Mengenal Bangunan Berarsitektur Tradisional Jawa : Bangunan Limasan (Bagian 2)

by pamongbudaya|| 10 Desember 2021 || || 367 kali

...

Menurut naskah-naskah lama tentang bangunan rumah berarsitektur Jawa, bangunan dengan atap berbentuk limasan memiliki 11 (sebelas) ragam/variasi. Dalam perkembangannya, terdapat beberapa variasi lainnya. menurut R. Ng. Mintoboedoyo dalam Hamzuri (1986) terdapat 20 (dua puluh) variasi (Di dalam buku terdapat 21 variasi tetapi ada 2 jenis yang sama). Menurut Dakung (1987) terdapat 17 (tujuh belas) variasi bangunan limasan, dan yang dimuat dalam Peraturan Gubernur DIY (Pergub DIY) Nomor 40 tahun 2014 tentang Panduan Arsitektur Bangunan baru Bernuansa Budaya Daerah, terdapat 19 (sembilan belas) variasi. Tabel berikut ini menunjukkan variasi bangunan Limasan menurut beberapa sumber.

No  

Naskah lama

Hamzuri

Dakung

Pergub DIY

1

Nom

Apitan

Limasan pokok

Limasan pokok/jebengan

2

Sinom

Lawakan

Lawakan

Lawakan

3

Bapangan

Bapangan

Apitan

Lawakan pengapit

4

Kampung bali

Apitan pengapit

Apitan pengapit

Sinom

5

Trajumas

Trajumas lambang teplok

Trajumas

Trajumas

6

Srotongan

Trajumas lambang gantung

Trajumas lambang gantung

Srotong

7

Pacul gowang

Pacul gowang

Pacul gowang

Pacul gowang

8

Gajah ngombe

Gajah ngombe

Gajah ngombe

Gajah ngombe

9

Gajah mungkur

Gajah njerum

Gajah njerum

Gajah njerum

10

Semar tinandhu

Gajah mungkur

Gajah mungkur

Gajah mungkur

11

Klabang nyander

Klabang nyander

Klabang nyander

Klabang nyander

12

---

Cere gancet

Cere gancet

Cere gancet

13

 ---

Semar tinandu

Semar tinandhu

Semar tinandhu

14

---

Gotong mayit

Trajumas lawakan

Gotong mayit

15

---

Lambang sari

Lambang sari

Lambang sari

16

---

Lambang teplok

Lambang teplok

Lambang teplok

17

---

Sinom lambang gantung rangka kutuk ngambang

Sinom lambang gantung rangka kutuk ngambang

Lambang gantung

18

---

Empyak setangkep

---

Mangkurat

19

---

Ceblokan

---

Pengrawit

20

---

Semar pinondong

---

---

 

Berikut ini adalah penjelasan dari beberapa variasi bangunan limasan. Gambar yang ada di dalam tabel ini diambil dari Pergub DIY No. 40 Th. 2014.

 No

Nama variasi

Keterangan

Gambar

1

Limasan pokok/ jebengan

Bentuk limasan pokok / yang paling sederhana

 

2

Lawakan

Bentuk limasan yang terdiri dari 2 tingkat atap, atap gajah (brunjung jika pada joglo) dan penanggap.

  


3

Lawakan pengapit

Bentuk limasan yang terdiri dari dua bangunan yang bergandengan pada sisi memanjangnya

 

4

Sinom

Bentuk limasan yang terdiri dari 3 tingkat atap.


5

Trajumas

Bentuk limasan yang menggunakan enam buah tiang penyangga atap


6  

Srotong

Bentuk limasan yang terdiri dari 2 tingkat atap hanya pada kedua sisi panjangnya.

   

 7 Pacul gowang  Bentuk limasan yang terdiri dari 2 tingkat atap hanya pada salah satu sisi panjangnya.  
 8 Gajah ngombe  Bentuk limasan yang terdiri dari 2 tingkat atap hanya pada salah satu sisi pendeknya.  
 9 Gajah njerum  Bentuk limasan yang terdiri dari 2 tingkat atap hanya pada kedua sisi panjangnya dan salah satu sisi pendeknya.  
 10 Gajah mungkur  Bentuk limasan yang memiliki atap emper pada ketiga sisinya. Pada salah satu sisi pendek yang tanpa emper, atapnya berupa tutup keyong (seperti atap kampung)  
 11 Klabang nyander  Bentuk limasan yang memiliki blandar pangeret (balok yang menguhubungkan dua tiang pada sisi pendek) lebih dari empat buah  
12 Cere gancet Bentuk limasan ini seperti bentuk limasan lawakan pengapit, hanya pada ujung bawah atap yang berhimpitan terdapat balok dan tiang penyangga.
13 Semar tinandhu

Bentuk limasan yang biasanya digunakan pada bagian gerbang. Di tengah atap ini pada sisi pendek ditopang oleh dinding.

Gambar yang ada di Pergub DIY ini kurang tepat karena pada atap limasan tidak terdapat balok tumpang sari yang hanya terdapat pada atap joglo.

14 Gotong mayit Bentuk limasan yang terdiri dari tiga atap limasan yang bergandengan pada sisi panjangnya.
15 Lambang sari Atap gajah/brunjung dengan atap penanggap terpisah dan dihubungkan oleh balok lambang sari. Gambar yang ada di Pergub DIY ini kurang tepat karena pada atap limasan tidak terdapat balok tumpang sari yang hanya terdapat pada atap joglo.
16 Lambang teplok Atap gajah/brunjung dengan atap penanggap terpisah dengan atap penanggap menempel langsung pada tiang.
17 Lambang gantung

Atap brunjung dengan atap penanggap terpisah dengan atap penanggap bertumpu pada saka benthung.

Gambar yang ada di Pergub DIY ini kurang tepat karena pada atap limasan tidak terdapat balok tumpang sari yang hanya terdapat pada atap joglo.

18 Mangkurat

Bentuk limasan yang atapnya terdiri dari gajah/brunjung, penanggap, dan penitih. Atap penanggap terpisah dari atap gajah/brunjung karena bertumpu pada saka benthung,  tetapi pada atap penitih menggunakan balok lambang sari.

Gambar yang ada di Pergub DIY ini kurang tepat karena pada atap limasan tidak terdapat balok tumpang sari yang hanya terdapat pada atap joglo.

19 Pengrawit

Bentuk limasan yang atapnya terdiri dari gajah/brunjung, penanggap, dan penitih. Atap brunjung terpisah dari penanggap, atap penanggap terpisah dari atap penitih, karena baik pada atap penanggap maupun penitih bertumpu pada saka benthung.

Gambar yang ada di Pergub DIY ini kurang tepat karena pada atap limasan tidak terdapat balok tumpang sari yang hanya terdapat pada atap joglo.

Foto yang menyertai tulisan ini menampilkan sebuah bangunan beratap limasan di Kabupaten Gunungkidul yang pemiliknya mendapat penghargaan pelestari warisan budaya/cagar budaya pada tahun 2017. Apakah bentuk limasan ini disebut klabang nyander ? (DD)

 

Daftar pustaka :

Dakung, Sugiarto, Drs., dkk. 1987. Arsitektur Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyk Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. 2014. Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 40 Tahun 2014 tentang Panduan Arsitektur Baru Bernuansa Budaya Daerah. Berita Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2014 Nomor 40. Yogyakarta: Sekretaris Daerah.

Hamzuri, Drs. 1986. Seri Rumah, Rumah Tradisional Jawa. Jakarta : Proyek Pengembangan Museum Nasional.

Prijotomo, Josef. 2006. (Re-)Konstruksi Arsitektur Jawa, Griya Jawa dalam Tradisi Tanpatulisan. Surabaya : PT. Wastu Lanas Grafika.

Artikel Terpopuler


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi abdi ...



...
Raden Wedono Larassumbogo

by admin || 04 Maret 2014

Raden Wedono Larassumbogo, putra kedua dari R. Sosrosidurejo ini dilahirkan di Kampung Bumijo Yogyakarta  pada tanggal 27 Juli 1884 atau 12 Dulkongidah wawu 1813. Pada masa kecilnya bernama ...



Artikel Terkait


...
Pekerjaan Bangunan Pelindung Pada Kegiatan Rehabilitasi Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Ketika ada kegiatan pembangunan baik itu berupa gedungmaupun prasarana lain seperti jalan dan jembatan, kita hampir selalu melihat bidang pembatas yang membatasi antara area yang bisa dilalui umum ...


...
"Pre Construction Meeting" pada kegiatan Rehabilitasi Bangunan Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Pre Construction Meeting atau juga disebut dengan rapat persiapan pelaksanaan kontrak, adalah rapat koordinasi yang dilakukan setelah penandatanganan kontrak dan sebelum pelaksanaan kegiatan ...


...
Pameran Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Pameran tentang cagar budaya dilakukan dengan beberapa tujuan antara lain adalah pengenalan tentang cagar budaya kepada masyarakat, pemberian informasi mengenai cara-cara pelestarian cagar budaya dan ...





Copyright@2022

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta