Tantangan Museum di Era Digital untuk Membangun Nilai Budaya Generasi Milenial

by museum|| 02 Februari 2022 || || 1.341 kali

...

Museum merupakan representasi kekayaan kreativitas masa lalu dengan nilai-nilai luhur budaya serta inspirasi di dalamnya. Menurut Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 2015 Tentang Museum, Museum adalah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, dan mengomunikasikannya kepada masyarakat. Kata mengomunikasikan merupakan kata kunci dalam memberhasilkan fungsi museum, yaitu ikut membangun nilai-nilai budaya masyarakat terutama generasi milenial.

Di sisi lain, Koentjaraningrat menyatakan bahwa nilai budaya merupakan nilai atas konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar masyarakat dan dianggap amat mulia. Sistem nilai yang ada dalam suatu masyarakat menjadi orientasi dan rujukan dalam bertindak bagi mereka. Oleh sebab itu, nilai budaya yang dimiliki seseorang mempengaruhinya dalam mengambil alternatif, cara-cara, alat-alat, dan tujuan-tujuan pembuatan yang tersedia.

Penerapan nilai-nilai budaya sampai tampak kongkrit pada diri pengunjung museum tidak bisa instan karena memang harus mengalami proses berkesinambungan. Oleh karena itu, seyogyanya salah satu konsep efektif untuk mengoptimalkan peran museum dalam penerapan nilai-nilai budaya adalah mendesain program komunikasi museum berdasarkan hakekat belajar.

 

 

Belajar merupakan perubahan yang relatif permanen dalam perilaku maupun potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya.

Jika di lingkungan sekolah, stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan. Oleh karena itu, apa yang diberikan oleh guru dan apa yang diterima oleh pelajar harus dapat diamati dan diukur. Dalam konteks museum penting memperkuat stimulus keberadaan koleksi melalui program kunjungan yang berulang-ulang guna memicu dan memacu respon pengunjung supaya penerapan nilai-nilai budaya berlangsung efektif.

Berbeda dengan sekolah yang merupakan sebuah kewajiban bagi pelajar, dijaga regulasi yang ketat dan memaksa, juga iming-iming berupa ijazah, memang mengadopsi hakekat belajar dalam museum menghadirkan tantangan tersendiri. Tantangannya adalah bagaimana program kunjungan yang berulang-ulang tersebut tidak monoton dan membuat bosan pengunjung.

Tantangan inilah justru yang semakin menegaskan alasan bahwa museum perlu merancang program yang segar, seru, sehingga pola relasi stimulus dari museum dengan respon pengunjung tidak terasa sebagai beban. Kekayaan koleksi museum bersinergi dengan kemajuan teknologi digital nan smart dalam rangkaian program kreativitas yang tersusun sistematis sanggup secara efektif mewujudkan optimal hasil penerapan nilai-nilai budaya.

Kecanggihan fasilitas industri digital digunakan mendukung komunikasi museum dengan masyarakat terutama program seperti festival e-book, lomba vlog dokumenter, pameran foto, bersinergi dengan keberadaan sosial media. Di sinilah kehadiran generasi milenial bisa berperan aktif lebih mengoptimalkan komunikasi dan interaksi museum dengan masyarakat.

 

Teknologi digital menghadirkan manfaat dan dampak negatif bagi tergerusnya nilai-nilai luhur budaya. Sebenarnya, hal ini justru membuat keberadaan museum dengan kekayaan koleksi yang sarat nilai-nilai luhur budaya bertambah strategis dan dibutuhkan. Masyarakat perlu asupan nilai budaya untuk menjadi kualitas pribadi lebih berkarakter. Terutama generasi muda milenial membutuhkan penyeimbang dalam berproses kreatif di era teknologi pintar.

Nilai-nilai budaya pada museum harus dan perlu secara berkesinambungan dikomunikasikan kepada masyarakat dan berdampak terhadap kualitas sikap dan pikiran mereka sebagai manusia peradaban canggih. Pribadi yang meskipun berpikir global namun tetap berjati diri lokal yang berakar pada nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia.

Teknologi digital menghadirkan manfaat dan dampak negatif bagi tergerusnya nilai-nilai luhur budaya. Sebenarnya hal ini justru membuat keberadaan museum dengan kekayaan koleksi yang sarat nilai-nilai luhur budaya bertambah strategis dan dibutuhkan. Masyarakat perlu asupan nilai budaya untuk menjadi kualitas pribadi lebih berkarakter. Terutama generasi muda milenial membutuhkan penyeimbang dalam berproses kreatif di era teknologi pintar.

Nilai-nilai budaya pada museum harus dan perlu secara berkesinambungan dikomunikasikan kepada masyarakat dan berdampak terhadap kualitas sikap dan pikiran mereka sebagai manusia peradaban canggih. Pribadi yang meskipun berpikir global namun tetap berjati diri lokal yang berakar pada nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia.

Oleh Ayuningtyas Rachmasari

Berita Terpopuler


...
Raden Ayu Lasminingrat Tokoh Intelektual Pertama

by museum || 24 Oktober 2022

Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...



Berita Terkait


...
SEMINAR PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM TOKOH PEWAYANGAN NUSANTARA: JEJAK, PERAN, DAN RELEVANSI

by museum || 03 Maret 2021

Halo Sahabat MuseumKeterlibatan perempuan di berbagai bidang turut dikemas dalam lakon pewayangan. Mulai dari berperang, berpolitik, dan berkeluarga. Setiap tokoh wayang perempuan digambarkan dengan ...


...
Workshop Membuat Poster Pendidikan dan Koleksi MPI UNY

by museum || 09 Maret 2021

Di masa pandemi ini banyak museum yang tutup dan tidak menerima kunjungan sementara. Duta Museum DIY harus tetap mempromosikan museum dengan mengadakan acara Jumpa Sahabat Museum melalui berbagai ...


...
Duta Museum DIY : Free Modelling Class Museum Tembi Rumah Budaya

by museum || 16 Maret 2021

Pada hari Jum'at, 12 Maret 2021 telah berlangsung kegiatan "Free Modelling Class" yang diinisiasi oleh Jossephine Daniella Iki selalu Duta Museum Untuk DIY 2020 untuk Museum Tembi Rumah Budaya. ...





Copyright@2024

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta