Living Museum Kotagede : Menjelajahi Sejarah dan Inovasi Yogyakarta

by museum|| 11 Februari 2025 || || 88 kali

...

Kotagede di Yogyakarta adalah bekas ibu kota Kesultanan Mataram Islam pertama yang didirikan pada tahun 1532. Tempat ini memiliki sejarah yang kaya dan telah berkembang dari pusat pemerintahan pada tahun 1532 menjadi pusat budaya yang hidup.

Kotagede tetap mempertahankan pesona bangunan bersejarahnya serta kehidupan komunitas yang sarat tradisi meskipun telah melewati berabad-abad.

Intro Living Museum Kotagede menjadi sumber utama bagi mereka yang ingin mempelajari akar budaya dan sejarah Kotagede.

Berlokasi di Jalan Tegal Gendu No.20, Desa Prenggan, Kecamatan Kotagede, Yogyakarta, museum ini menempati bangunan bersejarah yang dulunya adalah rumah pribadi Ibu Hadi Noerijah, seorang perempuan Kalang yang terkemuka.

Orang Kalang adalah kelompok etnis Jawa yang secara historis dikenal hidup terpencil di hutan. Mereka juga terkenal sebagai pengusaha dalam kerajinan emas dan berlian.

Dinas Kebudayaan Yogyakarta membeli rumah tersebut pada tahun 2015 dan mengubahnya menjadi museum yang dibuka pada 10 Desember 2021.

Intro Living Museum Kotagede tidak hanya memamerkan artefak sejarah, tetapi juga memberikan gambaran menyeluruh tentang sejarah dan perkembangan Kotagede.

Pengunjung dapat menjelajahi kehidupan sehari-hari penduduk Kotagede pada masa lampau dan menelusuri evolusi kota ini hingga saat ini.

"'Intro' berarti sebuah titik awal," jelas Devi Catur Pawestri, seorang edukator di museum, pada Jumat, 7 Februari 2025. "Museum ini berfungsi sebagai pengantar untuk memahami Kotagede secara keseluruhan."

Konsep Museum Hidup diadopsi untuk melibatkan masyarakat secara aktif dalam melestarikan dan memanfaatkan warisan budaya mereka.

Pengunjung didorong untuk menjelajahi setiap ruangan dan mempelajari fungsi aslinya. Hal ini memungkinkan mereka untuk menghidupkan kembali masa lalu dan langsung merasakan suasana kehidupan di Kotagede pada masa lampau.



Mulai dari sejarah berdirinya Kesultanan Mataram yang megah, gerakan sosial dinamis masyarakat Kotagede, hingga situs-situs bersejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang kota ini.

Tak ketinggalan, sejarah unik masyarakat Kalang, kelezatan kuliner khas Kotagede, ciri khas rumah-rumah Kotagede yang sarat makna, seni dan pertunjukan Kotagede yang memikat, sejarah kerajinan perak legendaris Kotagede, serta sosok inspiratif Ibu Hadi Noerijah semuanya disajikan dengan indah di museum ini.

Salah satu bagian paling menarik dari bangunan museum ini adalah keberadaan sebuah bunker yang konon masih terhubung dengan Restoran Sekar Kedhaton.

Restoran ini terkenal dengan hidangan autentik khas Jawa dan berlokasi tidak jauh dari museum.

Bunker ini dulunya merupakan bagian dari bangunan milik ayah Ibu Hadi Noerijah dan diyakini digunakan untuk menyimpan harta berharga.

Keberadaannya menambah daya tarik museum dan memberikan sekilas pandang ke masa lalu yang penuh misteri.

Bangunan ini merupakan situs cagar budaya dengan nilai sejarah dan budaya yang signifikan. Pelestarian dan konversinya menjadi museum memberikan kesempatan berharga bagi masyarakat untuk mempelajari sejarah dan budaya Kotagede.

Museum ini menempati lahan seluas dua hektare dengan luas bangunan 1.200 meter persegi. Bagian depan bangunan berasal dari tahun 1931, sementara bagian belakang dibangun pada tahun 1938.

Bangunan ini menampilkan perpaduan arsitektur yang khas, menggabungkan pengaruh Indisch, Jawa, Tionghoa, dan Arab.

"Ciri khas rumah Kalang dapat dilihat dari penggunaan kaca patri, lantai bergaya Eropa, kanopi berbentuk kubah yang mencerminkan gaya Arab, dan jendela bergaya Tionghoa," jelas Devi.

Tata letak museum juga mengadopsi elemen rumah tradisional Jawa, termasuk senthong (bagian rumah paling privat), pendopo kayu, saka guru (tiang utama), pringitan (tempat untuk pertunjukan wayang), dan ruangan tradisional lainnya.

Museum ini dibagi menjadi empat klaster: situs arkeologi dan lanskap sejarah; sastra, pertunjukan, tradisi, dan kehidupan sehari-hari; keterampilan tradisional (teknologi); serta gerakan sosial.

Layar interaktif dan video informatif yang diaktifkan oleh sensor meningkatkan pengalaman pengunjung, membuat informasi lebih menarik dan mudah diakses.



"Salah satu ruangan yang paling populer adalah ruang kuliner," jelas Devi. "Ruangan ini menampilkan berbagai makanan khas Kotagede, seperti kembang waru, kipo, yangko, dan legomoro."

Kembang waru adalah kue lembut dan manis berbentuk seperti bunga waru berkelopak delapan, yang diyakini merupakan warisan Kesultanan Mataram.

Kipo adalah camilan kecil berbentuk silinder dengan warna hijau cerah khas Jawa yang terbuat dari tepung ketan. Isiannya berupa kelapa manis, dan teksturnya kenyal.

Yangko adalah camilan kecil berbentuk persegi atau persegi panjang yang kenyal, terbuat dari tepung ketan. Camilan ini diisi dengan kacang tanah manis yang dihaluskan dan ditaburi gula bubuk.

Legomoro adalah camilan gurih berbentuk silinder yang terbuat dari nasi ketan dengan isian daging berbumbu, dibungkus daun pisang, dan dikukus. Teksturnya sedikit lengket dengan rasa gurih yang kaya.

Museum Intro Living Kotagede menawarkan berbagai aktivitas untuk pengunjung dari segala usia. Museum ini buka dari Selasa hingga Minggu, pukul 08.00 hingga 15.30 waktu setempat, kecuali pada hari Senin dan hari libur nasional.

Selain pameran, museum ini memiliki Pojok Dolanan yang dilengkapi dengan permainan tradisional Jawa.

Setiap sebulan sekali pada hari Jumat, museum mengadakan program Ngepit, yakni menjelajahi kehidupan Kotagede sambil bersepeda. Program gratis ini mengundang peserta untuk mengeksplorasi Kotagede sambil mempelajari sejarah dan budaya lokal.

"Kami menyediakan 15 sepeda, dan peserta diajak melihat kehidupan masyarakat Kotagede, seperti menyaksikan pembuatan kembang waru, kerajinan perak, dan lainnya," ujar Devi.

Sepanjang bulan Februari, museum ini menawarkan Bergamusday (belajar gamelan) dan Sketsumday (pelajaran menggambar).

Program Sinau Dolan (belajar sambil bermain) dirancang untuk anak-anak TK dan SD. Program ini menyajikan cara menyenangkan dan interaktif untuk belajar sejarah dan budaya melalui cerita, permainan, dan eksplorasi museum.

Dheva, seorang pengunjung dari Klaten, mengetahui museum ini melalui media sosial. Minatnya terhadap seni dan sastra mendorongnya untuk berkunjung.

"Aspek paling unik dari museum ini adalah bagian kuliner dan ruang informasi tentang kerajinan perak. Menurut saya, museum ini menyenangkan karena medianya interaktif," komentar Dheva. Ia berharap lebih banyak orang akan mengenal museum ini karena saat ini belum terlalu terkenal.

Kisah Kotagede terungkap di Museum Hidup Intro, dari asal-usul kerajaan hingga pesona masa kini.

Museum ini tidak hanya menawarkan sekilas tentang masa lalu tetapi juga memicu rasa takjub akan apa yang mungkin terjadi di masa depan bagi tempat luar biasa ini.


diterjemahkan dari sumber asli : https://rri.co.id/en/art-and-culture/1312023/kotagede-living-museum-exploring-yogyakarta-s-history-and-innovation

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Raden Ayu Lasminingrat Tokoh Intelektual Pertama

by museum || 24 Oktober 2022

Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...



Berita Terkait


...
36 Besar Duta Museum DIY 2019 - 2020

by museum || 27 Januari 2020

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY melalui Seksi Permuseuman telah memulai seleksi administrasi Pemilihan Duta Museum DIY tahun 2019 pada tanggal 21 Januari 2019. Dari Seleksi Administrasi ...


...
Rapat Koordinasi : Buletin Permuseuman sebagai pusat informasi museum museum di DIY

by museum || 04 Februari 2021

Selasa 2 Februari 2021, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY melalui Seksi Permuseuman mengadakan rapat koordinasi dengan Barahmus DIY dalam rangka pembuatan buletin permuseuman 2021. Pada tahun ...


...
40 Tahun Museum Puro Pakualaman

by museum || 04 Februari 2021

source pic : https://kebudayaan.jogjakota.go.id/detail/index/858 Jogja selain merupakan kota pendidikan , kini juga merupakan Daerah Istimewa. Daerah yang menyimpan banyak sejarah, budaya dan ...





Copyright@2025

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta