Mengenal Bangunan Berarsitektur Tradisional Jawa : Usuk Ri gereh dan Paniyung

by pamongbudaya|| 22 Juni 2021 || || 119 kali

...

Susunan/pemasangan kayu usuk (dalam bahasa Indonesia juga disebut kasau) pada bangunan berarsitektur tradisional Jawa terdiri dari dua jenis yaitu ri gereh dan paniyung. Usuk berasal dari kata esuk, yang artinya desak atau berdesakan, karena keberadaan atau posisinya tampak berdesakan, apalagi untuk yang berjenis paniyung.

1. Usuk ri gereh

Dinamakan ri gereh karena posisinya seperti ri atau duri dari gereh (ikan asin). Pada jenis ini jarak antar usuk pada bagian atas maupun bagian bawah adalah sama lebar. Bagian atas sejumlah kayu usuk yang terletak pada tepi atap, bertumpu pada jurai. Susunan usuk ri gereh dapat diterapkan pada atap berbentuk tajug, joglo, limasan maupun kampung.

2. Usuk paniyung

Dinamakan demikian karena pemasangannya ditiyungkan (dilandaikan). Pada jenis ini jarak antar usuk pada bagian atas lebih kecil dibanding jarak bagian bawah. Bagian atas kayu usuk tidak ada yang bertumpu pada dudur (jurai).  Karena balok yang menjadi tumpuan pada bagian atas lebih pendek dibandingkan pada balok bagian bawah, maka kadang kala kayu usuk yang dipasang pada jenis paniyung tidak sama besar ukurannya antara bagian atas dan bawah. Pada bagian atas berukuran lebih kecil agar cukup bertumpu pada balok di atas. Pada jenis ini kebutuhan kayu juga lebih banyak karena ukuran usuk yang digunakan lebih panjang dibanding pada jenis ri gereh. Susunan usuk paniyung biasanya tidak digunakan pada atap berbentuk kampung, hanya digunakan pada atap tajug, joglo, dan limasan.

 

 

Gambar dengan sedikit modifikasi, yang diambil dari buku Pedoman Pelestarian Bagi Pemilik Rumah Kawasan Pusaka Kotagede, Yogyakarta, Indonesia terbitan Jogja Heritage Society ini menunjukkan susunan usuk, reng dan dudur (jurai) pada atap berbentuk limasan dengan susunan usuk ri gereh. Usuk terletak pada posisi vertikal atau mengikuti kemiringan atap, reng terletak di atas usuk dengan posisi horisontal dan dudur (jurai) terletak di sudut atap / bangunan. (DD)

 

 

Daftar pustaka :

Anindita, Widya, KRT. dan Djatiningrat, KRT. 2015. Kajian Naskah Kawroeh Kambeng. Yogyakarta : Museum Negeri Sonobudoyo, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta

Jogja Heritage Society. 2007. Pedoman Pelestarian Bagi Pemilik Rumah Kawasan Pusaka Kotagede, Yogyakarta, Indonesia. Jakarta : UNESCO Jakarta.

Prijotomo, Josef. 2006. (Re-)Konstruksi Arsitektur Jawa, Griya Jawa dalam Tradisi Tanpatulisan. Surabaya : PT. Wastu Lanas Grafika.

 

Artikel Terpopuler


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi abdi ...



...
Raden Wedono Larassumbogo

by admin || 04 Maret 2014

Raden Wedono Larassumbogo, putra kedua dari R. Sosrosidurejo ini dilahirkan di Kampung Bumijo Yogyakarta  pada tanggal 27 Juli 1884 atau 12 Dulkongidah wawu 1813. Pada masa kecilnya bernama ...



Artikel Terkait


...
Pekerjaan Bangunan Pelindung Pada Kegiatan Rehabilitasi Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Ketika ada kegiatan pembangunan baik itu berupa gedungmaupun prasarana lain seperti jalan dan jembatan, kita hampir selalu melihat bidang pembatas yang membatasi antara area yang bisa dilalui umum ...


...
"Pre Construction Meeting" pada kegiatan Rehabilitasi Bangunan Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Pre Construction Meeting atau juga disebut dengan rapat persiapan pelaksanaan kontrak, adalah rapat koordinasi yang dilakukan setelah penandatanganan kontrak dan sebelum pelaksanaan kegiatan ...


...
Pameran Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Pameran tentang cagar budaya dilakukan dengan beberapa tujuan antara lain adalah pengenalan tentang cagar budaya kepada masyarakat, pemberian informasi mengenai cara-cara pelestarian cagar budaya dan ...





Copyright@2021

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta