Pameran Cagar Budaya

by admin|| 23 September 2019 || || 15 kali

...

Pameran tentang cagar budaya dilakukan dengan beberapa tujuan antara lain adalah pengenalan tentang cagar budaya kepada masyarakat, pemberian informasi mengenai cara-cara pelestarian cagar budaya dan peningkatan perhatian dan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian cagar budaya. Dinas Kebudayaan DIY pernah melakukan pameran ini di beberapa tempat. Sebagai pelengkap pameran, diadakan juga kegiatan sarasehan / diskusi tentang pelestarian cagar budaya. Dalam diskusi tentang cagar budaya ini yang diundang adalah budayawan /pemerhati cagar budaya, pemilik / pengelola cagar budaya, dari pihak pemerintah daerah baik sebagai pengambil kebijakan, pelaksana kegiatan maupun sebagai pihak yang berhubungan langsung dengan masyarakat dan juga dari akademisi baik dari dosen perguruan tinggi maupun guru sekolah. Jika pada kegiatan diskusi ini dihadiri oleh orang yang dianggap berhubungan dengan masalah pelestarian cagar budaya, maka pada kegiatan pameran, biasanya ditujukan untuk masyarakat luas dan siswa sekolah. Karena pameran menyasar masyarakat yang lebih luas, maka materi pameran diusahakan dibuat untuk dapat dipahami dengan mudah dan jelas dalam waktu singkat.

Materi pameran diusahakan banyak tampilan berupa foto dan atau gambar dengan penjelasan secukupnya. Tabel, grafik, peta, maket, miniatur dan duplikat benda asli dapat digunakan untuk memudahkan penjelasan. Selain itu dengan kemajuan teknologi maka materi pameran dapat ditampilkan melalui suara, dan film. Film yang diputar dapat berupa film dokumentasi kegiatan, film yang ditujukan untuk menjelaskan suatu objek, maupun film animasi yang dibuat untuk menjelaskan sesuatu agar lebih mudah dipahami.

Foto atau gambar yang dipamerkan dapat berupa foto dangambar suatu benda, bangunan, struktur, situs atau suatu kawasan di masa lampau dan di masa kini sehingga pengunjung dapat membandingkan perubahan yang terjadi. Foto tentang kegiatan rehabilitasi bangunan/struktur cagar budaya dari ketika masih akan dimulai (biasa disebut kemajuan pekerjaan 0%), ketika pertengahan pekerjaan (50%) dan ketika akhir pekerjaan (100%) juga dapat ditampilkan untuk memberi pengetahuan kepada pengunjung tentang proses rehabilitasi bangunan / struktur cagar budaya. Foto tentang bagian bangunan / struktur yang menjadikan nilai penting juga dapat ditunjukkan. Misal foto tentang sambungan kayu / besi yang merupakan teknologi maju pada zamannya. Gambar bangunan yang berupa gambar teknik juga dapat ditampilkan untuk melihat gambar sebelum proses pembangunan atau gambar yang digunakan dalam proses rehabilitasi atau perbaikan bangunan. Gambar bangunan yang berupa sketsa atau gambar ilustrasi atau lukisan berfungsi seperti foto untuk menjelaskan kondisi bangunan pada masa tertentu.

Tabel, grafik dan peta dapat ditampilkan untuk memperjelas keterangan misal tentang riwayat rehabilitasi bangunan, jumlah cagar budaya atau tentang persebaran cagar budaya. Maket dan miniatur dapat ditampilkan untuk memberi penjelasan lebih lanjut atau memudahkan pemahaman tentang suatu cagar budaya. Jika yang ditampilkan adalah benda cagar budaya maka seringkali yang ditampilkan adalah duplikatnya. Hal ini mengingat adanya resiko rusak atau hilang bila yang kita pamerkan adalah benda aslinya.

Kemajuan teknologi juga memungkinkan kita untuk mendengar penjelasan lebih lanjut atau lebih banyak mengenai suatu tampilan pameran melalui speaker atau headset yang disediakan. Dengan adanya hal ini dapat mengurangi kebutuhan penjaga pameran, atau setiap orang dapat menggunakan secara serentak penjelasan dari beberapa objek yang dipamerkan tanpa saling mengganggu. Film juga dapat digunakan dalam pameran untuk menjelaskan suatu cagar budaya atau kegiatan rehabilitasi yang dilakukan pada cagar budaya tersebut. Film dapat juga hanya menampilkan suatu bahasan tertentu misal tentang pembongkaran, dokumentasi dan kodefikasi bangunan cagar budaya. Kegiatan ini jika hanya dituliskan dan diberi foto dapat sangat panjang uraiannya dan belum tentu memberikan gambaran yang utuh dari suatu kegiatan. Film animasi dapat digunakan untuk menggambarkan hal-hal yang sulit jika menggunakan film dokumenter atau dapat juga digunakan sebagai pengganti maket, miniatur atau duplikat cagar budaya. Film animasi tentang konstruksi rangka atap suatu bangunan tentu akan lebih mudah memberikan gambaran bagi pengunjung karena jika hanya berdasar foto maka akan kesulitan dalam memberikan gambaran pada bagian-bagian bangunan yang tidak kelihatan / berada di atas plafon dan di bawah genting.

Selain materi yang ditampilkan di lokasi pameran, pembuatan leaflet dan sejenisnya sebagai kenangan bagi pengujung juga dapat memberikan informasi kepada pengunjung ketika mereka sudah tidak berada diruang pameran. Pameran juga dapat dilengkapi dengan sarana penunjang seperti permainan dan tempat berswafoto bagi pengunjung. Sarana penunjang ini dapat menjadi alat untuk menarik minat pengunjung. Permainan seperti menyusun puzzle gambar suatu bangunan cagar budaya baik itu secara langsung maupun melalui komputer dapat membantu anak-anak mengenal cagar budaya. Berfoto di dekat maket / miniatur /duplikat atau juga berfoto dengan pilihan gambar latar belakang cagar budaya dapat memberikan daya tarik bagi pengunjung agar suatu saat nanti ada keinginan untuk mengunjungi cagar budaya yang asli.

Pada akhirnya melalui pameran cagar budaya pengunjung diharapkan dapat memahami pelestarian cagar budaya, tidak hanya melihat benda mati tetapi untuk sejumlah kasus juga dapat memberikan inspirasi dalam pemanfaatan cagar budaya melalui kegiatan revitalisasi dan adaptasi.


Dalam foto dari kanan atas searah jarum jam, tampak rombongan siswa sedang melihat maket, memainkan game di komputer dan ibu-ibu sedang foto di depan miniatur Tugu Pal Putih. (DD)

 

Artikel Terpopuler


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi ...



...
Raden Wedono Larassumbogo

by admin || 04 Maret 2014

Raden Wedono Larassumbogo, putra kedua dari R. Sosrosidurejo ini dilahirkan di Kampung Bumijo Yogyakarta  pada tanggal 27 Juli 1884 atau 12 Dulkongidah wawu 1813. Pada masa kecilnya ...



Artikel Terkait


...
Pekerjaan Bangunan Pelindung Pada Kegiatan Rehabilitasi Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Ketika ada kegiatan pembangunan baik itu berupa gedungmaupun prasarana lain seperti jalan dan jembatan, kita hampir selalu melihat bidang pembatas yang membatasi antara area yang bisa dilalui umum ...


...
"Pre Construction Meeting" pada kegiatan Rehabilitasi Bangunan Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Pre Construction Meeting atau juga disebut dengan rapat persiapan pelaksanaan kontrak, adalah rapat koordinasi yang dilakukan setelah penandatanganan kontrak dan sebelum pelaksanaan kegiatan ...


...
Tenaga Ahli Arkeologi Pendamping Pemugaran

by admin || 23 September 2019

Pada kegiatan rehabilitasi bangunan cagar budaya yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan DIY, Dinas meminta bantuan kepada sejumlah orang yang sudah berpengalaman dalam proses pemugaran untuk ...





Copyright@2019

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta