by admin|| 01 April 2012 || 39.812 kali
Secara Umum Karaton Yogyakarta adalah bagian dari mata Rantai kesinambungan pembangunan karaton-karaton di Jawa sehingga terdapat satu keterkaitan Tipologis yang mengaitkan Karaton Yogyakarta dengan tata Fisik Karaton Jawa sebelumnya bahkan pada skala yang lebih makro terdapat kaitan tipologis dengan istana-istana di Asia Tenggara dari kurun sebelumnya. Kesamaam tipologi ini terjadi karena latar belakang presepsi kosmologi yang sama, mewarisi tradisi Hindu tentang Jagad Purana yang berpusat pada suatu benua bundar Jambudwipa yang dikelilingi tujuan lapis daratan dan samudera. Pada Benua terdapat gunung Mahameru tempat para dewa bersemayam. Untuk menjaga keselarasan jagad, maka lingkungan binaanpun disusun secara konsentrik, membentuk istana sebagai replika jagad tersebut. Gambar Jagad Purana, Jambu dwipa Dalam tatanan ini kedudukan titik pusat sangatlah dominan, sebagai penjaga kesetabilan keseluruhan tatanan. Pada skala negara tatanan memusat terwujud dalam kota yang berpusat pada Kuthagara yang dikelilingi Negara Agung, Mancanegara dan Pesisiran pada lingkaran terluar Dengan luas 1,3 km2 , kraton dibagi menjadi 7 bagian, sesuai dengan anggapan yang diwarisi dari agama Hindu , bahwa angka 7 merupakan angka yang sempurna. Hal ini sesuai dengan prinsip kosmologi Jawa yaitu bahwa dunia terbagi dalam 3 lapisan, yaitu dunia atas, tempat bersemayamnya para dewa dan supreme Being, dunia tengah tempat manusia, dan dunia bawah yang mewakili kekuatan-kekuatan jahat di alam. Dari susunan ini, dunia atas dan bawah terbagi dalam 3 bagian, sehingga lapisan dunia inipun menjadi 7 lapis. Pembagian Kraton Yogyakarta menjadi 7 bagian (seven steps to heaven), antara lain : Lingkungan I : Alun-alun Utara sampai Siti Hinggil Utara Lingkungan II : Keben atau Kemandungan Utara Lingkungan III : Sri Manganti Lingkungan IV : Pusat Kraton Lingkungan V : Kemagangan Lingkungan VI : Kemandungan Kidul Lingkungan VII : Alun-alun Selatan sampai Sitihinggil Selatan Pada Karaton-karaton dinasti Mataram keberadaan pusat ini dalam wujud Bangsal Purbayeksa/Prabusuyasa sebagai persemayaman pusaka kerajaan dan tempat tinggal resmi Raja. Bangsal ini dilingkupi oleh pelataran Kedathon yang selanjutnya dilingkupi oleh pelataran Kemagangan, Kemandhungan dan Alun-alun pada lingkup terluar Tata Ruang Karaton (pola konsentrik) Lapis Terluar terdapat : Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan dengan segala atributnya, yang terdiri dari : Alun-alun Utara dengan Masjid Agung, Pekapalan, Pagelaran dan Pasar yang membentuk Catur Gatara Tunggal Alun Alun Selatan dengan Kandang Gajah Kepatihan sebagai prasarana Birokrasdan Benteng sebagai prasarana Militer Lapis ke dua Siti Hinggil - suatu halaman yang ditinggikan pelataran ini berada baik pada sisi utara dan selatan Siti Hinggil Utara - terdapat bangsal Witana dan bangsal Manguntur Tangkil - tempat Sultan mengadakan upacara kenegaraan Siti Hinggil Selatan - dipergunakan untuk kepentingan sultan yang lebih privat seperti menyaksikan latihan keprajuritan hingga adu macan dengan manusia (rampogan) atau banteng Supit Urang / Pamengkang adalah jalan yang melingkari Siti HInggil Lapis ke Tiga Pelataran Kemadhungan Utara dan Pelataran Kemandhungan Selatan. Suatu ruang transisi menuju pusat pada pelataran Kemadhungan Utara terdapat bangsal Pancaniti dan di pelataran Kemandhungan Selatan bangsal Kemandhungan. Lapis Ke Empat Pelataran Sri Manganti dengan bangsal Sri Manganti yang merupakan ruang tunggu untuk menghadap raja. Bangsal Trajumas berada di sisi utara Pelataran Kemagangan dan Bangsal Kemagangan berada di sisi selatan sebagai ruang transisi akhir sebelum ke pusat Istana Pusat Konsentrik Pelataran Kedhaton - pusat konstelasi tata ruang di kraton pada tengah pelataran ini terdapat susunan tata bangunan Jawa pada umumnya yang terdiri dari Tratag, Pendhopo, Peringgitan, Dalem. Kasatriyan dan Dalem Kasatriyan terletak di timur komplek Kedaton Keputren berada di sisi Barat komplek Kedaton Setiap pelataran tersebut dilingkupi oleh Benteng yang membentuk enclosure yang cukup kuat dan antar pelataran dihubungkan oleh Gerbang sehingga ada 9 (sembilan Gerbang karena ada 9 (sembilan) pelataran 1.Gerbang Pangurakan 2.Gerbang Tarub Agung 3.Gerbang Brajanala 4.Gerbang Srimanganti 5.Gerbang Danapratapa 6.Gerbang Kemagangan 7.Gerbang Gadung Mlathi 8.Gerbang Kemandhungan 9.Gerbang Gadhing Simbolisasi angka sembilan (9) dilihat dari jumlah pelataran, dan jumlah Gerbang karena memiliki arti simbolik kesempuranan sebagai alegori dari sembilan lubang yang ada pada manusia. Pembangunan Karaton ini juga memiliki sumbu imajener Utara-Selatan sebagai sumbu Primer dan sumbu barat-timur sebagai sumbu sekunder Tata ruang dan Kesakralan Dalam kehidupan keraton. Sultan adalah figur sentral, wakil Tuhan di Bumi , pemegang kuasa militer dan keagamaan (Senapati Ingaaga Nagabdul Rahman Sayidina Panatagama Kalipatullah) sehingga Sultan dianggap sakral, begitu pula semua kegiatan resmi Sultan . Sehingga kesakralan ruang-ruiang dapat diindikasikan dari frekuensi serta intensitas kegiatan sultan pada aarea tersebut. Alun-alun, Pagelaran, Siti Hinggil pada tempat ini Sultan hadir hanya 3 kali satu tahun yaitu pada saat Pisowanan Ageng Grebeg Mulud, Sawal dan Besar. Serta kesempatan yang sangat insidental yang sangat khusu misal pada saat Penobatan Sultan dan Penobatan Putra Mahkota / Pangeran Adipati Anom . Kemandhungan kegiatan Sultan disini lebih intensif . Pada Pelataran ini terdapat Bangsal Pancaniti yang secara harafiah berarti (memeriksa lima) di sini Sultan melakukan pengadilan (khusus perkara yang ditangani Raja) bangsal ini digunakan pula oleh sebagian Abdi Dalem menunggu untuk menghadap Raja. Pelataran Srimanganti tingkatan berikutnya. Pada area ini Sultan sering menerima tamu yang tidak terlalu formal dan semi formal. Di Bangsal ini Sultan Hamangkubuwana II menulis dan membacakan, buku kramat, Serat Suryaraja dihadapan para punggawa. Pelataran Kedaton merupakan pelatran yang paling dalam dan sakral. Di pusatnya terdapat rumah segala pusaka milik Karaton, Prabayeksa dan bangsal Kencana tempat dimana Sultan bertahta memerintah sepanjang tahun. Ditempat ini Sultan menerima tamu paling penting setara Residen dan Gubernur.
by admin || 07 Maret 2014
Ada-ada. Bentuk lagu dari seorang dhalang, umumnya digunakan dalam menggambarkan suasana yang tegang atau marah, hanya diiringi dengan gender. Adangiyah. Nama dari jenis ...
by admin || 05 Maret 2014
Ngithing. Posisi tangan dengan mempertemukan ujung jari tengah ibu jari membentuk lingkaran, sedangkan jari-jari lainnya agak diangkat keatas dengan masing-masing membentuk setengah ...
by admin || 04 Maret 2014
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi abdi ...
by admin || 01 April 2012
Berdirinya Kota Yogyakarta berawal dari adanya Perjanjian Gianti pada Tanggal 13 Februari 1755 yang ditandatangani Kompeni Belanda di bawah tanda tangan Gubernur Nicholas Hartingh atas nama Gubernur ...
by admin || 01 April 2012
Untitled Document Kota Yogyakarta pada masa lalu menjadi ibu kota kasultanan Yogyakarta, sebenarnya adalah sebuah kota yang terencana dimana komponen - kompenenya memang sudah diatur sedemikan ...
by admin || 01 April 2012
SO 1 Maret merupakan reaksi atas didudukinya Kota Yogyakarta oleh Belanda pada tanggal 19 Desember 1948. Sebelumnya perjuangan di lakukan secara gerilya pada malam hari. Belanda mengumumkan kepada ...