KUE KIPO (iki opo?)  CEMILAN MANIS KHAS KOTAGEDE

by museum|| 31 Juli 2023 || || 6.356 kali

...

Berkunjung ke kawasan Kotagede tidak lengkap rasanya jika tida berburu jajanan tradisionalnya yang melegenda. Salah satunya adalah kue kipo. Jajanan tradisioal ini dapat dengan mudah dijumpai di sekitar Pasar Legi Kotagede. Ciri khas dari kue ini yaitu memiliki bentuk yang mungil serta berwarna hijau kecoklatan. Biasanya, bahan yang digunakan dalam pembuatan kue kipo ini adalah tepung ketan yang di dalamnya diisi enten-enten atau unti kelapa. Kue kipo dikemas dengan daun kelapa dengan cara membungkus gaya tempelangan. Tempelangan adalah cara membungkus makanan yang ditata di atas selembar daun dan kemudian ditutup dengan selembar daun lainnya. Pada kedua ujung daun dilipat di atas tutupnya dan disemat dengan lidi. Nama kipo sendiri diambil dari akronim pertanyaan ‘iki opo’ yang artinya ini apa. Pada saat itu, Mbah Mangun Irono yang merupakan seorang pembuat kipo menjual jajanan tersebut di pasar. Kemudian, banyak pembeli yang menanyakan kepada Mbah Mangun, “iki opo?”.  Karena Mbah Mangun juga tidak mengetahui jajanan yang dijualnya, ia pun menjawab seadanya dengan menyebut jajanan ini adalah kipo. Itulah yang menjadi penyebab atau pencetus jajanan ini bernama Kipo.

Kue kipo sudah ada sejak zaman kerajaan Mataram Kuno. Bahkan, para bangsawan keraton pada masa lalu menjadikannya sebagai makanan favorit. Nama kipo timbul karena pada saat itu orang bertanya jajanan ini apa dalam bahasa jawa, “Iki opo?” Jadi disebut kipo. Kue ini berbentuk lonjong dan agak pipih serta lembut. Berwarna hijau di dalamnya terdapat campuran gula jawa dan parutan kelapa. Rasanya manis lembut sedikit kenyal, jika dirasakan ada bau khas panggangan.

Ukuran kipo yang tak terlalu besar ternyata justru malah membuat banyak orang semakin ketagihan karena memiliki rasa yang lezat. Kelezatan rasa kue kipo ini tak bisa lepas dari bahan alami yang digunakan dalam pembuatannya. Untuk isian yakni ‘enten-enten’ atau parutan kelapa muda yang dicampur dengan gula jawa yang dicairkan. Setelah dibentuk, adonan ini dipanggang dalam wajan yang telah diberi alas daun pisang. Sehingga memberikan aroma yang khas sulit ditemui makanan lain.

Kipo sudah dikenal sejak abad ke-16 pada masa Kerajaan Mataram berkuasa di Pulau Jawa. Konon katanya kue ini merupakan makanan kegemaran Sultan Agung. Dalam perjalanannya, kue ini sempat dinyatakan hilang keberadaannya di masyarakat Kotagede dan Yogyakarta hingga Namanya sudah dilupakan. Kemudian pada tahun 1946 melalui tangan Mbah Mangun Irono, seorang warga Kecamatan Kotagede yang tinggal di Kampung Mandorakan, kue ini kembali dibuat dan diperkenalkan kembali ke masyarakat. Pada awalnya, Mbah Mangun Irono membuat kue kipo bersama teman-temannya. Namun karena teman-temannya tidak telaten, maka hanya Mbah Mangun Irono sajalah yang meneruskan pembuatan kipo. Setiap pagi, Mbah Mangun Irono berjualan di depan rumahnya di Jalan Mondorakan yang pada saat itu merupakan Pasar Tiban. Berkat konsistensi beliau dan ketelatenan yang dimiliki hingga jajanan ini terus bertahan dan terus dibuat untuk dijual.

Tahun terus berganti, hingga akhirnya karena keterbatasan usia membuat Mbah Mangun Irono memutuskan untuk mewariskan usaha produksi kipo miliknya kepada sang anak yang bernama Ibu Paijem Djito Suhardjono. Dalam naungannya, kue kipo yang sebelumnya hanya dikenal oleh masyarakat kelas bawah perlahan mulai menarik perhatian masyarakat dan menjadikan makanan ini layak untuk dipandang. Usaha yang dilakukan oleh Ibu Djito untuk mengenalkan lebih luas jajanan tradisional kipo diawali dengan mengikuti pameran dan lomba makanan berbahan khusus tepung ketan yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) di Hotel Ambarukmo Palace pada tahun 1986.

Pada kesempatan tersebut, Ibu Djito berhasil mendapatkan juara harapan I. Dua tahun berselang, Ibu Djito kembali mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pameran di Jakarta yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata. Terakhir pada tahun 1990, Ibu Djito bersama anaknya, Dra Istri Rahayu mendapatkan kesempatan lagi ke Jakarta untuk mengenalkan jajanan kipo dalam Pameran Adati Keraton Yogyakarta Hadiningrat Seni Karya dan Makanan Langka Khas Yogyakarta. Saat ini, usaha produksi kipo sudah diturunkan ke anak Ibu Djito yaitu Ibu Dra Istri Rahayu.

Melalui perkembangan pariwisata yang digencarkan oleh pemerintah membuat eksistensi jajanan tradisional kipo terus melesat. Usaha kipo menjadi salah satu upaya pemerintah dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat yang ada di Kotagede. Kegiatan industri rumah tangga dalam memproduksi kipo juga dijadikan sebagai obyek wisata kuliner, serta suguhan berbagai pertemuan di berbagai kalangan masyarakat yang ada di Kota Yogyakarta. Kipo merupakan produk makanan khas Kotagede yang mampu membangun kegiatan ekonomi kreatif yang produktif melalui promosi dan pengembangan wisata kuliner di Yogyakarta.

Setelah menikmati jajanan khas Kotagede ini, kalian bisa juga mencari tahu mengenai sejarah serta seperti apa perkembangan jajanan Kipo ini di Kotagede. Jajanan ini juga bisa dipelajari di dalam Museum Kotagede Intro Living Museum yang terdapat dalam Klaster 2 yang membahas mengenai kuliner-kuliner asli Kotagede. Disini kita bisa melihat juga seperti apa proses pembuatan dari kuliner satu ini dalam sebuah dokumenter video yang terdapat dalam klaster dua Museum Kotagede Intro Living Museum. Tidak hanya itu, di dalam klaster ini juga terdapat koleksi yang dapat kita sentuh dan tercantum beberapa gambar makanan dan minuman khas Kotagede yang bisa disentuh kemudian akan mengeluarkan suara.

Pada klaster ini tentu saja tidak hanya membahas jajanan Kipo saja. Tetapi juga membahas dan menjelaskan berbagai macam kuliner serta jajanan yang khas dari Kotagede, seperti Kembang Waru, Jadah Manten, minuman setup jambu dan sebagainya. Jadi buat kamu yang penasaran dengan proses pembuatan kuliner-kuliner tersebut bisa langsung saja datang ke Museum Kotagede Intro Living Museum. Museum ini terletak di jalan Tegal Gendu nomor 20, Prenggan, Kotagede, Yogyakarta. Beroperasi dari hari Selasa sampai Jumat pukul 08.00-16.00, di hari Sabtu dan Minggu buka dari jam 08.30-20.00 serta tutup di hari senin san hari-hari besar nasional. Jadi tunggu apa lagi segera persiapkan rencanamu untuk mengunjungi wilayah Kotagede berseta mampir ke Museum Kotagede Intro Living Museum terlebih dahulu untuk mendapatkan pengetahuan awal mengenai Kawasan cagar budaya kotagede sebelum akhirnya memutuskan untuk explore Kawasan cagar budaya kotagede bersama teman-teman dan keluarga. Saat ini Museum Kotagede juga telah memiliki koleksi baru berupa miniatur-miniatur kuliner khas dari Kotagede, salah satunya kue Kipo ini. Jadi di dalam klaster kuliner ini terdapat banyak koleksi 3D berupa makanan seperti kue kembang waru, Jadah manten, Yangko, Legomoro, Getuk, dan masih banyak lagi.

Ramdani Rachmat

Duta Museum DIY untuk Museum Kotagede

Berita Terpopuler


...
Raden Ayu Lasminingrat Tokoh Intelektual Pertama

by museum || 24 Oktober 2022

Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...



Berita Terkait


...
SEMINAR PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM TOKOH PEWAYANGAN NUSANTARA: JEJAK, PERAN, DAN RELEVANSI

by museum || 03 Maret 2021

Halo Sahabat MuseumKeterlibatan perempuan di berbagai bidang turut dikemas dalam lakon pewayangan. Mulai dari berperang, berpolitik, dan berkeluarga. Setiap tokoh wayang perempuan digambarkan dengan ...


...
Workshop Membuat Poster Pendidikan dan Koleksi MPI UNY

by museum || 09 Maret 2021

Di masa pandemi ini banyak museum yang tutup dan tidak menerima kunjungan sementara. Duta Museum DIY harus tetap mempromosikan museum dengan mengadakan acara Jumpa Sahabat Museum melalui berbagai ...


...
Duta Museum DIY : Free Modelling Class Museum Tembi Rumah Budaya

by museum || 16 Maret 2021

Pada hari Jum'at, 12 Maret 2021 telah berlangsung kegiatan "Free Modelling Class" yang diinisiasi oleh Jossephine Daniella Iki selalu Duta Museum Untuk DIY 2020 untuk Museum Tembi Rumah Budaya. ...





Copyright@2024

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta