MENELUSURI JEJAK KERAJAAN MATARAM ISLAM DI KOTAGEDE

by museum|| 31 Juli 2023 || || 7.295 kali

...

Kotagede merupakan kawasan wisata yang ada di Yogyakarta. Wilayah ini menjadi saksi bisu tumbuhnya Kerajaan Mataram Islam yang pernah berkuasa hampir di seluruh Pulau Jawa. Jejak-jejak peninggalan Kerajaan Mataram masih dapat kita jumpai di wilayah ini, seperti reruntuhan benteng, sisa-sisa bangunan, hingga makam para pendiri Kerajaan Mataram Islam. Kotagede merupakan bukti hadirnya peradaban Kerajaan Mataram yang ada di Yogyakarta. Sejarah Kotagede dapat ditelusuri dari kisah Sultan Hadiwijaya atau dikenal sebagai Jaka Tingkir, pendiri Kerajaan Panjang di Jawa Tengah.

Pada abad ke-16 Pulau Jawa dikuasai oleh Kesultanan Panjang yang berpusat di Jawa Tengah. Sultan Hadiwijaya yang saat itu menjadi penguasa memberikan Alas Mentaok (alas = hutan) kepada Ki Gede Pemanahan sebagai hadiah atas keberhasilannya menaklukkan musuh kerajaan. Setelah itu Ki Gede Pemanahan bersama keluarga dan pengikutnya pindah ke Alas Mentaok dan mendirikan desa kecil di sana.

Di bawah kepemimpinan Ki Gede Pemanahan, desa kecil tersebut memiliki kehidupan yang baik dan makmur. Hingga akhirnya ia pun wafat dan kepemimpinannya digantikan oleh putranya yang bergelar Senapati Ingalaga. Kebijaksanaan Senapati selama menjadi pemimpin menjadikan desa kecil itu terus bertumbuh menjadi kota yang semakin ramai dan makmur, hingga disebut sebagai Kotagede (kota besar). Sebagai upaya pertahanan dan keamanan wilayah, Senapati lalu membangun benteng yang mengelilingi keraton dan benteng luar (baluwarti) yang mengelilingi wilayah kota seluas kurang lebih 200 ha. Pertahanan juga ditambah dengan membangun parit pertahanan yang lebar seperti sungai di sisi luar kedua benteng.

Di lain tempat, setelah wafatnya Sultan Hadiwijaya terjadi perebutan takhta Kesultanan Panjang oleh Pangeran Benawa selaku Putra Mahkota dengan Arya Pangiri. Pangeran Benawa kemudian meminta bantuan Senapati untuk mengalahkan Arya Pangiri. Senapati pun setuju dan terjadilah perang bagi keduanya. Pangeran Benawa berhasil menaklukkan Arya Pangiri tetapi Senapati mengampuni nyawanya. Setelah kemenangan itu, Pangeran Benawa menawarkan takhta Kesultanan Pajang kepada Senapati, namun ia menolaknya dengan halus. Setahun kemudian Pangeran Benawa wafat, namun sebelum kematiannya ia sempat berpesan bahwa agar Kesultanan Panjang dipimpin oleh Senapati. Sejak itu Senapati menjadi raja pertama Mataram Islam bergelar Panembahan. Beliau tidak mau memakai gelar Sultan untuk menghormati Sultan Hadiwijaya dan Pangeran Benawa. Istana pemerintahannya terletak di Kotagede.

Selanjutnya Panembahan Senapati memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram Islam hingga ke Pati, Madiun, Kediri, dan Pasuruan. Panembahan Senapati wafat pada tahun 1601 dan dimakamkan di Kotagede berdekatan dengan makam ayahnya. Kerajaan Mataram Islam kemudian menguasai hampir seluruh Pulau Jawa (kecuali Banten dan Batavia) dan mencapai puncak kejayaannya di bawah pimpinan raja ke-3, yaitu Sultan Agung (cucu Panembahan Senapati). Pada tahun 1613, Sultan Agung memindahkan pusat kerajaan ke Karta (dekat Plered) dan berakhirlah era Kotagede sebagai pusat kerajaan Mataram Islam.

Meski begitu, masih dapat kita jumpai sisa-sisa peninggalan sejarah Kerajaan Mataram Islam yang ada di Kotagede, di antaranya Pasar Kotagede, Kompleks Makam Pendiri Kerajaan, Masjid Kotagede, Rumah Tradisional, Kedhaton, dan reruntuhan benteng sisa pertahanan yang mengelilingi keraton. Bahkan saat ini terdapat Museum Kotagede Intro Living Museum yang bisa di akses secara umum untuk masyarakat dan wisatawan dalam menerima informasi – informasi terkait peninggalan dari Kerajaan Mataram dan Kerajaan Mataram Islam. fasilitas tersebut bisa dimanfaatkan secara gratis hanya dengan melakukan reservasi sebelum kedatangan di Museum Kotagede Intro Living Museum. Museum ini terletak di jalan Tegal Gendu nomor 20, Prenggan, Kotagede, Yogyakarta. Beroperasi dari hari Selasa sampai Jumat pukul 08.00-16.00, di hari Sabtu dan Minggu buka dari jam 08.30-20.00 serta tutup di hari senin san hari-hari besar nasional. Jadi tunggu apa lagi segera persiapkan rencanamu untuk mengunjungi wilayah Kotagede berseta mampir ke Museum Kotagede Intro Living Museum terlebih dahulu untuk mendapatkan pengetahuan awal mengenai Kawasan cagar budaya kotagede sebelum akhirnya memutuskan untuk explore Kawasan cagar budaya kotagede.

Ramdani Rachmat

Duta Museum DIY untuk Museum Kotagede

Berita Terpopuler


...
Raden Ayu Lasminingrat Tokoh Intelektual Pertama

by museum || 24 Oktober 2022

Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...



Berita Terkait


...
SEMINAR PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM TOKOH PEWAYANGAN NUSANTARA: JEJAK, PERAN, DAN RELEVANSI

by museum || 03 Maret 2021

Halo Sahabat MuseumKeterlibatan perempuan di berbagai bidang turut dikemas dalam lakon pewayangan. Mulai dari berperang, berpolitik, dan berkeluarga. Setiap tokoh wayang perempuan digambarkan dengan ...


...
Workshop Membuat Poster Pendidikan dan Koleksi MPI UNY

by museum || 09 Maret 2021

Di masa pandemi ini banyak museum yang tutup dan tidak menerima kunjungan sementara. Duta Museum DIY harus tetap mempromosikan museum dengan mengadakan acara Jumpa Sahabat Museum melalui berbagai ...


...
Duta Museum DIY : Free Modelling Class Museum Tembi Rumah Budaya

by museum || 16 Maret 2021

Pada hari Jum'at, 12 Maret 2021 telah berlangsung kegiatan "Free Modelling Class" yang diinisiasi oleh Jossephine Daniella Iki selalu Duta Museum Untuk DIY 2020 untuk Museum Tembi Rumah Budaya. ...





Copyright@2024

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta