Mengenal Kayu Jati di Perhutani untuk Rehabilitasi Bangunan Cagar Budaya

by pamongbudaya|| 01 Desember 2022 || || 1.686 kali

...

Kayu jati yang berasal dari pohon jati (Tectona grandis), secara tradisi dikenal sebagai kayu yang kuat yang banyak digunakan dalam pembangunan rumah dan bangunan lainnya terutama di Pulau Jawa. Bahkan menurut naskah-naskah lama tentang bangunan berarsitektur tradisional Jawa yaitu yang termasuk ke dalam kelompok Kawruh Kalang maupun kelompok Kawruh Griya (Prijotomo, 2006) menuliskan bahwa menurut kepercayaan orang Jawa, pohon jati memiliki angsar (daya pengaruh) baik serta buruk. Bangunan-bangunan lama yang menggunakan kayu jati, banyak yang kini sudah ditetapkan menjadi cagar budaya atau warisan budaya/objek diduga cagar budaya karena memang bangunan tersebut berumur cukup tua dan/atau  memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan.Dalam proses pelestarian bangunan-bangunan cagar budaya tersebut maka perlu mengenal kayu jati sebagai salah satu bahan utama pembuat bangunan.

Sesuai Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, proses pelestarian bangunan cagar budaya antara lain melalui pemeliharaan dan pemugaran memerlukan tenaga ahli pelestarian. Hingga tahun 2022 ini tenaga ahli pelestarian yang sudah bersertifikasi jumlahnya masih sangat sedikit. Untuk mengatasi hal ini dan agar  pemeliharaan dan pemugaran bangunan cagar budaya dapat tetap berlangsung dengan mengikuti kaidah maupun aturan pemeliharaan dan pemugaran, maka Dinas Kebudayaan DIY mengambil kebijakan untuk mengikutsertakan sejumlah arkeolog untuk mendampingi kegiatan pemeliharaan dan pemugaran yang ada. Untuk meningkatkan pengetahuan tentang bahan kayu jati maka arkeolog pendamping pemugaran ditambah dengan konservator belajar tentang kayu jati di KPH (Kesatuan Pemangkuan Hutan) Cepu dan di Perhutani Forestry Institue (PeFI) di Cepu, Blora Jawa Tengah.

Di sini pihak Perhutani memaparkan kayu jati sejak proses persemaian, penanaman, proses penebangan hingga proses penjualan. Selain paparan di dalam kelas, arkeolog pendamping pemugaran dan konservator juga mengunjungi lapangan untuk melihat wilayah hutan yang kayu jatinya siap dipanen dan mengunjungi Tempat Penimbunan Kayu (TPK) untuk melihat contoh-contoh kayu hasil tebangan dan cacat kayu yang ada. Pada foto berikut ini saat arkeolog pendamping pemugaran mendengarkan penjelasan dari pihak Perhutani di salah satu TPK.

 

Persemaian Jati di Perhutani adalah dengan metode generatif dan vegetatif. Metode generatif adalah dari biji, sedangkan metode vegetatif adalah dari kultur jaringan, stek, cangkok, okulasi dan sambungan. Saat ini kayu jati yang banyak ditanam Perhutani adalah dari bibit stek pucuk. Untuk mendapatkan hasil kayu yang baik maka diperlukan perencanaan penanaman, persiapan lahan yang akan digunakan untuk menanam, teknis penanaman dan pemeliharaan tanaman. Kayu jati berupa kayu bulat yang dijual di Perhutani dapat diperoleh melalui kontrak khusus, kontrak reguler, retail maupun lelang. Kontrak khusus diperlukan antara lain jika kayu yang dibutuhkan memiliki panjang lebih dari 2,9 m. Kayu jati produksi Perhutani telah memenuhi persyaratan PHPL (Pengelolaan Hutan Produksi Lestari) dan sertifikat FSC (Forest Stewardship Council)  CW (Controlled Wood). Sertifikat FSC CW dikeluarkan sebagai bukti pengakuan internasional pada pengelola hutan dalam melakukan pengelolaan hutan lestari. Beberapa produk Perhutani juga sudah bersertifikat FSC (Forest Stewardship Council) 100% FM (Forest Management). Sertifikat FSC 100% FM ini menjamin praktik pengelolaan hutan oleh pengelola konsesi atau pemilik lahan sudah memenuhi standar pengelolaan hutan bertanggung jawab, dengan menjaga keseimbangan aspek lingkungan, sosial, serta ekonomi.

            Salah satu hal penting dalam memperoleh kayu jati yang baik adalah kegiatan penebangan pohon yang benar sehingga pohon rebah di tempat yang tepat sehingga batang tidak rusak atau pecah karena menimpa tanah atau pohn lain di dekatnya. Untuk memperoleh hasil tebangan yang baik maka dilakukan kegiatan teresan (pengeringan) terlebih dulu sekitar 2 tahun sebelum penebangan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mematikan pohon agar diperoleh pohon/tegakan yang kering secara alami untuk meminimalkan kerusakan pada saat ditebang. Foto berikut ini menunjukkan teresan yang dilakukan pada pohon jati. Sedangkan foto di awal ini menunjukkan pohon jati yang sudah dilakukan teresan pada pepohonan di sebelah kanan dan di sebelah kiri adalah pepohonan yang belum dilakukan teresan. (DD).

 

 

Daftar pustaka :

 

Prijotomo, Josef. 2006. (Re-)Konstruksi Arsitektur Jawa, Griya Jawa dalam Tradisi Tanpatulisan. Surabaya : PT. Wastu Lanas Grafika.

 

 

Artikel Terpopuler


...
Istilah - Istilah Gamelan dan Seni Karawitan

by admin || 07 Maret 2014

Ada-ada. Bentuk lagu dari seorang dhalang, umumnya digunakan dalam menggambarkan suasana yang tegang atau marah, hanya diiringi dengan gender.    Adangiyah. Nama dari jenis ...


...
Istilah- Istilah Gerakan Tari  Gaya  Yogyakarta

by admin || 05 Maret 2014

Ngithing. Posisi tangan dengan mempertemukan ujung jari tengah ibu jari membentuk lingkaran, sedangkan jari-jari lainnya agak diangkat keatas dengan masing-masing membentuk setengah ...


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi abdi ...



Artikel Terkait


...
Pekerjaan Bangunan Pelindung Pada Kegiatan Rehabilitasi Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Ketika ada kegiatan pembangunan baik itu berupa gedungmaupun prasarana lain seperti jalan dan jembatan, kita hampir selalu melihat bidang pembatas yang membatasi antara area yang bisa dilalui umum ...


...
"Pre Construction Meeting" pada kegiatan Rehabilitasi Bangunan Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Pre Construction Meeting atau juga disebut dengan rapat persiapan pelaksanaan kontrak, adalah rapat koordinasi yang dilakukan setelah penandatanganan kontrak dan sebelum pelaksanaan kegiatan ...


...
Pameran Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Pameran tentang cagar budaya dilakukan dengan beberapa tujuan antara lain adalah pengenalan tentang cagar budaya kepada masyarakat, pemberian informasi mengenai cara-cara pelestarian cagar budaya dan ...





Copyright@2023

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta