Upacara Rasulan Bersih Desa, Tambkromo, Ponjong

by admin|| 01 April 2012 || 9.038 kali

...

Upacara ini dilaksanakan setelah panen sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan  Yang Maha Esa  karena telah memberikan hasil panen yang cukup pada para petani selama satu tahun . Pelaksanaan upacara hari Rabu Wage . Bentuk pelaksanaan upacara diawali dengan membersihkan makan , tempat – tempat yang dianggap keramat yaitu sumber Lanang dan sumber Dola yang dilaksnakan secara  bersama – sama , sedangkan puncak acara dilaksanakan di balai dusun Jimbaran dan pada malam harinya diadakan hiburan wayang kulit dll. Menurut kepercayaan masyarakat sumber Dola dihuni oleh roh halus Nyai Gadungmlati dan sumur Lanang dihuni oleh Kyai Murwojoyo.

 

Rangkaian sesaji upacara  untuk sumber Dola :

a.       Nasi ambeng                      :  Nasi   putih   beserta  lauk   pauknya,   oseng – oseng,

gudheg, tempe, tahu dsb dengan maksud untuk mengirim leluhur yang ada di desa Tambakkromo

b.      Nasi Golong                       :  Nasi putih  dibuat bulat  melambangkan kebulatan

tekad  Warga Untuk melaksnakan upacara.

c.       Jenang Bakul                      :  Beras yang diberi  gula dan kelapa yang diris kecil –

kecil.

d.      Kembang Boreh                 :  Bedak   yang    dibuat   dari   tepung   beras   dengan 

Ramuan Wewangian  ditujukan untuk Nyai Gadung Mlati.

e.       Sekapur Sirih                      :  Suruh  lengkap  dengan gambir, apu, kinang, tembakau

Dituju-kan untuk Nyai Gadungmlati.

f.        Kolak                                 :  Daging  mentah  atau  hati mentah  yang  disunduk

pakai sujen dimaksudkan agar Nyai Gadungmlati menjaga keselamatan penduduk Jimbaran.

g. Jadah                                 :  Makanan   dari  tepung  beras  ketan  yang  ditumbuk  bersama parutan kelapa sampai halus dan lekat melambangkan warga masyarakat dapat lekat menjadi satu , sulit dipisahkan .

h. Tumpak                              :  Makanan  dari   tepung  beras  ketan  yang  ditumbuk  bersama dengan parutan kelapa dan gula kelapa sehingga rasanya manis, melambangkan agar warganya bahagia.

i.   Bunga Rasulan                    :  Mawar,   melati,   kenanga,  bermakna   keharuman   doa  yang Melambangkan  kemuliaan .

j.  Pisang Raja                        :  Melambangkan suatau  harapan  agar kelak  warganya bahagia seperti raja.

k.Kemenyan                          :  Merupakan sarana  permohonan  pada waktu orang melakukan doa.

l.   Uang                                  :  Sebagai rasa terimakasih.

m.     Panjang ilang                   :  Keranjang  khusus  yang  dibuat  dari  daun  kelapa  muda ber-Warna kuning, berisi nasi ambeng, nasi golong, jenang bakul, kembang boreh, sekapur sirih, kolak, jadah, tumpak, pisangraja dan uang. 

 

Untuk Kenduri :

a.       Nasi Ambeng beserta lauk pauk:  nasi   yang   dibungkus  dengan   daun  pisang  dan cara membungkusnya dilipat pada kedua ujungnya (dipenak), setiap keluarga membawa nasi ambeng 7–12 bungkus.

b. Tumpeng                                    :  berupa  nasi  putih  berbentuk  kerucut   melambangkan

sebuah pengharapan kepada Tuhan agar permohonannya dapat terkabul.

c. Nasi Gurih/Wuduk                      :  nasi  putih  yang  diberi  santan,  garam dan daun salam

sehingga rasanya gurih sebagai maksud untuk keselamatan.

d. Ingkung                                      :  ayam   yang    dimasak   secara   utuh    melambangkan

kelakuan pasrah/menyerah pada kekuasaan Tuhan.

e. Jadah, Umpak, gula jawa, pisang raja , kembang boreh

f. Jajan pasar                                  :  sesaji  yang   terdiri dari   bermacam–macam  makanan

yang dibeli dipasar dimaksudkan untuk mendapatkan kelimpahan dalam mengerjakan sawah.

Untuk Bumi :

Sesaji  untuk  bumi  seperti  sesaji  kenduri    yang  disediakan  Kepala Dusun.

 

Untuk Dalang :

Sesaji  untuk dalang  sama seperti sesaji kenduri yang disediakan oleh dusun, hanya ditambah :

- Sisir, suri dan cermin sebagai lambang perlengkapan berhias.

- Polokependem     :  hasil bumi, uwi, gembili,  kimpul,  ketela pohon  dan  lain-lain sebagai

ungkapan syukur kepada leluhur yang telah memberi hasil bumi yang melimpah.

- Kelapa dan beras : dipersembahkan kepada leluhur karena panen dapat  berhasil dengan

baik.

- Gagar mayang      :  semacam  boket  yang  terbuat  dari   beberapa  macam,   daun–daunan

merupakan lambang bagi kesejahteraan  hidup, terdiri dari daun apa – apa, alang–alang, kluwih, dhadhap serep, beringin, andhong, tebu dll.

-   Jenang baro–baro: bubur yang terbuat dari bekatul yang diatasnya diberi potongan kecil-

kecil gula kelapa melambangkan penghormatan kepada leluhur untuk  memperoleh keselamatan.

- Panjang ilang        : yang berisi air kelapa muda

Artikel Terpopuler


...
Istilah - Istilah Gamelan dan Seni Karawitan

by admin || 07 Maret 2014

Ada-ada. Bentuk lagu dari seorang dhalang, umumnya digunakan dalam menggambarkan suasana yang tegang atau marah, hanya diiringi dengan gender.    Adangiyah. Nama dari jenis ...


...
Istilah- Istilah Gerakan Tari  Gaya  Yogyakarta

by admin || 05 Maret 2014

Ngithing. Posisi tangan dengan mempertemukan ujung jari tengah ibu jari membentuk lingkaran, sedangkan jari-jari lainnya agak diangkat keatas dengan masing-masing membentuk setengah ...


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi abdi ...



Artikel Terkait


...
PASAR MALAM PERAYAAN SEKATEN

by admin || 01 April 2012


...
GREBEG

by admin || 01 April 2012

Upacaya Grebeg berasal dari kata Grebe, Gerbeg. Grebeg dalam bahasa jawa bermakna suara angin. Kata dalam bahasa Jawa Anggrebeg, mengandung makna menggiring Raja, pembesar atau pengantin. Grebeg ...


...
Garebeg Mulud

by admin || 01 April 2012

Upacara Sekaten diadakan setahun sekali, dimulai pada hari kelima di bulan Mulud (bulan Jawa). Upacara ini merupakan perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. Masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya ...





Copyright@2024

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta