Upacara Wiyosan Kanjeng Kiai Tunggul Wulung

by admin|| 04 Maret 2014 || 47.961 kali

...

Upacara ini diselenggarakan oleh bangsawan (keraton) di Yogyakarta. Kata wiyos (bahasa Jawa) adalah bentuk kata kerja (tanduk) dari kata wiyos. Dalam kalimat wiyosan/miyosan, Kanjeng Kiai Tunggul Wulung terkandung arti keluarnya kanjeng Kiai Tunggul Wulung dari dalam keraton. Pusaka ini berupa bendera yang termasuk pusaka yang dikeramatkan sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana I. Diberi nama wulung karena benda pusaka tersebut berwarna dasar biru tua kehitam-hitaman. Warna dalam bahasa Jawa disebut wulung.

              Dalam pelaksanaan upacara ini selalu didampingi oleh sebuah bendera pusaka lain yaitu Kanjeng Kiai Pare Anom yang dibuat pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana V. pelaksanaan upacara ini melalui dua tahap.

-       Tahap pertama disebut “mbusanani”. Artinya memberi busana atau mengenakan busanane Kanjeng Kiai Tunggul Wulung dan Kanjeng Pare Anom.

-       Tahap kedua disebut “miyosaken” artinya mengeluarkan dari dalam lingkungan keraton untuk diarak keliling kota.

Upacara ini bermaksud untuk membasmi wabah penyakit menular yang melanda kota Yogyakarta. Dan terakhir dilaksanakan pada tahun 1943 sewaktu ada wabah penyakit pes. Waktu penyelenggaraan:

-       Untuk tahap pertama dilakukan pada senja hari sesudah sholat Maghrib di serambi Masjid Keraton yang disebut Masjid Panepeh.

-       Untuk tahap kedua pada malam hari sesudah waktu sholat Isya. Dan harus bertepatan pada hari Jumat Kliwon. Sesudah ada dhawuh dalem dan dilakukan di halaman (pelataran) bangsal Sri Manganti di pagelaran di Alun-alun Utara. Kenduri selamatan dilakukan di Serambi Masjid Panepeh dan di serambi Masjid Besar.

Penyelenggaraan teknis upacara adalah punggawa keraton (abdi dalem) golongan Suronoto, kaji, somatali, gladhog, prajurit-prajurit, pihak-pihak yang terkait dalam upacara ialah Sri Sultan, keluarga Sri Sultan yang menjadi pejabat-pejabat tinggi keraton, abdi dalem dan masyarakat. Lima hari sebelum upacara dilakukan para abdi dalem yang bersangkutan harus bersuci dahulu dengan menjalani puasa kemudian mandi dan keramas. Untuk para abdi dalem golongan Suronoto, baju beskap warna hitam, celana panji-panji dan samir.

              Perlengkapan upacara diantaranya :

-       Dua pucuk tombak pusaka yaitu Kanjeng Kiai Slamet (Kanjeng Kiai Duda) dan Kanjeng Kiai Santri. Bendera pusaka Kanjeng Kiai Tunggul Wulung dipasang pada tombak Kanjeng Kiai Anom dipasang pada tombak Kanjeng Kiai Santri

-       Dua buah payung kebesaran untuk memayungi kedua bendera pusaka

-       Puluhan obor

-       Dua buah pedupaan lengkap dengan kemenyan

-       Beberapa ekor kuda

-       Sebilah pisau jagal

-       Beberapa buah pacul dan linggis

-       Sebuah ancak

-       Bangunan tratag untuk tempat sesajen

 

Sesajen ini dapat dibagi beberapa macam:

-       Dahahar rasulan nasi wuduk dengan lauk pauk

-       Dhahar ambengan

-       Dhahar gaong

-       Dhahar anep

-       Tumpeng tulak

-       Tumpeng jure

-       Tumpeng pasar

-       Bubur abang

-       Bubur putih

-       Jenang baro-baro

-       Berupa buah-biuahan: buah kelapa, pisang

-       Berupa bahan pangan: gula jawa

-       Berupa benda-benda lain: cuplak, kemenyan, seekor kebo bule betina, kulit punggung seekor penyu, kulit punggung seekor kura-kura, sepasang mimi mintuna, sebilah pisau baja, sepotong besi selindik berukuran 2 meter.

 

Urutan perarakan “miyosan” Kanjeng Kiai Tunggul Wulung adalah:

-       Barisan terdepan pasukan prajurit Jogokaryo dan Patangpuluh.

-       Kelompok abdi dalem golongan Kaji, diiringi Kiai Kanjeng Pangulu atau wakil dengan naik kuda.

-       Kelompok para petugas pembawa obor an pembawa perdupaan.

-       Kedua bendera pusaka, diapit oleh kurang lebih lima puluh abdi dalem Suronoto.

-       Kelompok para pembesar keraton sebanyak 13 orang.

-       Kelompok penduduk Yogyakarta.

Kemudian diarak keliling kota Yogyakarta itu berlangsung semalam suntuk dan baru berakhir di pintu pagelaran keraton pada saat fajar menyingsing. Sri Sultan dan para pejabat tinggi keraton serta sejumlah anggota keluarga Sri Sultan semalam suntuk berjaga dengan melakukan dzikir. Sesudah kedua bendera pusaka itu ditaruh kembali ke Gehong Hinggil, Sri Sultan memerintahkan agar nasi makanan kenduri dibagi-bagikan kepada para pejabat tinggi keraton. Di alun-alun utara masih ada kegiatan dalam rangka upacara ini yaitu menyembelih hewan korban bakar, kerbau bule betina yang dilaksanankan diantara kedua pohon beringin (waringin kurung). Kepala kerbau, darahnya dan benda sesajen

Artikel Terpopuler


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi ...



...
Raden Wedono Larassumbogo

by admin || 04 Maret 2014

Raden Wedono Larassumbogo, putra kedua dari R. Sosrosidurejo ini dilahirkan di Kampung Bumijo Yogyakarta  pada tanggal 27 Juli 1884 atau 12 Dulkongidah wawu 1813. Pada masa kecilnya ...



Artikel Terkait


...
PASAR MALAM PERAYAAN SEKATEN

by admin || 01 April 2012


...
GREBEG

by admin || 01 April 2012

Upacaya Grebeg berasal dari kata Grebe, Gerbeg. Grebeg dalam bahasa jawa bermakna suara angin. Kata dalam bahasa Jawa Anggrebeg, mengandung makna menggiring Raja, pembesar atau pengantin. Grebeg ...


...
Garebeg Mulud

by admin || 01 April 2012

Upacara Sekaten diadakan setahun sekali, dimulai pada hari kelima di bulan Mulud (bulan Jawa). Upacara ini merupakan perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. Masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya ...





Copyright@2019

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta