Mengenal Bangunan Berarsitektur Tradisional Jawa : Bangunan Joglo (Bagian 2)

by pamongbudaya|| 21 September 2021 || || 533 kali

...

Jika di dalam naskah-naskah lama tentang bangunan rumah berarsitektur tradisional Jawa (Prijotomo, 2006) bangunan dengan bentuk atap limasan mengenal 7 (tujuh) variasi (https://budaya.jogjaprov.go.id/artikel/detail/Mengenal-Bangunan-Berarsitektur-Tradisional-Jawa-Bangunan-Joglo), maka selanjutnya sesuai dengan perkembangan zaman terdapat berbagai variasi lainnya. Menurut R. Ng. Mintoboedoyo dalam Hamzuri (1986) terdapat 12 (dua belas) variasi bangunan joglo, menurut Dakung (1987) terdapat 7 (tujuh) variasi, dan yang dimuat dalam Peraturan Gubernur DIY (Pergub DIY) Nomor 40 tahun 2014 tentang Panduan Arsitektur Bangunan baru Bernuansa Budaya Daerah, terdapat 11 (sebelas) variasi. Tabel berikut ini menunjukkan variasi bangunan Joglo menurut beberapa sumber.

 

 

Naskah lama

Hamzuri

Dakung

Pergub DIY

1

Wantah

Wantah Apitan

Lawakan

Jubungan

2

Semar Tinandhu

Semar Tinandu

Semar Tinandu

Lawakan

3

Pengrawit

Pengrawit

Pengrawit

Semar Tinandhu

4

Tawon Boni

Jompongan

Jompongan

Pengrawit

5

Ceblokan

Sinom Apitan

Sinom

Jompongan

6

Kepuhan

Hageng

Hageng

Sinom

7

Trajumas

Mangkurat

Mangkurat

Hageng

8

---

Ceblokan

---

Mangkurat

9

---

Kepuhan Lawakan

---

Trajumas

10

---

Kepuhan Apitan

---

Lambang Sari

11

---

Kepuhan Limolasan

---

Lambang Gantung

12

---

Lambangsari

---

---

 

Berikut ini adalah penjelasan dari beberapa variasi bangunan joglo. Gambar yang ada di dalam tabel ini diambil dari Pergub DIY No. 40 Th. 2014.

 

Nama variasi

Keterangan

Gambar

1

Jubungan

Bentuk joglo yang paling sederhana. Hanya ada atap brunjung saja

 

2

Lawakan

Bentuk joglo yang atapnya terdiri dari brunjung dan penanggap

3

Semar Tinandhu

Memakai balok pangeret dua batang, tiang penyangga dua batang dan diletakkan di tengah balok pangeret. Biasanya dua tiang penyangga taadi diganti dengan dinding terusan dari pagar.

 

4

Pengrawit

Bentuk joglo yang atapnya terdiri dari brunjung, penanggap, dan penitih. Atap brunjung terpisah dari penanggap, atap penanggap terpisah dari atap penitih, karena baik pada atap penanggap maupun penitih bertumpu pada saka benthung

 

5

Jompo ngan

Jika pada umumnya bangunan joglo memiliki denah berbentuk empat persegi panjang maka pada joglo jompongan, bentuk denahnya adalah bujur sangkar

 ---

6

Sinom

Bentuk joglo yang atapnya terdiri dari brunjung, penanggap, dan penitih

7

Lambang Sari

Atap brunjung dengan atap penanggap terpisah dan dihubungkan oleh balok lambang sari


8

Lambang Teplok

Atap brunjung dengan atap penanggap terpisah dengan atap penanggap menempel langsung pada saka guru

 

9

Lambang Gantung

Atap brunjung dengan atap penanggap terpisah dengan atap penanggap bertumpu pada saka benthung

10

Mang kurat

Bentuk joglo yang atapnya terdiri dari brunjung, penanggap, dan penitih. Atap penanggap terpisah dari atap brunjung karena bertumpu pada saka benthung dan tetapi pada atap penitih menggunakan balok lambang sari.

11

Hageng

Bentuk bangunan joglo yang paling besar atau luas. Atapnya terdiri dari 5 tingkat, dan urutan dari atas ke bawah adalah brunjung, penanggap, penitih, peningrat dan emper

 

Foto yang menyertai tulisan ini menampilkan bangunan joglo setelah dilakukan kegiatan rehabilitasi/perbaikan. Kira-kira termasuk variasi apakah bangunan joglo tersebut ? (DD)

 

Daftar pustaka :

Dakung, Sugiarto, Drs., dkk. 1987. Arsitektur Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyk Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. 2014. Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 40 Tahun 2014 tentang Panduan Arsitektur Baru Bernuansa Budaya Daerah. Berita Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2014 Nomor 40. Yogyakarta: Sekretaris Daerah.

Hamzuri, Drs. 1986. Seri Rumah, Rumah Tradisional Jawa. Jakarta : Proyek Pengembangan Museum Nasional.

Prijotomo, Josef. 2006. (Re-)Konstruksi Arsitektur Jawa, Griya Jawa dalam Tradisi Tanpatulisan. Surabaya : PT. Wastu Lanas Grafika.

Artikel Terpopuler


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi abdi ...



...
Raden Wedono Larassumbogo

by admin || 04 Maret 2014

Raden Wedono Larassumbogo, putra kedua dari R. Sosrosidurejo ini dilahirkan di Kampung Bumijo Yogyakarta  pada tanggal 27 Juli 1884 atau 12 Dulkongidah wawu 1813. Pada masa kecilnya bernama ...



Artikel Terkait


...
Pekerjaan Bangunan Pelindung Pada Kegiatan Rehabilitasi Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Ketika ada kegiatan pembangunan baik itu berupa gedungmaupun prasarana lain seperti jalan dan jembatan, kita hampir selalu melihat bidang pembatas yang membatasi antara area yang bisa dilalui umum ...


...
"Pre Construction Meeting" pada kegiatan Rehabilitasi Bangunan Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Pre Construction Meeting atau juga disebut dengan rapat persiapan pelaksanaan kontrak, adalah rapat koordinasi yang dilakukan setelah penandatanganan kontrak dan sebelum pelaksanaan kegiatan ...


...
Pameran Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Pameran tentang cagar budaya dilakukan dengan beberapa tujuan antara lain adalah pengenalan tentang cagar budaya kepada masyarakat, pemberian informasi mengenai cara-cara pelestarian cagar budaya dan ...





Copyright@2022

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta