Mengenal Bangunan Berarsitektur Tradisional Jawa : Atap Sirap

by pamongbudaya|| 24 Juni 2021 || || 56 kali

...

Sirap adalah salah satu dari penutup atap yang pembuatannya ditulis di dalam naskah –naskah lama bangunan berarsitektur tradisional Jawa. Menurut naskah-naskah tersebut ukuran lebar sirap berpedoman pada lebar sirap dan sebaliknya. Misalnya sirap dengan lebar 12 dim, maka panjangnya harus 26 dim. Panjang sekian itu lalu dibagi tiga. Pada bagian ujungnya digaris melintang, inilah yang tepat disebut perseginya, lalu diturunkan selebar reng, kemudian dibentuk runcing dan ini disebut curap. Dari batas tersebut dinamakan pundhakan. Apabila dibuat sirap ketep, yaitu lembaran sirap paling akhir /bawah, maka sirap dipotong tepat pada pundhakan. Pajang sirap lancuran (satu papan sirap) tersebut terdiri dari tiga bagian seperti tersebut di atas berada di atas empat baris kayu reng. Tetapi pada penerapannya lebanyakan dengan seadanya, meninggalkan pembagian seperti tersebut di atas. Sirap sebenarnya berasal dari kata sirep, yaitu suatu sarana yang menghentikan air hujan masuk dalam bangunan atau menolak sinar matahari, di-sirep  oleh daya sirap itu.      

Pada foto di atas tampak atap sirap dari kayu yang terdapat di Masjid Girilaya di Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul. Pada saat dilakukan rehabilitasi atap masjid ini pada tahun 2020, atap sirap eksisting berada di bawah genteng. Hal ini nampaknya dengan maksud ingin mempertahankan keberadaan sirap kayu, namun karena kondisinya, maka sirap tersebut tidak mampu menahan air hujan, sehingga diberi genteng di atasnya. Pada kegiatan rehabilitasi tersebut atap sirap eksisting diturunkan untuk dipilih. Yang masih bisa diperbaiki akan dilakukan perbaikan dan yang sudah rusak akan diganti.  (DD)

 

Daftar pustaka :

Anindita, Widya, KRT. dan Djatiningrat, KRT. 2015. Kajian Naskah Kawroeh Kambeng. Yogyakarta : Museum Negeri Sonobudoyo, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta

Prijotomo, Josef. 2006. (Re-)Konstruksi Arsitektur Jawa, Griya Jawa dalam Tradisi Tanpatulisan. Surabaya : PT. Wastu Lanas Grafika.

 

Artikel Terpopuler


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi abdi ...



...
Raden Wedono Larassumbogo

by admin || 04 Maret 2014

Raden Wedono Larassumbogo, putra kedua dari R. Sosrosidurejo ini dilahirkan di Kampung Bumijo Yogyakarta  pada tanggal 27 Juli 1884 atau 12 Dulkongidah wawu 1813. Pada masa kecilnya bernama ...



Artikel Terkait


...
Pekerjaan Bangunan Pelindung Pada Kegiatan Rehabilitasi Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Ketika ada kegiatan pembangunan baik itu berupa gedungmaupun prasarana lain seperti jalan dan jembatan, kita hampir selalu melihat bidang pembatas yang membatasi antara area yang bisa dilalui umum ...


...
"Pre Construction Meeting" pada kegiatan Rehabilitasi Bangunan Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Pre Construction Meeting atau juga disebut dengan rapat persiapan pelaksanaan kontrak, adalah rapat koordinasi yang dilakukan setelah penandatanganan kontrak dan sebelum pelaksanaan kegiatan ...


...
Pameran Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Pameran tentang cagar budaya dilakukan dengan beberapa tujuan antara lain adalah pengenalan tentang cagar budaya kepada masyarakat, pemberian informasi mengenai cara-cara pelestarian cagar budaya dan ...





Copyright@2021

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta