Pesanggrahan Ambarrukma, terletak di Antara Hotel dan Mall (Pesanggrahan Bagian X)

by pamongbudaya|| 23 April 2026 || 58 kali

...

Pesanggrahan Ambarrukma dibangun pada tahun 1859-1860 oleh Sultan Hamengku Buwono VI. Awalnya pesanggrahan ini dikenal dengan nama Arja Purna. Arja berarti keselamatan atau kesejahteraan sedangkan purna berarti sempurna. Jadi Arja Purna berarti keselamatan atau kesejahteraan yang sempurna. Kemudian pada masa Sultan Hamengku Buwono VII dilakukan perbaikan dan penyempurnaan yang dilakukan pada tahun 1895-1897. Setelah perbaikan selesai, namanya diubah menjadi Ambarrukma. Ambar berarti harum dan rukma berarti emas atau keagungan. Jadi Ambarrukma berarti keluhuran, kemuliaan, dan keagungan yang harum. Letak pesanggrahan ini berada di antara Hotel Royal Ambarrukmo dengan mall Ambarrukmo Plaza. 

Sultan Hamengku Buwono VII pindah dari Kraton Yogyakarta ke pesanggrahan ini sejak tanggal 29 Januari 1921, setelah beliau “pensiun” sebagai sultan dan menetap di tempat ini hingga akhir hayatnya pada tanggal 30 Desember 1921. Permaisuri beliau, GKR Kencono tetap memanfaatkan pesanggrahan ini hingga wafat pada tahun 1931. Kemudian pada masa Sultan Hamengku Buwono IX mulai ada kebijakan pemanfaatan bangunan milik kraton untuk kepentingan masyarakat, lembaga ataupun instansi pemerintahan. Pada bulan Juni 1949 hingga Maret 1950 di kompleks pesanggrahan ini digunakan sebagai tempat pendidikan Inspektur Polisi Republik Indonesia.  Pada tahun 1947 hingga 1964, di tempat ini digunakan sebagai kantor Pemerintah Kabupaten Sleman. Pada tahun 1964 kantor Pemda pindah ke daerah Beran, Kapanewon Tridadi, Sleman, karena di lokasi ini dibangun hotel yang dibiayai dari pampasan perang dari Jepang. Pada tahun 2006 di sebelah barat pesanggrahan ini dibangun mall.

Bangunan-bangunan yang ada di tempat ini antara lain adalah:

  1. Pendapa

Di pesanggrahan ini bangunan pendapa berukuran sekitar 32 m x 27 m dengan arah hadap ke selatan. Pendapa dapat dilihat di foto awal dari tulisan ini.

  1. Dalem Ageng

Bangunan ini berada di belakang pendapa, berukuran sekitar 27 m x 38 m. Bangunan ini terdiri dari pringgitan (tempat mementaskan ringgit atau wayang) atau teras di bagian depan, ruangan dalam yang di bangunan ini terdiri dari 4 ruang tidur, dan gadri atau teras bagian belakang. Dari gadri ini terdapat selasar menuju Bale Kambang di bagian belakang. Foto pringgitan dapat dilihat sebelum paragraf ini, dan foto selasar penghubung dari gadri ke Bale Kambang dapat dilihat di foto berikut ini.

  1. Taman (Bale Kambang)

Bale Kambang merupakan bangunan yang didirikan di tengah-tengah kolam, jadi terlihat seperti bale (balai/bangunan) yang mengambang. Kolam yang mengelilingi bangunan ini berukuran sekitar 25 m x 32 m. Bangunan Bale Kambang ini berbentuk segi delapan dengan bentuk atap tajug/piramida dan terdiri dari 2 lantai. Bale Kambang dapat dilihat pada foto di bawah ini. 

  1. Gandok

Gandok pada bangunan berarsitektur Jawa adalah bangunan samping yang arahnya memanjang depan-belakang sejajar dengan Dalem Ageng. Fungsinya adalah ruang tinggal keluarga atau kerabat dan penginapan bagi tamu atau saudara yang berkunjung. Di pesanggrahan ini, bangunan gandok ada dua yaitu di sisi barat dan timur.  Namun, bangunan gandok timur saat ini sudah tidak ada karena pembangunan hotel. Untuk menghubungkan gandok dengan dalem ageng  terdapat selasar yang terdapat di gadri ke arah samping.

Pesanggrahan ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan Keputusan Bupati Sleman Nomor 14.7 Tahun 2017, Keputusan Gubernur DIY Nomor 62 Tahun 2024, dan sebelumnya berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. PM.25/PW.007/MKP/2007. Sebagai penjelasan tambahan, peraturan menteri ini dibuat berdasarkan unndang-undang tentang cagar budaya yang lama, sedangkan kedua keputusan sebelumnya dibuat berdasarkan undang-undang yang baru, yaitu Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. (DD)

Artikel Terpopuler


...
Istilah - Istilah Gamelan dan Seni Karawitan

by admin || 07 Maret 2014

Ada-ada. Bentuk lagu dari seorang dhalang, umumnya digunakan dalam menggambarkan suasana yang tegang atau marah, hanya diiringi dengan gender.    Adangiyah. Nama dari jenis ...


...
Istilah- Istilah Gerakan Tari Gaya Yogyakarta

by admin || 05 Maret 2014

Ngithing. Posisi tangan dengan mempertemukan ujung jari tengah ibu jari membentuk lingkaran, sedangkan jari-jari lainnya agak diangkat keatas dengan masing-masing membentuk setengah lingkaran. ...


...
Sengkalan

by admin || 04 Maret 2014

  Deretan kata berupa kalimat atau bukan kalimat yang mengandung angka tahun, dan disusun dengan menyebut lebih dahulu angka satuan, puluhan, ratusan, kemudian ribuan. Kata-kata yang ...



Artikel Terkait


...
Pekerjaan Bangunan Pelindung Pada Kegiatan Rehabilitasi Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Ketika ada kegiatan pembangunan baik itu berupa gedungmaupun prasarana lain seperti jalan dan jembatan, kita hampir selalu melihat bidang pembatas yang membatasi antara area yang bisa dilalui umum ...


...
"Pre Construction Meeting" pada kegiatan Rehabilitasi Bangunan Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Pre Construction Meeting atau juga disebut dengan rapat persiapan pelaksanaan kontrak, adalah rapat koordinasi yang dilakukan setelah penandatanganan kontrak dan sebelum pelaksanaan kegiatan ...


...
Pameran Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Pameran tentang cagar budaya dilakukan dengan beberapa tujuan antara lain adalah pengenalan tentang cagar budaya kepada masyarakat, pemberian informasi mengenai cara-cara pelestarian cagar budaya dan ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta