Mengenal Bangunan Berarsitektur Tradisional Jawa : Bangunan Kampung

by pamongbudaya|| 22 Juni 2021 || || 50 kali

...

Menurut naskah-naskah lama tentang bangunan rumah berarsitektur tradisional Jawa, bangunan kampung ini sebenarnya berasal dari kata kapung /katepung yang artinya adalah dihubungkan. Jadi untuk mempermudah pendirian rumah maka cukup menghubungkan dua bidang atap dan meniadakan kelengkapan kayu lainnya yang ada pada ketiga bentuk sebelumnya, yaitu pada bentuk tajug, joglo dan limasan. Kayu yang dihilangkan pada bangunan kampung adalah dudur (jurai) yaitu yang menghubungkan sudut atap bagian atas (yang terhubung dengan molo atau bubungan) dan sudut atap bagian bawah (yang menumpu di balok bagian bawah yang terletak di atas tiang atau dinding). Pada bangunan kampung, atap pada sisi pendek bangunan ditiadakan dan diganti  dengan bidang tegak berebntuk segitiga yang disebut dengan tutup keyong atau jika terbuat dari batu bata ada yang menyebut gunungan.

Variasi bentuk atap kampung menurut naskah-naskah lama tersebut adalah sebagai berikut :

No.

Sebutan

Ciri-ciri

1

Nom

Tidak ada keterangan

2

Srotongan

Blandar pengeret berjumlah lebih dari empat

3

Dara gepak

Diberi atap emper berkeliling di empat sisi

4

Jompongan

Blandar pangeret hanya dua dengan ukuran ruangan berbangun kubus

5

Gajah ngombe

Diberi atap emper hanya pada satu sisi samping saja

6

Trajumas

Blandar pangeret hanya tiga

7

Pacul gowang

Pada kiri kanan atap brunjung hanya satu bagian saja yang diberi atap emper

8

Semar tinandhu

Memakai balok pangeret dua batang, tiang penyangga dua batang dan diletakkan di tengah balok pangeret.

9

Gedhang (pisang)

salirang

Atap hanya pada satu sisi saja

Pada foto yang menyertai tulisan ini, yang diambil di Kawasan Cagar Budaya Kotagede, dapat dilihat dua buah bangunan dengan jenis atap kampung menggunakan dua jenis bahan yang berbeda pada tutup keyong. Pada bangunan di sebelah kiri menggunakan bahan dari kayu sedangkan yang di kanan menggunakan dinding dari pasangan batu bata. (DD)

 

Daftar pustaka :

Anindita, Widya, KRT. dan Djatiningrat, KRT. 2015. Kajian Naskah Kawroeh Kambeng. Yogyakarta : Museum Negeri Sonobudoyo, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta

Prijotomo, Josef. 2006. (Re-)Konstruksi Arsitektur Jawa, Griya Jawa dalam Tradisi Tanpatulisan. Surabaya : PT. Wastu Lanas Grafika.

Artikel Terpopuler


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi abdi ...



...
Raden Wedono Larassumbogo

by admin || 04 Maret 2014

Raden Wedono Larassumbogo, putra kedua dari R. Sosrosidurejo ini dilahirkan di Kampung Bumijo Yogyakarta  pada tanggal 27 Juli 1884 atau 12 Dulkongidah wawu 1813. Pada masa kecilnya bernama ...



Artikel Terkait


...
Pekerjaan Bangunan Pelindung Pada Kegiatan Rehabilitasi Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Ketika ada kegiatan pembangunan baik itu berupa gedungmaupun prasarana lain seperti jalan dan jembatan, kita hampir selalu melihat bidang pembatas yang membatasi antara area yang bisa dilalui umum ...


...
"Pre Construction Meeting" pada kegiatan Rehabilitasi Bangunan Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Pre Construction Meeting atau juga disebut dengan rapat persiapan pelaksanaan kontrak, adalah rapat koordinasi yang dilakukan setelah penandatanganan kontrak dan sebelum pelaksanaan kegiatan ...


...
Pameran Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Pameran tentang cagar budaya dilakukan dengan beberapa tujuan antara lain adalah pengenalan tentang cagar budaya kepada masyarakat, pemberian informasi mengenai cara-cara pelestarian cagar budaya dan ...





Copyright@2021

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta