembunuhnya tertangkap dan memberi keterangan-keterangan, dapat diketahui dimana kira-kira jenazah-jenazah yang teraniaya dikubur secara rahasia, tetap titik tepat belum diketahui. Para anggota Angkatan Bersenjata pun dikerahkan untuk mencarinya. Dalam perkarangan yang dipagari dengan baik itu mengalir air pembuangan dari kamar mandi. Dibelokkan pada jalur air yang terdapat gundukan tanah yang telah ditanami ubi jalar. Para petugas pun curiga akan gundukan tanah yang ditanami itu. Mereka pun mengadakan penggalian pada gundukan tersebut. Sedalam pinggang telah dapat ditemukan dalam sebuah lubang yang satu membujur ke Timur dan yang satu membujur ke Barat. Kaki kedua jenazah itu saling bertemu dan berimpitan, dekat dari masing-masing jenazah terdapat batu-batu besar. Dan ditemukan dengan kondisi masih menggunakan seragam, dimana bagian jenazah dari punggung ke bawah masih utuh dan pinggang keatas sebagian rusak. Jenazah tersebut segera diangkut dan dibersihkan dirumah sakit dengan hati-hati, yang bernama Rumah Sakit Tentara-DKT. Kemudian disemayamkan di Korem 72, sehingga pada tanggal 22 Oktober 1965 dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta, dengan Inspektur Upacara Panglima Kodam VII/Diponegoro, Brigadir Jenderal Suryosumpeno.

Sumber : Buku Panduan Monumen Pahlawan Pancasila oleh Dinas Sosial DIY, 1991.

 

Bagaimana sobat museum, masih penasaran akan cerita lainnya ? Yuk, langsung saja berkunjung ke Museum Monumen Pahlawan Pancasila yang ada di Kentungan, dan kalian bisa menikmati serta membaca buku-buku sejarah yang tersedia di mini perpustakaannya.

Salam Sahabat Museum, Museum di Hatiku!

 

(Ade Amalia, S.Par, Duta Museum DIY 2022 untuk Museum Monumen Pahlawan Pancasila)

 

 

 

Berita Terpopuler


...
Raden Ayu Lasminingrat Tokoh Intelektual Pertama

by museum || 24 Oktober 2022

Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...



Berita Terkait


...
SEMINAR PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM TOKOH PEWAYANGAN NUSANTARA: JEJAK, PERAN, DAN RELEVANSI

by museum || 03 Maret 2021

Halo Sahabat MuseumKeterlibatan perempuan di berbagai bidang turut dikemas dalam lakon pewayangan. Mulai dari berperang, berpolitik, dan berkeluarga. Setiap tokoh wayang perempuan digambarkan dengan ...


...
Workshop Membuat Poster Pendidikan dan Koleksi MPI UNY

by museum || 09 Maret 2021

Di masa pandemi ini banyak museum yang tutup dan tidak menerima kunjungan sementara. Duta Museum DIY harus tetap mempromosikan museum dengan mengadakan acara Jumpa Sahabat Museum melalui berbagai ...


...
Duta Museum DIY : Free Modelling Class Museum Tembi Rumah Budaya

by museum || 16 Maret 2021

Pada hari Jum'at, 12 Maret 2021 telah berlangsung kegiatan "Free Modelling Class" yang diinisiasi oleh Jossephine Daniella Iki selalu Duta Museum Untuk DIY 2020 untuk Museum Tembi Rumah Budaya. ...





Copyright@2024

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta