by admin|| 01 April 2012 || 9.532 kali
Upacara ini dilaksanakan setelah panen sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan hasil panen yang cukup pada para petani selama satu tahun . Pelaksanaan upacara hari Rabu Wage . Bentuk pelaksanaan upacara diawali dengan membersihkan makan , tempat – tempat yang dianggap keramat yaitu sumber Lanang dan sumber Dola yang dilaksnakan secara bersama – sama , sedangkan puncak acara dilaksanakan di balai dusun Jimbaran dan pada malam harinya diadakan hiburan wayang kulit dll. Menurut kepercayaan masyarakat sumber Dola dihuni oleh roh halus Nyai Gadungmlati dan sumur Lanang dihuni oleh Kyai Murwojoyo.
Rangkaian sesaji upacara untuk sumber Dola :
a. Nasi ambeng : Nasi putih beserta lauk pauknya, oseng – oseng,
gudheg, tempe, tahu dsb dengan maksud untuk mengirim leluhur yang ada di desa Tambakkromo
b. Nasi Golong : Nasi putih dibuat bulat melambangkan kebulatan
tekad Warga Untuk melaksnakan upacara.
c. Jenang Bakul : Beras yang diberi gula dan kelapa yang diris kecil –
kecil.
d. Kembang Boreh : Bedak yang dibuat dari tepung beras dengan
Ramuan Wewangian ditujukan untuk Nyai Gadung Mlati.
e. Sekapur Sirih : Suruh lengkap dengan gambir, apu, kinang, tembakau
Dituju-kan untuk Nyai Gadungmlati.
f. Kolak : Daging mentah atau hati mentah yang disunduk
pakai sujen dimaksudkan agar Nyai Gadungmlati menjaga keselamatan penduduk Jimbaran.
g. Jadah : Makanan dari tepung beras ketan yang ditumbuk bersama parutan kelapa sampai halus dan lekat melambangkan warga masyarakat dapat lekat menjadi satu , sulit dipisahkan .
h. Tumpak : Makanan dari tepung beras ketan yang ditumbuk bersama dengan parutan kelapa dan gula kelapa sehingga rasanya manis, melambangkan agar warganya bahagia.
i. Bunga Rasulan : Mawar, melati, kenanga, bermakna keharuman doa yang Melambangkan kemuliaan .
j. Pisang Raja : Melambangkan suatau harapan agar kelak warganya bahagia seperti raja.
k.Kemenyan : Merupakan sarana permohonan pada waktu orang melakukan doa.
l. Uang : Sebagai rasa terimakasih.
m. Panjang ilang : Keranjang khusus yang dibuat dari daun kelapa muda ber-Warna kuning, berisi nasi ambeng, nasi golong, jenang bakul, kembang boreh, sekapur sirih, kolak, jadah, tumpak, pisangraja dan uang.
Untuk Kenduri :
a. Nasi Ambeng beserta lauk pauk: nasi yang dibungkus dengan daun pisang dan cara membungkusnya dilipat pada kedua ujungnya (dipenak), setiap keluarga membawa nasi ambeng 7–12 bungkus.
b. Tumpeng : berupa nasi putih berbentuk kerucut melambangkan
sebuah pengharapan kepada Tuhan agar permohonannya dapat terkabul.
c. Nasi Gurih/Wuduk : nasi putih yang diberi santan, garam dan daun salam
sehingga rasanya gurih sebagai maksud untuk keselamatan.
d. Ingkung : ayam yang dimasak secara utuh melambangkan
kelakuan pasrah/menyerah pada kekuasaan Tuhan.
e. Jadah, Umpak, gula jawa, pisang raja , kembang boreh
f. Jajan pasar : sesaji yang terdiri dari bermacam–macam makanan
yang dibeli dipasar dimaksudkan untuk mendapatkan kelimpahan dalam mengerjakan sawah.
Untuk Bumi :
Sesaji untuk bumi seperti sesaji kenduri yang disediakan Kepala Dusun.
Untuk Dalang :
Sesaji untuk dalang sama seperti sesaji kenduri yang disediakan oleh dusun, hanya ditambah :
- Sisir, suri dan cermin sebagai lambang perlengkapan berhias.
- Polokependem : hasil bumi, uwi, gembili, kimpul, ketela pohon dan lain-lain sebagai
ungkapan syukur kepada leluhur yang telah memberi hasil bumi yang melimpah.
- Kelapa dan beras : dipersembahkan kepada leluhur karena panen dapat berhasil dengan
baik.
- Gagar mayang : semacam boket yang terbuat dari beberapa macam, daun–daunan
merupakan lambang bagi kesejahteraan hidup, terdiri dari daun apa – apa, alang–alang, kluwih, dhadhap serep, beringin, andhong, tebu dll.
- Jenang baro–baro: bubur yang terbuat dari bekatul yang diatasnya diberi potongan kecil-
kecil gula kelapa melambangkan penghormatan kepada leluhur untuk memperoleh keselamatan.
- Panjang ilang : yang berisi air kelapa muda
by admin || 07 Maret 2014
Ada-ada. Bentuk lagu dari seorang dhalang, umumnya digunakan dalam menggambarkan suasana yang tegang atau marah, hanya diiringi dengan gender. Adangiyah. Nama dari jenis ...
by admin || 05 Maret 2014
Ngithing. Posisi tangan dengan mempertemukan ujung jari tengah ibu jari membentuk lingkaran, sedangkan jari-jari lainnya agak diangkat keatas dengan masing-masing membentuk setengah ...
by admin || 04 Maret 2014
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi abdi ...
by admin || 01 April 2012
by admin || 01 April 2012
Upacaya Grebeg berasal dari kata Grebe, Gerbeg. Grebeg dalam bahasa jawa bermakna suara angin. Kata dalam bahasa Jawa Anggrebeg, mengandung makna menggiring Raja, pembesar atau pengantin. Grebeg ...
by admin || 01 April 2012
Upacara Sekaten diadakan setahun sekali, dimulai pada hari kelima di bulan Mulud (bulan Jawa). Upacara ini merupakan perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. Masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya ...