by Vishnu|| 24 Februari 2022 || || 13.593 kali
SELAMAT ATAS DITETAPKANNYA 1 MARET SEBAGAI HARI BESAR NASIONAL DENGAN NAMA HARI PENEGAKAN KEDAULATAN NEGARA BERDASARKAN KEPUTUSAN PRESIDEN NOMOR 2 TAHUN 2022. Peristiwa Serangan Umum 1 Maret memiliki makna penting bagi penegakkan dan pengakuan kedaulatan negara baik dari dalam maupun dari luar, diantaranya:
Serangan Umum ini merupakaan rangkaian rentetan Panjang dari peristiwa-peristiwa sejarah yang mendahului dan mengikutinya, sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga pengakuan kedaulatan negara oleh Belanda dan kembalinya tekad komponen bangsa yang untuk meninggalkan federalisme kembali ke NKRI. Rangkaian peristiwa itu adalah: Pada tanggal 17 Agustus 1945 Sukarno dan Muhammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengangkat menetapkan Sukarno dan Muhammad Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden, serta mengesahkan Undang Dasar 1945. Pada 5 September 1945 Sultan Hamengku Buwana IX dan Paku Alam VIII menyatakan bahwa Kasultanan Ngayogyakarta dan Kadipaten Pakualaman menjadi bagian dari Indonesia melalui Amanat 5 September 1945. Pasukan Sekutu dan Belanda mendarat di Indonesia untuk melucuti tentara Jepang dan mengendalikan keadaan. Belanda sebagai bagian dari pasukan sekutu memanfaatkan kesempatan untu dapat kembali mengambil alih Hindia Belanda. Pada 4 Januari 1946 Ibukota negara Republik Indonesia dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta atas usulan dari Sri Sultan Hamengku Buwana IX. Perpindahan ini disebabkan karena pasukan Sekutu mulai melalui aksi teror terhadap para pejabat negara RI dan beberapa di antaranya mengalami percobaan pembunuhan. Jakarta sebagai ibukota negara tidak lagi kondusif untuk menjalankan pemerintahan. Tawaran Sultan Hamengku Buwana IX untuk memindahkan ibukota negara ke Yogyakarta diterima oleh Sukarno. Pada tanggal 7 Februari 1946, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa mulai membahas situasi di Indonesia yang bergejolak. Pada 15 November 1946 Indonesia dan Belanda menandatangani perjanjian Linggarjati. Kedua pihak menyetujui gencatan senjata. Dalam perjanjian ini Belanda mengakui wilayah kekuasaan Indonesia meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura. Meski telah menandatangani perjanjian gencatan senjata, Belanda melanggar persetujuan Linggarjati dengan Agresi Militer I. Pada tanggal 17 Januari 1948 diadakan perjanjian Renville untuk mengakhiri Agresi Militer Belanda I. Republik Indonesia kian merugi karena Belanda menguasai banyak wilayah di Jawa dan Sumatera setelah Agresi Militer I. Kabar Agresi Militer Belanda II untuk merebut ibukota negara RI Yogyakarta telah diketahui oleh Sukarno dan Muhammad Hatta. Oleh karena itu untuk mengantisipasinya kedua pemimpin menyelenggarakan siding kebinet untuk menyusun berbagai skenario untuk menyelamatkan Indonesia yang dilaksanakan pada 19 Desember 1948. Keputusan sidang itu adalah:
Pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda melakukan Agresi Militer II atas ibu kota Republik Indonesia Yogyakarta. Presiden, Wakil presiden, dan beberapa menteri ditangkap dan diasingkan ke beberapa wilayah di Indonesia. Sejak itu Belanda mulai menyebarkan propaganda di dunia internasional bahwa Indonesia sudah tidak ada. Seperti rencana sebelumnya pada tanggal 22 Desember 1948 PDRI di Bukit Tinggi didirikan dan dipimpin oleh Syafrudin Prawiranegara. Sementara itu Panglima Besar Jenderal Sudirman memutuskan keluar dari ibu kota dan berjuang melalui perang gerilya. Sepanjang Desember 1948 hingga Februari 1949 terjadilah serangan terus-menerus terhadap pos-pos Belanda oleh gerilyawan TNI. Februari 1949 berita tentang Sidang PBB yang membahas nasib Indonesia didengar oleh Sri Sultan Hamengku Buwana. Untuk mendukung perjuangan diplomatic di tingkat internasional ini Sri Sultan menyampaikan idenya kepada Panglima Besar Jenderal Sudirman agar dilakukan Serangan umum dari segala penjuru yang melibatkan seluruh element kekuatan Republik, Dari TNI, Polisi, Laskar dan seluruh komponen masyarakat. Pada tanggal 1 Maret 1949 pukul 6 pagi setelah sirene tanda berakhirnya jam malam berbunyi, pasukan TNI menyerang Yogyakarta dari segala penjuru. Melalui serangan ini pasukan Indonesia berhasil menduduki Yogyakarta selama 6 jam. Berita perebutan kembali ibukota Yogyakarta oleh TNI disiarkan ke seluruh dunia melalui siaran radio. Keberhasilan TNI merebut kembali kota Yogyakarta ini membawa pengaruh besar. Negara-negara bentukan Belanda di Indonesia bisa mengetahui keadaan Republik yang sebenarnya dan berbalik memihak Republik Indonesia. Dewan Keamanan PBB menggunakan berita serangan ini untuk mendesak Belanda untuk kembali berunding dengan Indonesia. Situasi di Indonesia yang tak kunjung membaik membuat Amerika Serikat mengancam sanksi ekonomi terhadap Belanda. Belanda setuju untuk kembali berunding dengan Indonesia. Mereka menyepakati persetujuan Roem-Royen pada 7 Mei 1949. Mereka menyetujui gencatan senjata, mengembalikan pemimpin republik ke Yogyakarta, dan mengadakan Konferensi Meja Bundar. Pada tanggal 24 Juni 1948 Presiden Syafrudin Prawiranegara sebagai pemimpin PDRI memberikan mandat kepada Sri Sultan Hamengku Buwana IX yang menjabat sebagai Menteri pertahanan untuk memulihkan keamanan sebelum pemerintahan kembali di Yogyakarta. Pada tanggal 29 Juni 1949 Ibukota Negara RI resmi kembali ke Yogyakarta. Mandat ini dikembalikan pada tanggal 30 Juni 1949 setelah proses pengembalian Yogyakarta sebagai Ibukota Republik selesai. Belanda, Republik Indonesia, dan negara-negara bentukan Belanda di Indonesia bertemu pada Konferensi Meja Bundar antara 23 Agustus hingga 2 November 1949. Hasil dari konferensi tersebut adalah pengakuan kedaulatan Indonesia. Belanda dan Indonesia melaksanakan upacara pengakuan ini pada 27 Desember 1949. Penyerahan Kedaulatan diterimakan Ratu Belanda kepada Muhammad Hatta dan selanjutnya diserahkan kepada Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengku Buwana IX.
Dampak Serangan Umum 1 Maret 1949 Terhadap Penegakan Kedaulatan Negara Dalam Lingkup Internasional yakni Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 berperan penting dalam menunjukkan keberadaan Indonesia ke dunia di tengah-tengah propaganda Belanda yang menihilkan eksistensi Negara Republik Indonesia. PBB telah menjadikan peristiwa Serangan Umum 1 Maret sebagai langkah baru memulai kembali perjuangan diplomasi Indonesia. Perundingan Rum-Royen dan KMB adalah wujud nyata dari pengaruh itu. Peristiwa itu juga telah membuka dukungan yang lebih luas dari negara-negara di dunia untuk menegakkan kedaulatan Republik, yang telah diproklamerkan sejak proklamasi 17 Agustus 1945. Pengaruh SU 1 Maret Dalam Lingkup Nasional Di tingkat nasional peristiwa tersebut membuka kesadaran bagi kembalinya system negara kesatuan. Para pendukung sistem federal yang tergabung ke dalam Majelis Permusyawaratan Federal (Bijeenkomst voor Federaal Overleg -- BFO) mulai sadar dan membuka kembali jalan untuk bersatu dengan pihak Republik. Mereka adalah Negara Indonesia Timur, Sumatera Timur, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Pasundan, dll. Serangan Umum 1 Maret membuka mata kaum federalis tentang keadaan republik sesungguhnya. Peristiwa tersebut pun menjadi prekursor bagi republik dan BFO untuk melaksanakan Konferensi Inter-Indonesia yang bertujuan menyatukan pikiran antara kedua belah pihak untuk menghadapi Belanda di Konferensi Meja Bundar.
Tujuan pokok pengusulan peristiwa Serangan Umum 1 Maret ini sebagai hari besar nasional adalah:
.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Oktober 2022
Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by Vishnu || 01 Maret 2020
Peringatan Peristiwa Bersejarah bertajuk "Semarak Peringatan 1 Maret 1949 ke-71" yang merupakan rangkaian dari Kegiatan Peringatan 1 Maret digelar tepat tanggal 1 Maret 2020 di Titik Nol Kilometer ...
by Vishnu || 09 Maret 2020
Konser Orkestra yang mengusung judul Serenade Bunga Bangsa yang digelar Sabtu Malam, 7 Maret 2020 berlangsung spektakuler. Musisi handal dari Alillaqus Shymphony Orchestra dan Paduan suara dari Con ...