Klana Raja

by admin|| 04 Maret 2014 || 40.143 kali

...

 

Salah satu tari tunggal Gaya Yogyakarta yang lahir di lingkungan istana, sering ditampilkan sebagai seni pertunjukan tersendiri yang klasik. Disebut Klana Raja karena figur Raja adalah manifestasi penguasaan mayapada dan alam astral yang hadir. Sebutan ”Klana” adalah bagi tokoh besar pengelana yang datang dari luar, yang dapat pula berkonotasi pada manusia-manusia yang suka mengikuti imajinasi terhadap hal-hal yang besar, cita-cita tinggi,yang kadang-kadang berasosiasi pada romantisme suatu ke” gandrungan ” yang tidak mesti bersifat erotis atau cenderung seks, melainkan pada idealisme yang estetis. Ada suatu kegagahan dalam pengeJawantahan.

Motif hiasan kepada klana Raja adalah”tropong”, seperti yang dipakai oleh Prabu Baladewa- Suteja yang terasa paling agung di antara hiasan kepala raja jenis lainnya, seperti ”songkok ”Duryudana yang masih dimungkinkan dipakai. Sedangkan ketu Narpati Basukarna, ”keling” Wibisana kurang lazim dikenakan. Berbeda dengan wayang pada umumnya, penari klana menambah sampurnya melingkar di leher, yang banyak berfungsi dibandingkan dengan penggunaan sampur pinggang.

Dalam penampilannya klana raja merupakan suatu penggambaran keagungan raja, dengan gaya tari gagah”kalang kinantang raja ” yang berbeda dengan ” kalang kinantang” biasa, terutama pada waktu ” ngunus ” kaki kiri, tangan kiri sejajar gerak kaki kemudian melanjutkan kearah badan, lengkung kekiri atas, kemudian ”coklek ” pergelangan tangan disambung ”pacak gulu ” yang menyelesaikan phrase gerak itu secara manis dan jantan. Demikian pula pose tangan kiri diperuntukkan pada ” ngoyong kanan” maupun pada saat ”tancep” yang memberikan ekspresi kesebaran. Di tingkat Irama gendhing ”lung gadung ” pelog bem, maka tarian ini mengumandangkan keagungan keagungan. Pada bagian ”nglana” iringan membawakan suasana erotik yang ”sakral” seperti diupacara temanten, berbeda dengan ”bendrong” pada klana topeng yang menggelitik secara profan, bahkan pada golek ”lambang sari” menimbulkan rangsangan tingkat tinggi karena kehalusannya.

 

 

 

Artikel Terpopuler


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi ...



...
Raden Wedono Larassumbogo

by admin || 04 Maret 2014

Raden Wedono Larassumbogo, putra kedua dari R. Sosrosidurejo ini dilahirkan di Kampung Bumijo Yogyakarta  pada tanggal 27 Juli 1884 atau 12 Dulkongidah wawu 1813. Pada masa kecilnya ...



Artikel Terkait


...
Beksan Trunajaya

by admin || 04 Maret 2014

  Disebut juga Beksan Lawung Ageng atau Beksan Lawung Gagah. Dinamakan Beksan Trunajaya karena pada zaman dahulu para penari diambilkan dari regu Trunajaya yang merupakan bagian dari ...


...
Beksan Lawung Alit

by admin || 04 Maret 2014

  Disebut juga Beksan lawung alus.Beksan Lawung Alus ( alit) ditarikan oleh 16 orang penari, terdiri dari 4 orang penari sebagai ploncon atau pengampil. 4 orang penari sebagai lawung ...


...
Beksan Sekar Medura

by admin || 04 Maret 2014

  Tari putera yang para penarinya membawa botol minuman, ditarikan oleh 8 penari putera. Disebut juga Beksan Gendul. Penyebutan Beksan Gendul ini didasarkan pada perlengkapan yang ...





Copyright@2019

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta