by admin|| 01 April 2012 || 14.848 kali
Upacara adat ini terletak di desa Srimulyo, Piyungan Bantul, bertempat di makam
Sunan Geseng yang terletak di dusun Jolosutro.
Menurut legenda rakyat setempat pada waktu permaisuri Pangeran Sedo Krapyak atau
Mas Jalang mengandung beliau mengidamkan ikan yang bersisik emas atau dikenal
dengan nama wader neng sisik kencana, oleh karen sulitnya mencari ikan tersebut
lalu diadakan sayembara. Ada seorng yang menyanggupi mengikuti sayembara yaitu
Sunan Geseng. Sunan Geseng mengajukan syarat agar disediakan benang sutra untuk
digunakan sebagai jala, karena ikan tersebut hanya bisa ditangkap dengan jala
terbuat dari benang sutra, akhirnya sayembara itu dimenangkan dan tempat untuk
membuat jala itu kemudian diberi nama Jolosutro.
Sebagai tanda terima kasih atas jasa Sunan Geseng ia diangkat memjadi sesepuh
kerajaan dan dimintanya tinggal di kerajaan. Akan tetapi Sunan Geseng menolaknya
ia memiliki tetap toinggal di Jolosutro. Di jolosutro ia semakin berpengaruh dan
segala macam kegiatan selalu minta pertimbangannya. Sejak jaman Sunan Geseng masih
hidup, masyarakat jolosutro pada setiap tahunnya selalu melaksanakan upacara rasul;an
setiap habis panan padi. Pada dsaat upacara rasulan berlangsung banyak tamu yang
datang bahkan juga termasuk dari Kraton . Untuk menjamu tau dari Kraton dalam
setiap upacara selalu dihidangkan makanan yang bukan termasuk sesaji yaitu berupa
ketupat berikut lauk pauknya. Namum tidak seperti ketupat pada umumnya ketupat
Jolosutro dibungkus dengan daun gebang dan ukurannya lebih besar yaitu 15 x 15
cm sampai 356 x35 cm .Sedangkan cara mengolahnya berbeda dengan ketupat biasa
sehingga rasanya juga lain, lauk pauknya pun berupa gudheg manggar . Ketupat rasulan
ini menjadi hidangan khas pada upacara rasulan di Jolosutro sampai sekarang.
Maksud dan tujuan dari upacara ini adalah sebagai ungkapan rasa syukur terhadap
Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan berkah dan karunianya sehingga hasil
pertaniannya bisa berhasil dengan baik ,disamping itu juga mihon berkah agar hasil
pertanian yang akan datang bisa lebih baik dari tahun kemarin. Disamping itu juga
mendoakan kepada nabi Muhammad SAW dan para leluhur termasuk Sunan Geseng agar
diberi selalu rahamat dan berkah.
Upacara kupatan Jolosutro dilaksanakan sesudah masa panen padi , hari senin legi
bulan Sapar. Namun karena waktu panen mengalami perubahan untuk bulan tidak mesti
bulan Sapar dan nama pasaran juga tidak mesti legi asal bukan Pon, sedangkan tanggalnya
berdasarkan pedoman penanggalan jawa yaitu tanggal 10 s.d. 15 saat menjelang bulan
purnama. Puncak acara dilaksanakan pada siang hari antara pukul 14.00 - 16.00
wib.
Peralatan Upacara.
Sesaji merupakan salah satu unsur yang harus ada dalam pelaksanaan upacara tradisional
. Adapun sesaji dalam upacara Kupatan Jolosutro adalah :
a. Untuk Nyekar.
- Bunga rasulan/
Bunga telon : Bunga yang terdiri dari mawar, melati, kenanga, melambangkan
keharuman doa yang keluar dari hati tulus dan bau harum melambangkankemuliaan.
- Kemenyan : Sarana permohonan pada waktu orang berdoa. Kemenyan yang
dipakai akan menimbulkan asap yang berbau harum.
b. Untuk Kenduri.
- Nasi ambeng : Nasi putih biasa dengan rangkaian lauk pauk seperti sambal
goreng, semur, gudheg, rempeyek, tempe bakar dsb. Nasi ambeng ini sebagai simbul
permohonan kepada Tuhan agar arwah para leluhur diampuni Tuhan.
- Nasi Gurih : Nasi putih yang diberi santan, garam dan daun salam sehingga
rasanya gurih. Nasi ini sebagai simbul permohonan keselamatan kepada Nabi Muhammad
Saw beserta sahabat-sahabatnya.
- Ingkung : Ayam yang dimasak secara utuh diberi bumbu tidak pedas dan
santan ingkung melambangkan bayi yang masih suci belum mempunyai kesalahan.
Ingkung juga melambangkan kepasrahan pada Tuhan.
- Jajan Pasar : Sesaji yang terdiri dari bermacam-macam makanan yang dibeli
di pasar. Jajan pasar bernakna suatu harapan agar warga masyarakat dusun Jolosutro
memperoleh berkah dari Tuhan.
- Hasil Palawija : Bermacam-macam hasil pertanian masyarakat yang terdiri dari
ketela pohon, ubi-ubian, jagung, padi, dsb. Hasil palawija ini melambangkan
penghormatan masyarakat Jalasutra terhadap para leluhur.
- Rengginan : Ketan dimasak/dikukus dan diberi bumbu secukupnya, setelah
dimasak diberi gula kelapa, lalu dicetak berbentuk segitiha dengan ukuran penjang
sisinya 3 cm dan lebar dasarnya 20 cm. Rengginan yang berbentuk melengkung dengan
bintang-bintang di sisi yang melengkung ke dalam melambangkan bentuk sakral.
Rengginan segitiga menggambarkan orang duduk bersila memohon kepada Tuhan.
- Puthu kering : Makanan yang dibuat dari beras ketan kemudian digoreng
hingga berwarna hitam. Selanjutnya ditumbuk dan diberi gula jawa, dicetak bulat-bulat
dengan cangkir atau mangkuk kecil. Puthu kering hitam melambangkan kulit Sunan
Geseng yang hitam legam. Ketan mempunyai makna bahwa Sunan Geseng selalu melekat
di hati masyarakat Jolosutro.
- Ketan enthen-enthen : Makanan yang dibuat dari ketan yang dimasak seperti
membuat
jadah, tetapi dicampur dengan parutan kelapa dan diberi gula kelapa.
- Ketupat : Melambangkan agar masyarakat pendukung upacara
mengharapkan agar persatuan, kesatuan, kesadaran dan kegotong royongan akan
tetap terpelihara dengan baik.
- Jodhang : Tempat untuk menempatkan sesaji kenduri seperti nasi, ambeng,
nasi gurih, ingkung, jajan pasar, hasil polowijo, rengginan, ketan enten-enten.
Jodhang ini dibuat dari kayu berukuran 1,5 m x 1 m dan tingginya kurang lebih
75 cm.
a. Untuk kenduri.
Nasi ambeng.
b. Untuk kenduri di makam Prayan.
Nasi ambeng.
Prosesi Upacara.
Pada hari senin legi setelah sholat dhuhur jodhang-jodhang yang berisi sesaji
kenduri dari berbagai RT di wilayah dusun Jolosutru dibawa berkumpul di lapangan
Jolosutro .Setelah segala sesuatunya siap kemudian secara bersama - sama jodhang
- jodhang tersebut dibawa menuju tempat upacara di makam Sunan Geseng. Arak
-arakan jodhang menuju tempat upacara diikuti oleh para warga pendukungnya dan
diiringi dengan kesenian rakyat jathilan, selanjutnya jodhang - jodhang tersebut
ditata dengan rapi.
Pukul 14.00 acara dimulai dengan diawali sambutan Kepala Desa Srimulyo yang
berisi maksud dan tujuan upacara adalah ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha
Esa atas segala rahmat dan karunianya, kemudian dilanjutkan dengan sambutan
Camat Piyungan.
Acara inti diawali dengan pembacaan ikrar yang diucapkan oleh juru kunci makam
Sunan Geseng, isi ikrar tersebut merupakan ungkapan rasa syukur dan terimakasih
kepada Tuhan atas segala rahmat yang telah dilimpahkan sehingga masyarakat bisa
memetik hasik pertanian dengan baik dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh kaum,
setelah selesai dilanjutkan dengan makan bersama dari sesaji kenduri yang telah
disediakan berupa nasi ameng, nasi gurih beserta lauk pauknya serta hasil palawijo,
jajan pasar, rengginan dan enten - enten.
by admin || 07 Maret 2014
Ada-ada. Bentuk lagu dari seorang dhalang, umumnya digunakan dalam menggambarkan suasana yang tegang atau marah, hanya diiringi dengan gender. Adangiyah. Nama dari jenis ...
by admin || 05 Maret 2014
Ngithing. Posisi tangan dengan mempertemukan ujung jari tengah ibu jari membentuk lingkaran, sedangkan jari-jari lainnya agak diangkat keatas dengan masing-masing membentuk setengah ...
by admin || 04 Maret 2014
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi abdi ...
by admin || 01 April 2012
by admin || 01 April 2012
Upacaya Grebeg berasal dari kata Grebe, Gerbeg. Grebeg dalam bahasa jawa bermakna suara angin. Kata dalam bahasa Jawa Anggrebeg, mengandung makna menggiring Raja, pembesar atau pengantin. Grebeg ...
by admin || 01 April 2012
Upacara Sekaten diadakan setahun sekali, dimulai pada hari kelima di bulan Mulud (bulan Jawa). Upacara ini merupakan perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. Masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya ...