Beksan Sekar Medura

by admin|| 04 Maret 2014 || 33.137 kali

...

 

Tari putera yang para penarinya membawa botol minuman, ditarikan oleh 8 penari putera. Disebut juga Beksan Gendul. Penyebutan Beksan Gendul ini didasarkan pada perlengkapan yang digunakan yaitu berupa Gendul atau botol serta gelas kecil atau sloki. Beksan Sekar Medura merupakan salah satu bagian dari Beksan Lawung. Ciri khas Beksan Gendul atau Beksan Sekar Medura terletak pada perlengkapan yang digunakan berupa  botol (gendul) dan gelas kecil (sloki). Perlengkapan tersebut menunjukkan bahwa para prajurit setelah perang dan menang lalu bersenang-senang dan saling menghibur dengan minum-minuman keras.

Penari dalam Beksan Sekar Medura berjumlah delapan orang pria, terdiri empat penari alus dan empat penari gagah. Penari yang paling depan dalam Beksan Sekar Medura disebut Batak atau pemimpin dua orang yaitu satu orang penari alusan dan satu orang gagahan.

Pemberian nama Beksan Sekar Medura diambil dari nama-nama prajurit Sultan Hamengku Buwana I dan Makasar, Bugis yang berasal dari Madura. Prajurit-prajurit inilah yang telah membantu Sultan Hamengku Buwana I selama 9 tahun ( 1746-1755) melawan Belanda.

Busana yang digunakan untuk penari alusan terdiri dari : tepen disertai hiasan sisir dan bunga di belakang, rambut di kepang berbentuk kadhal menek, kelat bahu kulit pradya, kalung sungsung tiga, kamus timang, keris branggah dan onten, kain parang rusak (supit urang), celana panji-panji cindhe warna merah, lonthong cindhe warna merah, bara, sondher cindhe warna merah. Adapun busana untuk penari gagah terdiri dari : tepen dengan hiasan sisir dan bunga di belakang rambut berbentuk kadhal menek sumping grompolan,kelat bahu kulit, kalung tanggalan, kaweng, kamus timang lontong, atau stagen cindhe warna merah,bara, celana panji-panji cindhe warna merah, buntal, keris, bancehan topengan, oncen.

Bahasa yang dipergunakan dalam pocapan atau dialog pada Beksan Sekar Medura menggunakan bahasa campuran yaitu Bahasa Melayu, Madura, Bagelen, dan Bahasa Bagongan. Gending yang dipakai sebagai iringan Beksan Sekar Medura adalah cengbarong laras slendro pathet sanga kendhangan candra rara ciblon. Beksan ini diawali dan diakhiri dengan lagon. Beksan Sekar Medura untuk alusan menggunakan ragam gerak tari putra alus dan gagahan menggunakan gerak tari putra gagah.

Artikel Terpopuler


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi ...



...
Raden Wedono Larassumbogo

by admin || 04 Maret 2014

Raden Wedono Larassumbogo, putra kedua dari R. Sosrosidurejo ini dilahirkan di Kampung Bumijo Yogyakarta  pada tanggal 27 Juli 1884 atau 12 Dulkongidah wawu 1813. Pada masa kecilnya ...



Artikel Terkait


...
Beksan Trunajaya

by admin || 04 Maret 2014

  Disebut juga Beksan Lawung Ageng atau Beksan Lawung Gagah. Dinamakan Beksan Trunajaya karena pada zaman dahulu para penari diambilkan dari regu Trunajaya yang merupakan bagian dari ...


...
Beksan Lawung Alit

by admin || 04 Maret 2014

  Disebut juga Beksan lawung alus.Beksan Lawung Alus ( alit) ditarikan oleh 16 orang penari, terdiri dari 4 orang penari sebagai ploncon atau pengampil. 4 orang penari sebagai lawung ...


...
Beksan Guntur Segara

by admin || 04 Maret 2014

  Salah satu jenis tari yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I di Kraton Yogyakarta. Penari dalam Beksan Guntur Segara berjumlah empat orang pria. Perlengkapan yang digunakan ...





Copyright@2019

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta