Upacara Sadran dan Tabur benih, Giriharjo, Panggang

by admin|| 01 April 2012 || 9.755 kali

...

Upacara Sadran yang dilakukan setahun sekali disetiap bulan Ruwah dimaksudkan untuk berziarah ke makam leluhur. Upacara ini bermakna adanya hubungan manusia dengan leluhur yang mengisyaratkan adanya rasa kecintaan, balas budi kepada leluhur. Sebelum upacara Sadran didahului dengan acara membuat ketan, kolak, apem dan sesaji lainnya yaitu sega gurih dan lauk pauknya.

 

Rangkaian sesaji upacara :

a.       Apem bermakna ngapura ( minta maaf )

b.      Kolak bermakna Kolado ( kebenaran )

c.       Ketan bermakna Khotan ( Keluputan/kesalahan )

d.      Nasi gurih/uduk beserta lauk pauknya bermakna kebesaran Tuhan dan mohon maaf kepada Tuhan Yang Maha Esa.

 

Pelaksanaan upacara pada tanggal 25 Ruwah dilaksanakan siang hari sampai sore, tradisi ini dimulai dengan Rasulan/Sedhekahan biasanya dilaksanakan setelah panen. Para warga membuat makanan untuk slametan rasulan berupa satu tumpeng kecil dan ingkung, selanjutnya berkumpul di rumah Kadus dengan membawa tumpeng masing – masing dan dilakukan doa–doa bersama dan makan bersama/kenduri, setelah selesai baru diadakan ziarah ke makan leluhur . Pada siang hari dan malam harinya diadakan acara kesenian dan wayang kulit.

 

Upacara tabur benih

Upacara tabur benih dilakukan para  petani dengan mengadakan slametan untuk memohon kepada leluhur dan yang kuasa supaya benih yang ditabur dapat tumbuh subur dan tidak diganggu kama serta memohon keselamatan, perlindungan dan kesehatan para petani karena mayoritas penduduknya adalah petani.

Pelaksanaan upacara pada bulan kesepuluh pada saat itu para petani melakukan kegiatan yang disebut ngawu–awu yaitu petani sudah melakukan kegiatan menaburkan benih dilahannya tetapi belum jatuh hujan.

 

Rangkaian sesaji upacara :

a.       Sekul wuduk  bermakna supaya permohonan petani dikabulkan

b.      Jajan pasar bermakna supaya diberi kelimpahan hasil panen yang baik dari semua yang ditanam petani

Artikel Terpopuler


...
Istilah - Istilah Gamelan dan Seni Karawitan

by admin || 07 Maret 2014

Ada-ada. Bentuk lagu dari seorang dhalang, umumnya digunakan dalam menggambarkan suasana yang tegang atau marah, hanya diiringi dengan gender.    Adangiyah. Nama dari jenis ...


...
Istilah- Istilah Gerakan Tari  Gaya  Yogyakarta

by admin || 05 Maret 2014

Ngithing. Posisi tangan dengan mempertemukan ujung jari tengah ibu jari membentuk lingkaran, sedangkan jari-jari lainnya agak diangkat keatas dengan masing-masing membentuk setengah ...


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi abdi ...



Artikel Terkait


...
PASAR MALAM PERAYAAN SEKATEN

by admin || 01 April 2012


...
GREBEG

by admin || 01 April 2012

Upacaya Grebeg berasal dari kata Grebe, Gerbeg. Grebeg dalam bahasa jawa bermakna suara angin. Kata dalam bahasa Jawa Anggrebeg, mengandung makna menggiring Raja, pembesar atau pengantin. Grebeg ...


...
Garebeg Mulud

by admin || 01 April 2012

Upacara Sekaten diadakan setahun sekali, dimulai pada hari kelima di bulan Mulud (bulan Jawa). Upacara ini merupakan perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. Masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya ...





Copyright@2024

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta