Mengenal Bangunan Berarsitektur Tradisional Jawa : Mustaka, Sirah, dan Sirah Gada

by pamongbudaya|| 24 Juni 2021 || || 107 kali

...

Pada bangunan berarsitektur tradisional Jawa berbentuk tajug, maka biasanya terdapat mustaka, sirah dan sirah gada. Mustaka (bahasa Jawa  yang berarti kepala) adalah puncak dari bubungan /penutup atap yang ada pada bangunan dengan bentuk atap tajug. Pada bangunan dengan bentuk atap tajug yang biasanya adalah masjid, di bagian paling puncak dari bangunan tersebut biasanya terdapat mustaka yang bahanya bisa dari logam atau tanah liat sama seperti bahan pembuat genteng. Mustaka tersebut  dihias dengan bentuk daun simbar maupun bunga menur. Ada pula yang dihias dengan bentuk elar-elar (bulu sayap) burung garuda. Sirah (bahasa Jawa  yang berarti kepala, namun lebih kasar dari kata mustaka) adalah titik pertemuan dudur  (jurai) bagian atas berupa kayu berbentuk balok/kubus. Apabila sirah ini dihubungkan dengan ander (tiang kayu dengan posisi tegak lurus ke arah bawah) maka disebut sirah gada.

Pada foto di bawah ini yang diambil oleh M. Saeful Amri, arkeolog yang membantu Dinas Kebudayaan DIY dalam pemugaran bangunan cagar budaya, tampak sirah dari suatu bangunan cagar budaya. Sirah tersebut dapat dilihat setelah mustaka dilepas dari tempatnya dan penutup atap yang berada di bawahnya juga dibuka.  Kayu-kayu di bawah yang berukuran besar adalah dudur (jurai) yang menghubungkan sirah dengan tiang/kolom di sudut bangunan. Kayu-kayu yang berukuran kecil adalah kayu usuk. Pada bangunan dengan susunan usuk paniyung, ukuran usuk di ujung atas lebih kecil dari ukuran usuk di bawah, mengingat tempatnya yang terbatas. Usuk-usuk ini di ujung atas bertumpu pada keempat papan yang mengapit  sirah. Keempat papan ini ini disebut topeng yang sebenarnya adalah berasal dari kata topong.

Pada foto pertama yang menyertai tulisan ini dapat dilihat mustaka yang terdapat pada Masjid Pathok Negara Plosokuning di Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman pada saat dilakukan rehabilitasi pada atap tajug di bawahnya. Selain rehabilitasi atau perbaikan pada atap tajug, pembersihan mustaka juga dilakukan.(DD)

 

Artikel Terpopuler


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi abdi ...



...
Raden Wedono Larassumbogo

by admin || 04 Maret 2014

Raden Wedono Larassumbogo, putra kedua dari R. Sosrosidurejo ini dilahirkan di Kampung Bumijo Yogyakarta  pada tanggal 27 Juli 1884 atau 12 Dulkongidah wawu 1813. Pada masa kecilnya bernama ...



Artikel Terkait


...
Pekerjaan Bangunan Pelindung Pada Kegiatan Rehabilitasi Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Ketika ada kegiatan pembangunan baik itu berupa gedungmaupun prasarana lain seperti jalan dan jembatan, kita hampir selalu melihat bidang pembatas yang membatasi antara area yang bisa dilalui umum ...


...
"Pre Construction Meeting" pada kegiatan Rehabilitasi Bangunan Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Pre Construction Meeting atau juga disebut dengan rapat persiapan pelaksanaan kontrak, adalah rapat koordinasi yang dilakukan setelah penandatanganan kontrak dan sebelum pelaksanaan kegiatan ...


...
Pameran Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Pameran tentang cagar budaya dilakukan dengan beberapa tujuan antara lain adalah pengenalan tentang cagar budaya kepada masyarakat, pemberian informasi mengenai cara-cara pelestarian cagar budaya dan ...





Copyright@2021

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta