Cerita Masjid Taqorub Pleret dengan Kyai Kategan

by museum|| 01 Juli 2024 || || 69 kali

...

Pola tata kota kerajaan-kerajaan di Jawa dibangun berdasarkan sebuah konsep yang dinamakan Catur Gatra Tunggal. Konsep ini memiliki aturan bahwa pemerintahan kerajaan tidak bisa dipisahkan dari aspek ekonomi, religius, dan sosial. Salah satu kerajaan yang menggunakan konsep ini adalah Mataram Islam, salah satu kerajaan besar di tanah Jawa. Setelah Mataram Islam berpindah dari Kotagede ke Kerta, konsep pembangunannya pun tidak meninggalkan konsep Catur Gatra Tunggal meliputi empat elemen yang menjadi satu kesatuan ruang bersama antara sultan yaitu Keraton, Alun-alun, Masjid dan Pasar. Tidak jauh dari lokasi situs kerta terdapat sebuah masjid yang diduga merupakan komponen dari catur gatra keraton Kerta. Saat ini masjid tersebut bernama Masjid Sulthanain Taqorrub yang terletak di Dusun Kanggotan, Pleret, Bantul. Masjid ini diduga digunakan sebagai masjid agung masa Keraton Kerta yang dibangun setelah kepindahan Mataram dari Kotagede ke Kerta. Namun hal tersebut belum bisa dipastikan karena belum ditemukan data lain kapan masjid ini didirikan. Terdapat catatan tertua yang bersumber dari Dua prasasti yang berada di bagian depan kanan kiri masjid. Prasasti ini bertuliskan huruf jawa dan prasasti lainnya bertuliskan huruf arab dan berbahasa jawa. Prasasti menyebutkan bahwa bangunan Masjid ini pernah dipugar pada tahun 1901 M ketika masa pemerintahan Patih Danurejo VI. Untuk bangunan masjid yang dapat kita jumpai hingga saat ini merupakan hasil dari beberapa kali renovasi dan perombakan. Bagian masjid yang masih asli pada masjid ini terletak pada sokoguru (tiang utama), kubah dan mustaka yang masih berbentuk asli. Di bagian utara masjid, terdapat lingga pathok yang juga berkembang di era Hindu-Budha yang berfungsi sebagai patok atau batas. Fungsi lain lingga pathok adalah sebagai batas halaman candi atau batas wilayah yang ditetapkan sebagai sima. Kemungkinan fungsi dari lingga pathok ini tidak jauh berbeda yaitu sebagai batas atau penanda wilayah masa Kerta. Di area luar masjid terdapat kompleks pemakaman yang dikenal dengan Cepakasari. Di kompleks makam ini terdapat makam Kyai Kategan, Ki Ageng Suryomentaram, Patih Danurejo VI (Pangeran Cokroningrat), B.R.A. Retnomandoyo (Ratu Permaisuri Sultan Hamengkubuwono VII) serta Raden Tumenggung Nitinegoro I dan II serta keluarga besar Kesultanan Yogyakarta lainnya. Kyai Kategan merupakan tokoh sentral masa Mataram di Kerta yang merupakan penghulu dari Kanjeng Sultan Agung Hanyokrokusumo. Pada masa kepemimpinan Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645), Kyai Kategan, Tumenggung Singaranu, dan Sultan Agung disebut sebagai Tripandurat atau tritunggal yang bertugas untuk menata jagad raya. Kyai Kategan adalah seorang ulama yang disimbolkan dengan gajah hal ini memiliki makna bahwa Kyai Kategan adalah seorang ulama yang menekuni administrasi kebijaksanaan melalui jalur pengajaran ilmu. Nama Kyai Kategan berasal dari bahasa kawi yaitu Kategan yang memiliki makna sudah meninggalkan duniawi. Ketugasan Kyai Kategan sebagai penghulu pada masa Sultan Agung adalah sebagai sumber ilmu keislaman yang dibawa oleh Nabi Muhammad untuk disebarkan di tanah Jawa. Ada beberapa kisah yang berkembang berkaitan dengan kedekatan antara Sultan Agung dan Kyai Kategan. Diantaranya adalah kisah tentang Kyai Kategan di Mekkah. Kala itu Sultan Agung mengundangnya ke Mekkah untuk menunaikan shalat berjamaah, namun Kyai Kategan sudah tiba lebih dahulu sebelum Sultan Agung sampai di Tanah Suci. Begitupun sebaliknya Jika Kyai Kategan yang mengundang, maka Sultan Agung sudah tiba sebelum Kyai Kategan. Kisah lain yang terkenal adalah yang bersumber dari Babad Nitik Sultan Agung. Cerita itu berkisah suatu ketika Kyai Kategan diundang ke Keraton untuk makan bersama dengan Sultan Agung dan berdoa bersama. Namun Kyai Kategan menolaknya hingga berkali kali karena suatu alasan, hingga akhirnya Sultan Agung memanggilnya kembali melalui utusan khusus ketiga kalinya. Akhirnya Kyai Kategan memberanikan diri datang dan memanjatkan doa sebelum acara makan bersama. Namun hal yang terjadi justru lauk pauk yang telah dihidangkan berupa daging ayam, sapi, kerbau, dan ikan tiba-tiba hidup kembali dan berlompatan di atas meja hidang. Kejadian ini menyebabkan acara makan bersama tersebut dibatalkan hingga membuat Sultan Agung, Kyai Kategan, dan para hadirin tertawa bersama. --- A. Pratiwi – Pemerhati Museum

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Raden Ayu Lasminingrat Tokoh Intelektual Pertama

by museum || 24 Oktober 2022

Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...



Berita Terkait


...
36 Besar Duta Museum DIY 2019 - 2020

by museum || 27 Januari 2020

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY melalui Seksi Permuseuman telah memulai seleksi administrasi Pemilihan Duta Museum DIY tahun 2019 pada tanggal 21 Januari 2019. Dari Seleksi Administrasi ...


...
Rapat Koordinasi : Buletin Permuseuman sebagai pusat informasi museum museum di DIY

by museum || 04 Februari 2021

Selasa 2 Februari 2021, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY melalui Seksi Permuseuman mengadakan rapat koordinasi dengan Barahmus DIY dalam rangka pembuatan buletin permuseuman 2021. Pada tahun ...


...
40 Tahun Museum Puro Pakualaman

by museum || 04 Februari 2021

source pic : https://kebudayaan.jogjakota.go.id/detail/index/858 Jogja selain merupakan kota pendidikan , kini juga merupakan Daerah Istimewa. Daerah yang menyimpan banyak sejarah, budaya dan ...





Copyright@2024

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta