Upacara Adat Rebo Pungkasan

by admin|| 01 April 2012 || 18.589 kali

...

Latar Belakang dan Komponen Upacara

Upacara Rebo Wekasan merupakan upacara adat yang terdapat di Desa Wonokromo, Kecamatan. Plered, Kabupaten Bantui, Propinsi DIY. Dengan ibukota propinsi, desa tersebut berjarak 10 km ke arah Selatan. Desa ini dibagi menjadi 12 dusun, yaitu Dusun Wonokromo I, Wonokromo II, Karanganom, Ketanggajati, Sarean, Jejeran I, Jejeran II, Brajan, Pandes I, Pandes II, dan Demangan Kapen.

Desa Wonokromo mempunyai wilayah seluas 21,34 km2 dengan penduduk berjumlah 9.150 juta dan Kepala Keluarganya ada 2.367. Dengan melihat data tersebut berarti kepadatan penduduk rata-rata 2.108 juta jiwa/km2 dan jumlah rata-rata 3,87 jiwa/KK, dan jumlah penduduk sebesar 9.150 jiwa, sebagian besar beragama Islam dan yang sebagian kecil ada yang beragama Katholik, Kristen, Hindu, dan Budha. Mengenai fasilitas ibadah dapat dikatakan hampir setiap RW memiliki masjid atau langgar dan di wilayah ini terkenal dengan daerah santri.Menurut Dewanto (1996 : 28), 75 % dan penduduk Wonokromo mempunyai mata pencaharian sebagai petani, 15 % pedagang, dan selebihnya ada yang menjadi PNS, ABRI, dan lain-lain, tukang, swasta.

Mengenai Upacara Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan ini akan dibahas tentang nama upacara, tujuan upacara, cerita/mitos upacara, komponen upacara, dan sesaji/peralatan upacara.

a)  Nama Upacara

Upacara yang ada di Wonokromo ini disebut Rebo Pungkasan atau Rebo Wekasan.

Disebut Rebo Pungkasan atau Rebo Wekasan karena upacara ini diadakan pada hari Rabu terakhir pada bulan Sapar. Kata Sapar ini identik dengan ucapan kata arab syafar yang berarti bulan Arab yang kedua. Selanjutaya kata syafar yang identik dengan kata sapar ini menjadi salah sebuah nama bulan Jawa yang kedua dan jumlah bulan yang 12 itu (Tashadi dkk, 1992/1993).

Dalam upacara ini sebagai puncak acaranya adalah Selasa malam atau malem Rebo.

Dahulu upacara ini dipusatkan di depan masjid dan biasanya seminggu sebelum puncak acara sudah diadakan keramaian, yaitu pasar malam. Upacara ini dipilih hari Rabu, konon hari Rabu terakhir dalam bulan Sapar itu merupakan hari perternuan antara Sri Sultan HB I dengan mBah Kyai Faqih Usman. Berdasarkan pada hari itulah kemudian masyarakat menamakannya dengan Upacara Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan.

b) Tujuan Upacara

Maksud dan tujuan penyelenggaraan Upacara Rebo Wekasan adalah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, serta seorang kyai pertama di Wonokromo – Kyai Faqih Usman atau Kyai Welit - yang bisa menyembuhkan segala penyakit dan dapat memberikan berkah untuk kesuksesan usaha atau untuk tujuan-tujuan tertentu.

c)  Cerita/Mitos Upacara

Mitos tentang Upacara Rebo Wekasan ada beberapa versi. Narnun inti dan upacara tersebut ada kesamaan, yakni tentang kyai yang tinggal di Desa Wonokromo dan mempunyai kelebihan mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit dan dapat memberikan berkah untuk kesuksesan usaha dan tujuan-tujuan tertentu seperti membuat tolak bala dan sebagainya.

Untuk lebih jelasnya akan diuraikan di bawah ini :

-  Versi I

Rebo Wekasan sudah ada sejak tahun 1784 dan sampai sekarang upacara ini masih tetap dilestarikan. Pada jaman itu hidup seorang kyai yang bemama mBah Faqih Usman. Tokoh kyai yang kemudian lebih dikenal dengan nama Kyai Wonokromo Pertama atau Kyai Welit. Pada masa itu hidupnya mempunyai kelebihan ilmu yang sangat baik di bidang agama maupun bidang ketabiban atau penyembuhan penyakit.

Pada waktu itu masyarakat Wonokromo meyakini babwa mBah Kyai mampu mengobati penyakit dan metode yang digunakan atau dipraktekkan mBah Kyai dalam pengobatan adalah dengan cara disuwuk, yakni dibacakan ayat-ayat AI-Qur'an pada segelas air yang kemudian diminumkan kepada pasiennya dapat sembuh.

Seperti telah dirnuat dalam SKH KR 1983, bahwa pada saat itu di daerah Wonokromo dan sekitamya sedang terjadi pagebluk yang mengancam keselamatan jiwa banyak orang. Tak heran jika kemudian masyarakat berbondong-bondong kepada mBah Kyai untuk meminta obat dan meminta berkah keselamatan. Ketenaran mBah Kyai semakin tersebar sampai ke pelosok daerah, sehingga yang datang berobatpun semakin bertambah banyak, maka di sekitar masjid lalu dipadati para pedagang yang ingin mengais reJeki dan para tamu. Suasana seperti itu dapat mengganggu akan keagungan masjid dan sangat merepotkan jamaah yang akan memasuki masjid untuk sholat. Pada suatu saat mBah Kyai menemukan cara paling efektif untuk memberikan pengobatan dan berkah keselamatan kepada umatnya, yakni menyuwuk telaga di pertempuran Kali Opak dan Kali Gajahwong yang berada di sebelah Timur kampung Wonokromo atau tepatnya di depan masjid.

Berkat ketenaran mBah Kyai Faqih, maka lama kelamaan sampai terdengar oleh :  Sri Sultan HB 1. Untuk membuktikan berita tersebut kemudian mengutus empat orang prajuritnya supaya membawa mBah Kyai Faqih menghadap ke kraton dan memperagakan ilmunya itu. Temyata ilmu mBah Kyai itu mendapat sanjungan dari Sri Sultan HB I karena memang setelah masyarakat yang sakit itu diobati dan sembuh.

Sepeninggal mBah Kyai, lalu masyarakat meyakini bahwa mandi di pertempuran Kali Opak dan Kali Gajahwon dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan mendatangkan .  berkah ketenteraman, sehingga setiap hari Rabu Wekasan masyarakat berbondong- bondong untuk mencari berkah. Dengan mandi di pertempuran itu dimaksudkan manusia bersuci atau selalu "wisuh" untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang melekat di dalam tubuh. Namun masyarakat mengartikan lain, bahwa "wisuh" atau mandi tadi diartikan lain, yakni mandi " dengan "misuh" - berkata kotor. Menurut narasumber bahwa hal tersebut merupakan kepercayaan orang-orang   yang dating dari luar daerah , sebab masyarakat Wonokromo sendiri tidak menggangap seperti itu, karena orang – orangnya beragama Islam yang kuat beragama dan menghindari syirik

Versi II

 Upacara rebo wekasan ini tidak terlepas dari Kraton Mataram dengan Sultan Agung yang dulu pernah    berkraton di Plered. Dalam buku Dewanto , disebutkan bahwa upacara adat ini diselenggarakan   sejak tahun 1600 . Pada masa pemerintahannya Mataram terjangkiti wabah penyakit atau pagebluk. Melihat penderitaan rakyatnya, Sultan Agung sangat prihatin yang kemudian Dia bersemedi di sebuah masjid di desa Kerta.

Setelah melakukan semedi, kemudian Sultan menerima wangsit atau ilham, bahwa wabah penyakit tersebut bias hilang dengan syarat mempunyai tolak bala. Dengan adanya wangsit tersebut, kemudian Sultan Agung memanggil Kyai Sidik yang bertempat tinggal di Desa Wonokromo untuk melaksanakan pembuatan tolak bala tersebut. Setelah itu Kayai Sidik atau dikenal dengan nama Kyai Welit karena sudah mendengar keampuhannya itu. Setelah itu Kyai Welit melaksanakan dawuh untuk membuat tolak bala yang berwujud rajah dengan tulisan arab Bismillahi Rahmanir Rakhim sebanyak 124 baris.

Setelah tulisan yang berwujud rajah itu selesai kemudian dibungkus ndengan kain mori putih. Selanjutnya rajah tersebut diserahkan kepada Sultan Agung serta memohon supaya rajah tersebut dimasukkan kedalam air. Oleh Sultan Agung ajmat yang berupa rajah itu dimasukkan ke dalam bokor kencana yang sudah berisi air. Air ajimat itu kemudian diminumkan kepada orang sakit dan menyembuhkan. Mulai saat itu kabarnya tersebar sampai desa – desa dan menyebabkan orang sakit lalu berbondong bondong dating untk mendapatkan air dari ajimat tersebut.

Dengan banyak peduuk yang berdatangn untuk minta air ajimat, dikuatrikan air tersebut tidak mencukupi. Akhirnya Sultan Agung memerintahkan kepada Kyai sidik agar air ajimat yang masih tersisa dalam bokor kencana tadai dituangkan di tempuran kali Opak dan Gajah wong, dengan maksud supaya siapa saja yang membutuhkan cukup mandi di tempat tersebut. Berita itu cepat menyebar dan akhirnya masyarakat banyak yang mandi atau sekedar mencuci muka tempuran tersebut dengan harapan segala permasalahnnay dapat teratasi.

Versi III

Seperti yang telah diceritakan oleh narasumber (Woehid), cerita tentang Rebo Wekasan itu adalah sebagai berikut. Bagi masyarakat, yang namanya bulan Sura dan Sapar itu merupakan bulan tersebut sering terjadi mala petaka atau bahaya. Untuk itu masyarakat berusaha untuk menolaknya, supaya pada bulan-bulan tersebut tidak terjadi apa-apa. Adapun caranya adalah memohon kepada orang atau kyai yang dianggap lebih pintar atau mumpuni.

Pada waktu itu orang yang dianggap pintar adalah Kyai Muhammad Faqih dari Desa Wonokromo. Kyai Faqih ini juga disebut Kyai Welit, karena pekerjaannya adalah membuat welit atau atap dari rumbia. Mereka ini mendatangi Kyai Welit supaya  membuatkan tolak bala yang berbentuk wifik atau rajah yang bertuliskan Arab. Rajah ini kemudian dimasukkan ke dalam bak yang sudah diisi air lalu dipakai untuk mandi dengan harapan supaya yang bersangkutan selamat.

Lama-kelamaan orang yang datang minta wifik atau rajah itu sangat banyak, sehingga Kyai Welit sangat repot. Akhirnya Kyai Welit menemukan cara baru, yaitu wifik atau rajah yang dipasang di tempuran Kali Opak dan Kali Gajahwong. Dengan cara ini orang tidak periu mendatangi Kyai Welit dan mereka cukup mengambil air atau mandi di tempuran untuk mendapatkan berkah keselamatan sebagai sarana tolak bala. Konon di sungai tempuran itu setiap Rebo Wekasan bulan Sapar, yaitu pada-malam hari Selasa malam dipakai tempat penyeberangan orang-orang yang akan menuju ke Gunung Permoni yang terletak di Desa Karangwuni, Desa Trimulya. Saat mereka menyeberang sungai memang ada yang melontarkan kata-kata umpatan atau kurang pantas. Apalagi yang menyeberang adalah wanita dengan sendirinya harus cincing atau mengangkat rok/kain supaya tidak basah. Dan situlah yang kemudian orang mengatakan kata-kata yang kurang pantas.

Menurut narasumber (Woehid), mereka menyeberang sungai karena waktu itu untuk menuju ke Gunung Permoni belum ada jembatan yang menghubungkan. Untuk itu satu-satunya jalan adalah menyeberang sungai tempuran tadi. Gunung Permoni ini merupakan Tamansari Kraton Mataram di Plered dan di tempat itu dijumpai adanya beberapa batu peninggalan dan Tamansari tersebut, batu itu diantaranya : Batu Ambon, Batu Panah, Batu Payung, Batu Jarum Sembrani dan sebagainya. Mereka yang datang ke sana adalah nenepi atau untuk memohon sesuatu. Kaitannya dengan setiap hari Selasa malam Rabu - Rebo Wekasan - di bulan Sapar ini adalah banyaknya masyarakat yang menghadap kepada Kyai Faqih untuk meminta doa kepada beliau agar selamat dari malapetaka.

 d) Komponen Upacara

 (1) Waktu dan Tempat Upacara

Upacara Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan di Desa Wonokromo ini diadakan setahun sekali pada hari Selasa malam Rabu di minggu terakhir bulan Sapar. Dipilihnya hari tersebut dikaitkan dengan pertemuannya Sultan Agung dan Kyai Faqih pada hari itu dan bulannya Sapar minggu yang terakhir (KR, 1983).

Dulu upacara ini berada di tempuran Kali Opak dan Kali Gajahwong. Sedang keramaiannya atau pasar malam berada di dekat tempuran tersebut sampai ke depan masjid. Namun lama-kelamaan kegiatan itu semakin rarnai, sehingga mengganggu kegiatan ibadah Masjid. Untuk itu atas perintah Lurah Wonokromo, maka Upacara Rebo Wekasan, keramaian, atau pasar malamnya dipindah di depan balai desa yakni di Lapangan Wonokromo.

'

(2) Penyelenggaraan Upacara

Pada  jaman  dahulu  penyelenggara  upacara  adalah  masyarakat  Wonokromo  dan sekitarnya tanpa membutuhkan biaya. Namun mulai tahun 1990 Upacara Rebo Wekasan mulai dikoordinir oleh aparat desa dan sebagai ketua panitia adalah kadesnya. Kemudian seksi-seksi dibantu oleh aparat dan tokoh masyarakat.

Mengenai pembiayaan dulunya hanya pribadi-pribadi dan paling tidak hanya untuk modal jualan lemper dan membeli bunga tabur. Namun setelah upacara ini dikelola pemerintah desa, maka biaya penyelenggaraan diperoleb dari hasil sewa tempat untuk berbagai stan pada acara pasar malam. Disamping itu juga ada tambahan dana dari Dinas Pariwisata dan swadaya masyarakat.

 e)  Peralatan Sesaji dan Makna yang Terkandung Dalam Upacara Tersebut

 Pada jaman dahulu peralatan yang digunakan untuk upacara cukup sederhana terutama bagi yang mengambil air ya cukup membawa botol atau kaleng saja. Sedangkan untuk sesajinya berupa bunga. Namun setelah dikelola oleh perangkat desa, maka peralatan yang digunakan bermacam-macam dan umumnya dibuat dari bambu, misalnya untuk tempat menggotong lemper, tempat membawa gunungan, dan sebagainya. Adapun makna yang terkandung dalam lemper tersebut untuk mengingatkan kepada masyarakat bahwa Sultan Agung itu penggemar makan lemper.

 2)  Jalannya/Prosesi Upacara

Dalam menyambut Upacara Rebo Wckasan atau Rebo Pungkasan di Desa Wonokromo, Kecamatan Plered, biasanya seminggu sebelum puncak acara telah terdapat stan-stan permainan seperti ombak banyu, trem, dremolem, dan sebagainya. Kemudian ada pasar malam yang bentuknya seperti sekaten, yakni ada yang berjualan pakaian, makanan, mainan dan sebagainya.

Tapi yangjelas dalam berjualan makanan tersebut tentu dijumpai orang yang berjualan lemper. Pada tahun 1990 tradisi Upacara Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan sudah dikoordinir oleh panitia. Pada waktu itu sebagai puncak acara adalah kirab lemper raksasa, yaitu sebuah tiruan lemper yang berukuran tinggi 2,5 meter dengan diamter 45 cm. Lemper tersebut kemudian diarak dari Masjid Wonokromo menuju Balai Desa Wonokromo sejauh 2 km. Dalam kirab lemper ini diawali dengan barisan prajurit Kraton Ngayogyakarta, menyusul kemudian lemper raksasa tiruan yang diusung oleh empat orang, dan diikuti lemper yang berukuran sepanjang 40 cm dan 15 cm. Selanjutnya yang di belakangnya lagi adalah beberapa kelompok kesenian  setempat  seperti  Shalawatan, Kubrosiswo,  Rodat, dan  sebagainya yang ikut memeriahkan Upacara Rebo Wekasan.

Selama lemper raksasa diusung dari depan masjid dan dikirabkan, maka di kantor balai desa sudah banyak para tamu undangan yang menunggu kehadiran lemper raksasa di balai desa, lemper tersebut langsung ditempatkan di panggung yang telah disediakan. Beberapa saat kemudian upacara dibuka oleh ketua panitia, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan para pejabat di lingkungan pemerintahan yang diundang seperti camat, kepala dinas, dan sebagainya.

Setelah itu baru diadakan pemotongan lemper raksasa oleh pejabat tinggi yang merupakan puncak dari acara tersebut. lemper tadi lalu dibagi-bagikan kepada tamu undangan yang hadir dan pengunjung, dan kekurangannya ditambah dengan lemper biasa yang sengaja dibuat oleh panitia guna menutup kekurangan. Demikian pula Gunungan yang dibawa tadi juga dipotong dan dibagi-bagikan pada pengunjung bahkan untuk rebutan seperti yang terjadi dalam acara sekaten di Kraton Ngayogyakarta itu. Setelah itu Upacara Rebo Wekasan selesai, hanya saja untuk stan-stan seperti ombak banyu, para penjual dan sebagainya itu tetap masih ada kira-kira seminggu lamanya.

Kaitannya dengan orang mandi atau menyeberang tempuran yang ada istilah cincing tidak ada lagi, karena kali tersebut sekarang ini kedalamannya lebih dan satu meter, sebab di sekitamya dibuat bendungan untuk mengaliri sawah. Acara tersebut yang jelas bagi masyarakat Wonokromo adalah pengajian akbar atau mujahadah akbar yang dilaksanakan pada hari Selasa malam Rabu di bulan Sapar jatuh pada malam Rabu terakhir.

 3)  Perubahan dan Komentar

Seperti telah diuraikan di atas bahwa Upacara Rebo Wekasan sudah banyak mengalami perubahan baik dalam hal prosesinya maupun dalam pemakaian tempat upacara.

Jalannya/Prosesi upacara

-          Dahulu pusat upacara berasal dan tempuran Kali Gajahwong dan Kali Opak, dimana mereka yang akan menyeberang sungai tersebut dengan ada yang mengeluarkan ucapan-ucapan kotor. Namun sejak tahun 1990 dipindahkan di sekitar Balai Desa Wonokromo dan di Lapangan Wonokromo. Bahkan dalam upacara tersebut di masjid diadakan pengajian akbar.

-          Bagi mereka yang akan mengadakan nenepi di Gunung Permoni tidak perlu lagi harus menyeberang sungai melainkan sudah dibuatkan jembatan menuju ke gunung itu.

-          Sebagai puncak acara dalam Rebo Wekasan sekarang ini adalah mengarak lemper raksasa, yaitu dan masjid menuju balai desa selanjutnya dibagi-bagikan kepada para pengunjung.

 

 

Artikel Terpopuler


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi abdi ...


...
Istilah - Istilah Gamelan dan Seni Karawitan

by admin || 07 Maret 2014

Ada-ada. Bentuk lagu dari seorang dhalang, umumnya digunakan dalam menggambarkan suasana yang tegang atau marah, hanya diiringi dengan gender.    Adangiyah. Nama dari jenis ...




Artikel Terkait


...
PASAR MALAM PERAYAAN SEKATEN

by admin || 01 April 2012


...
GREBEG

by admin || 01 April 2012

Upacaya Grebeg berasal dari kata Grebe, Gerbeg. Grebeg dalam bahasa jawa bermakna suara angin. Kata dalam bahasa Jawa Anggrebeg, mengandung makna menggiring Raja, pembesar atau pengantin. Grebeg ...


...
Garebeg Mulud

by admin || 01 April 2012

Upacara Sekaten diadakan setahun sekali, dimulai pada hari kelima di bulan Mulud (bulan Jawa). Upacara ini merupakan perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. Masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya ...





Copyright@2023

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta