Upacara Becekan

by admin|| 04 Maret 2014 || 30.850 kali

...

 

Upacara becekan terdapat di lereng Gunung Merapi sebelah selatan, termasuk Kelurahan Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Kata becek dalam bahasa Jawa berarti mengandung air atau berair. (Upacara ini bertujuan untuk meminta hujan). Kata becek dalam upacara ini merupakan nama sesajen yang berujud daging kambing yang dimasak gulai yang disebut becek. Upacara becekan disebut juga upacara nyuwun udan (minta hujan) atau dandan kali/memeteri kali, dalam bahasa Indonesia berarti memperbaiki atau memelihara sungai.

              Pedukuhan yang melaksanakan upacara becekan itu adalah dukuh Pager Jurang, Kepuh dan Manggong. Diantara pedukuhan itu terdapat perbedaan-perbedaan dalam tahap-tahap pelaksanaannya. Tujuan dari upacara becekan adalah meminta supaya hujan segera turun, kesuburan tanah dan keselamatan semua orang penghuni tiga pedukuhan tadi. Karena wilayah ini terdapat di kawasan Gunung Merapi maka penduduk percaya bahwa Gunung Merapi merupakan kerajaan lelembut atau roh halus yang dirajai oleh Sultan Muhidin yang mempunyai anak buah Kiai Simbar Dada, Kiai Rajek Wesi, Kiai Sapu Jagad, Kiai Ageng Perlapa. Di samping itu ditujukan pula kepada penguasa atau pembuat kali yaitu semacam sumber air di sepnajang Sungai Gendal, Kali Codot dan Kali Kajar, Kali Kreteg dan Kali Ajid.

              Perhitungan waktu untuk penyelenggaraan upacara ini berdasarkan pranoto mongso jatuh pada mangsa kapat, hari Jumat Kliwon. Apabila dalam mangsa kapat itu tidak terdapat Jumat Kliwon, maka upacara tersebut diundur Jumat Kliwon mngsa berikutnya, yaitu mangsa kelima. Tanpa mengubah harinya sebab hari Jumat Kliwon dianggap keramat.

              Tempat pelaksanaan upacara di Sungai Gendol, tepatnya di tengah-tengah sungai. Adapun tujuan yang ingin dicapai:

-          Dapat langsung menghadap ke Gunung Merapi, tempat semayam para penguasa.

-          Dapat memberi sesajen pada Sungai Gendol yang terdapat mata air bagi kepulauan bagi tiga pedukuhan.

-          Sesajen yang perlu dipersiapkan untuk upacara ini antara lain: berupa tumpeng beserta lauk pauknya, panggang ayam, tukon pasar, candhu, kemenyan dan sebagainya. Dan perawatan untuk menyembelih kambing berupa gubang (pisau besar) dan welat untuk membersihkan bulu, ketentuan khusus menurut adat, untuk persiapan sajen becek mulai dari membawa peralatan dari atas turun ke sungai, menyembelih kambing, membuat bumbu becek hingga memasaknya harus dilakukan oleh laki-laki.

Mereka percaya bahwa upacara tersebut mendapat perhatian dan disaksikan oleh penguasa Gunung Merapi, sehingga dalam setiap tahun tidak pernah meninggalkan upacara. Tidak meninggalkan upacara menurut mereka berarti mengundang bencana yang berlarut-larut dan mereka tidak mau menanggung resiko semacam itu.

Artikel Terpopuler


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi ...



...
Raden Wedono Larassumbogo

by admin || 04 Maret 2014

Raden Wedono Larassumbogo, putra kedua dari R. Sosrosidurejo ini dilahirkan di Kampung Bumijo Yogyakarta  pada tanggal 27 Juli 1884 atau 12 Dulkongidah wawu 1813. Pada masa kecilnya ...



Artikel Terkait


...
PASAR MALAM PERAYAAN SEKATEN

by admin || 01 April 2012


...
GREBEG

by admin || 01 April 2012

Upacaya Grebeg berasal dari kata Grebe, Gerbeg. Grebeg dalam bahasa jawa bermakna suara angin. Kata dalam bahasa Jawa Anggrebeg, mengandung makna menggiring Raja, pembesar atau pengantin. Grebeg ...


...
Garebeg Mulud

by admin || 01 April 2012

Upacara Sekaten diadakan setahun sekali, dimulai pada hari kelima di bulan Mulud (bulan Jawa). Upacara ini merupakan perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. Masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya ...





Copyright@2019

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta