Celengan: Jejak Budaya Menabung Sejak Zaman Majapahit

by museum|| 08 Juli 2026 || 32 kali

...

Sebelum era dompet digital dan mobile banking, nenek moyang kita ternyata sudah lebih dulu mengenal budaya menabung. Bahkan, kebiasaan menyisihkan uang ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.

Siapa yang tidak pernah mendengar peribahasa "Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit"? Ungkapan ini mengajarkan bahwa kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan sesuatu yang besar. Ada pula peribahasa "Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya" yang mengingatkan pentingnya semangat belajar sekaligus hidup hemat. Dalam budaya Jawa juga dikenal pepatah "Kegeden empyak, kurang cagak", sebuah nasihat agar tidak hidup boros dan selalu bijak dalam menggunakan harta.

Berbagai petuah tersebut bukan sekadar rangkaian kata, tetapi menjadi cara masyarakat sejak dahulu menanamkan nilai ketekunan, kesabaran, dan kebiasaan mengelola keuangan dengan baik. Salah satu bentuk penerapannya adalah mengajarkan anak-anak untuk gemar menabung sejak usia dini sebagai bekal menghadapi masa depan. Hingga kini, kebiasaan tersebut masih menjadi bagian penting dalam pendidikan karakter di lingkungan keluarga.

Menariknya, tradisi menabung ternyata sudah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit pada abad ke-13 hingga ke-15. Bukti sejarahnya ditemukan di kawasan Trowulan, Jawa Timur, berupa berbagai celengan berbahan tanah liat. Bentuknya pun beragam, mulai dari figur anak kecil, berbagai hewan seperti babi (celeng), domba, kura-kura, dan gajah, hingga bentuk guci yang menjadi jenis paling banyak ditemukan. Meski memiliki banyak variasi, masyarakat tetap menyebut benda tersebut dengan nama celengan.

Menurut kamus Javaans-Nederlands Woordenboek karya Th. Pigeaud yang dikutip oleh Museum Nasional Indonesia, terdapat sejumlah kosakata Jawa yang berkaitan dengan aktivitas menabung. Kata celengan berarti tempat menabung, dicelengi berarti disimpan atau ditabung, sedangkan dicelengake berarti menabungkan untuk orang lain. Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, celengan diartikan sebagai tabung untuk menyimpan uang atau tabungan itu sendiri.

Keberadaan berbagai temuan arkeologis tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Majapahit telah mengenal budaya menyimpan uang jauh sebelum sistem perbankan modern hadir. Istilah celengan sendiri berasal dari kata celeng, yaitu babi dalam bahasa Jawa kuno. Pada masa itu, babi dianggap sebagai simbol kemakmuran dan keberuntungan. Lubang kecil pada bagian atas celengan mengindikasikan bahwa benda ini digunakan untuk menyimpan uang logam yang beredar saat itu, seperti uang kepeng, gobog, maupun kasha.

Jadi, jika hari ini kita terbiasa menyisihkan uang melalui aplikasi digital atau rekening tabungan, sesungguhnya kita sedang melanjutkan tradisi yang telah diwariskan sejak zaman Majapahit. Berbeda wadahnya, tetapi semangatnya tetap sama: sedikit demi sedikit, masa depan yang lebih baik bisa dipersiapkan mulai dari sekarang. (cup_mus)

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
36 Besar Duta Museum DIY 2019 - 2020

by museum || 27 Januari 2020

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY melalui Seksi Permuseuman telah memulai seleksi administrasi Pemilihan Duta Museum DIY tahun 2019 pada tanggal 21 Januari 2019. Dari Seleksi Administrasi ...


...
Rapat Koordinasi : Buletin Permuseuman sebagai pusat informasi museum museum di DIY

by museum || 04 Februari 2021

Selasa 2 Februari 2021, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY melalui Seksi Permuseuman mengadakan rapat koordinasi dengan Barahmus DIY dalam rangka pembuatan buletin permuseuman 2021. Pada tahun ...


...
40 Tahun Museum Puro Pakualaman

by museum || 04 Februari 2021

source pic : https://kebudayaan.jogjakota.go.id/detail/index/858 Jogja selain merupakan kota pendidikan , kini juga merupakan Daerah Istimewa. Daerah yang menyimpan banyak sejarah, budaya dan ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta