Belajar pada Pandangan Pertama

by museum|| 25 Februari 2022 || || 283 kali

...

Perjalanan Panjang dari pusat kota menuju ke Museum Gumuk Pasir akan terasa impas dengan dua hal: pemandangan bentang alam desa pesisir Bantul dengan bukit karst, persawahan, pepohonan lebat, dan sungai Opaknya; serta pengalaman asyik sarat informasi penambah wawasan khususnya yang bersifat geospasial, kepesisiran, dan kemaritiman.

Dengan hangat pengunjung akan disambut dan dipandu menjelajah museum ini. Sebelum masuk, tentunya protokol kesehatan harus diikuti: pengecekan suhu, lalu disinfeksi di tempat yang telah disediakan.

Learning at the first sight.

Di depan pintu masuk, pengunjung langsung disuguhi dengan pengetahuan. Sebab, rupanya arsitektur museum dirancang untuk merepresentasikan proses terbentuknya Gumuk Pasir. Bangunan kerucut mewakili Gunung Merapi, si penyuplai material; Lorong Pengetahuan mewakili sungai Opak dan Progo, pengantar material ke estuary; sedangkan Gedung Lengkung mewakili Gumuk Pasir parangtritis yang dihempas ke tepian oleh ombak, dijemur di bawah terik pantai, dan digundukkan oleh angin tenggara yang dibelokkan oleh pegunungan karst Barat Parangtritis sehingga terjadi fenomena yang sangat unik, yakni gumuk pasir barchan di daerah beriklim tropika basah ini.

Sebagaimana orang yang jatuh cinta, pengetahuan tadi akan diperdalam seiring dengan perjalanan yang dilalui bersama.

 

 

 

Di Museum Gumuk Pasir, ini akan terjadi setelah memasuki lantai pertama bangunan museum, dalam beberapa zona yang ada.

Pertama, tentunya dalam ruang teater. Di sana pengunjung akan diajak menonton video edukasi tentang keunikan pesisir Bantul, khususnya Gumuk Pasir Parangtritis dan kampanye usaha konservasinya. Terdapat tiga video yang dipilihkan sesuai dengan rentang usia pengunjung. Umumnya, untuk pengunjung usia remaja-dewasa akan dipilihkan video dengan dosen-dosen Fakultas Geografi UGM sebagai pembicaranya. Di akhir video, setelah lampu kembali dinyalakan, pengunjung akan diajak untuk bertanya jawab tentang keunikan dan proses terjadinya Gumuk Pasir Parangtritis.

Kedua, di lantai 3 dan 4 atau zona ufuk, penjelasan-penjelasan tadi akan lebih meresap setelah dikaitkan dengan pengalaman empiris yakni menyaksikan sisa-sisa Gumuk Pasir.

Ketiga, di Lorong Pengetahuan. Pengunjung ajan diajak menyusurinya sambal menyimak penjelasan ulang tentang proses dan syarat terjadinya gumuk pasir,

Sebagai penutup kunjungan, tepatnya di Gedung Lengkung, pengunjung akan disuguhi beberapa maket yang menggambarkan museum dan bentang alam Gumuk Pasir Parangtritis di sekitarnya, serta bentang zona konservasi Gumuk Pasir Parangtritis.

Layaknya rasa cinta yang telah muncul lalu tumbuh di hati kita, sering kali pengetahuan tidak bermakna bila ia tidak mendorong pada suatu aksi nyata.

Menyudahi kunjungan ke Museum Gumuk Pasir, setidaknya ada dua hal yang dapat kita lakukan: menyebarluaskan ilmu yang telah kita dapat, dan mengawal proses konservasi yang telah diperjuangkan oleh banyak pihak. Sehingga kelak, seperti dijelaskan oleh Almarhum Prof. Sunarto dkk., generasi mendatang akan tetap dapat mempelajari fenomena alam ini secara langsung, bukan hanya dari buku sejarah.

 

Oleh Amnina Fira Kharira, Dutamuseum DIY 2022 untuk Museum Gumuk Pasir

Berita Terpopuler


...
Raden Ayu Lasminingrat Tokoh Intelektual Pertama

by museum || 24 Oktober 2022

Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...


...
Perajin Batik Kulonprogo Perkuat Pasar Lokal untuk Jaga Produksi Tetap Stabil

by admin || 24 November 2016

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Perajin batik Kulonprogo mulai merasakan tanda-tanda kelesuan pasar batik yang biasa terjadi di akhir tahun. Untuk menjaga stabilitas produksinya, perajin batik ...


...
Kesenian Tari Hibur Peserta Funbike Gebyar Museum Pleret

by admin || 09 Oktober 2016

Laporan Reporter Tribun Jogja, Arfiansyah Panji Purnandaru TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Rombongan Funbike Gebyar Museum Pleret tiba di Museum Purbakala Pleret. Tari Sigrak Sesolak, Tari Nawung Sekar ...


...
'Selendang Sutra' Penyatu Mahasiswa

by admin || 07 Oktober 2016

YOGYA (KRjogja.com) - Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogya (Disbud DIY) bersama dengan Ikatan Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) mengadakan 'Karnaval Selendang Sutra' 2016 guna mengurangi gesesekan ...


...
Disbud DIY Bersama Matra Akan Gelar Festival Gejog Lesung Keistimewaan

by admin || 07 September 2016

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY bersama Masyarakat Tradisi (Matra) Yogyakarta, akan menyelenggarakan Festival Gejog Lesung Keistimewaan, pada 9 dan 10 September 2016 ...



Berita Terkait


...
SEMINAR PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM TOKOH PEWAYANGAN NUSANTARA: JEJAK, PERAN, DAN RELEVANSI

by museum || 03 Maret 2021

Halo Sahabat MuseumKeterlibatan perempuan di berbagai bidang turut dikemas dalam lakon pewayangan. Mulai dari berperang, berpolitik, dan berkeluarga. Setiap tokoh wayang perempuan digambarkan dengan ...


...
Workshop Membuat Poster Pendidikan dan Koleksi MPI UNY

by museum || 09 Maret 2021

Di masa pandemi ini banyak museum yang tutup dan tidak menerima kunjungan sementara. Duta Museum DIY harus tetap mempromosikan museum dengan mengadakan acara Jumpa Sahabat Museum melalui berbagai ...


...
Duta Museum DIY : Free Modelling Class Museum Tembi Rumah Budaya

by museum || 16 Maret 2021

Pada hari Jum'at, 12 Maret 2021 telah berlangsung kegiatan "Free Modelling Class" yang diinisiasi oleh Jossephine Daniella Iki selalu Duta Museum Untuk DIY 2020 untuk Museum Tembi Rumah Budaya. ...





Copyright@2023

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta