Srandul : Murcane Wong Ageng Menak

by admin|| 01 April 2012 || 12.109 kali

...


Ditengarai oleh Th. Pegeaud, SRANDHUL, yang sepenuhnya diadakan oleh dan untuk masyarakat desa setempat, merupakan tontonan khas rakyat Yogyakarta, Wonogiri, dan Pajang; sedang menurut budayawan Kuntowijoyo, kesenian ini dipengaruhi oleh dinamika budaya perbukitan nan gersang dan minus air.

Bibit kemunculan kesenian yang dulunya lebih bersifat ""mbarang"" (mengamen) ini berada di seputar Wonogiri, lalu secara pesat berkembang ke arah Barat melalui 2 rute utama, yakni rute utara/tengah (meliputi: Bayat, Klaten, Prambanan, Sambilegi, Wonocatur, Sayegan, Bangunjiwa, Kasihan); dan rute
Selatan (meliputi area-area pegunungan pesisir pantai Pundong, Kretek, Bambanglipuro, Srandakan, Sewon, Banguntapan, Sedayu, Kasihan). Rute Utara lazimnya menguarkan lakon-lakon Dhadhungawuk, sedang rute Selatan melafalkan lakon-lakon yang diambil dari Serat Babad Menak, karena itu berpijak pada cerita bernafaskan Islam (contoh: persitiwa tewasnya Wong Ageng Menak Jayengrana seperti lakon yang akan kita saksikan kelak). Namun tentu, dalam perkembangannya mengalami banyak perubahan dalam gerak, pola lantai, kembangan cerita, rias-busana, iringan, penari, properti, urutan, dan lain-lain.

SRANDHUL, muncul sekitar masa-masa pemberontakan Pangeran Diponegoro dan Sri Susuhunan Paku Buwono VI, dan terkulminasi bersamaan dengan pelaksanaan reorganisasi agraria dan politik tanam paksa di desa-desa oleh pemerintah kolonial Belanda; karena itu lah, drama-tari ini merupakan pralambang satire
yang halus-unik, sebagai reaksi rakyat terhadap penjajahan oleh Belanda, tak ubahnya seperti spirit-spirit seni perlawanan yang dibawa oleh kesenian dari daerah lain, misalnya, kesenian ""ludruk"" di Jawa Timur.

Sebagai seni khas rakyat, suasana komunal kuat terasa. Pengiring dan pelakunya tak sedikit jumlahnya. Namun, paling tidak ada 5 tokoh yang akan selalu hadir sebagai set alur utama, yakni: Jatikarna (raja Puserbumi),
Patih Srandhul (patih Puserbumi), Endang Puraisin (kakak Jartikarna), serta Nagadewa dan Gabahrata (masing-masing raja dan patih dari Nglakata). Cerita berkisar pada perebutan jasad Wong Ageng Menak Jayengrana antara kerajaan Puserbumi dan Nglakata.

 

Oleh: shmir ang

Artikel Terpopuler


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi ...



...
Raden Wedono Larassumbogo

by admin || 04 Maret 2014

Raden Wedono Larassumbogo, putra kedua dari R. Sosrosidurejo ini dilahirkan di Kampung Bumijo Yogyakarta  pada tanggal 27 Juli 1884 atau 12 Dulkongidah wawu 1813. Pada masa kecilnya ...



Artikel Terkait


...
Langen Mandra Wanara

by admin || 01 April 2012

Langen Mondro Wanoro adalah kombinasi dari beberapa cabang tarian, lagu, drama dan musik gamelan. Kesenian ini adalah bentuk kesenian tradisional yang merupakan keistimewaan Yogyakarta. Karakteristik ...


...
Jatilan

by admin || 01 April 2012

Para penari Jatilan menggunakan kuda-kudaan tipis yang dibuat dari anyaman bambu. Tarian selalu ditampilkan di luar ruangan dengan diiringi musik khusus yang menggunakan sebagian instrumen gamelan ...


...
Ramayana Ballet Purawisata

by admin || 01 April 2012

Ramayana Ballet Purawisata adalah group Ramayana generasi III setelah Ramayana Prambanan dan Ramayana Sompilan. Ramayana Sompilan sudah tidak lagi menggelar pentas rutinnya sejak akhir tahun 1974. ...





Copyright@2019

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta