Rehabilitasi Dinding Benteng Kraton Yogyakarta di Tahun 2018

by pamongbudaya|| 30 Juli 2020 || || 10 kali

...

Pada tahun 2018 Dinas Kebudayaan DIY melakukan kegiatan rehabilitasi dinding benteng kraton Yogyakarta. Kegiatan pada tahun 2018 ini berada di dua plengkung dan tiga pojok beteng yaitu Plengkung Gading, Plengkung Wijilan, Pojok Beteng Wetan, Pojok Beteng Kulon dan Pojok Beteng Lor. Dinding benteng Kraton Yogyakarta selesai dibangun pada tahun 1706 Jawa atau tahun 1782 Masehi. Benteng Kraton Yogyakarta pada awalnya memiliki lima gerbang dengan pintu melengkung di bawahnya sehingga biasa disebut plengkung dan empat sudut benteng yang biasa dikenal dengan istilah pojok beteng.

Kelima gerbang tersebut yaitu Plengkung Tarunasura atau Plengkung Wijilan di sebelah timur laut, Plengkung Jagasura atau Plengkung Ngasem di sebelah barat laut, Plengkung Jagabaya atau Plengkung Tamansari di sebelah barat, Plengkung Nirbaya atau Plengkung Gading di sebelah selatan, dan Plengkung Madyasura atau Plengkung Gondomanan di sebelah timur. Plengkung Madyasura kadang disebut juga sebagai Plengkung Tambakbaya. Dari kelima plengkung yang dulu pernah ada, saat ini hanya tersisa dua yang masih berbentuk plengkung yaitu Plengkung Nirbaya dan Plengkung Tarunasura. Menurut informasi dari website https://www.kratonjogja.id, Plengkung Madyasura dibongkar pada tahun 1923 atas perintah Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, kemudian Plengkung Jagasura dan Plengkung Jagabaya diubah menjadi gapura terbuka untuk kelancaran arus lalu lintas. Dari keempat pojok beteng yang pernah ada, 1 pojok beteng di sisi timur laut telah hancur pada saat Geger Sepehi pada tanggal 20 Juni 1812.

Pekerjaan pada Plengkung Nirbaya/Gading pada bagian atas antara lain adalah penggantian saluran yang ada dengan jenis u-ditch yaitu beton bertulang yang dicetak menyerupai huruf  U, digunakan untuk saluran air dan dapat diberi tutup. Pekerjaan lainnya adalah penggantian lantai dari rabat beton menjadi batu andesit, dan penggantian pagar kawat pada sisi barat. Pada bagian dinding, pekerjaan yang dilakukan antara lain adalah perbaikan plesteran, acian dan sponengan yang rusak, pengelupasan cat lama dan pengecatan dengan cat yang baru, pelapisan water repellent pada dinding sebelum dicat pada dinding sisi luar, dan perbaikan ornamen. Pada bastion (bagian benteng yg menjorok keluar) di sisi timur dilakukan perkuatan struktur dengan tulangan besi, injeksi beton dan bahan kimia lain. Hal ini mengingat kondisnya sudah retak cukup parah. Pekerjaan lainnya adalah perbaikan instalasi listrik dan pemasangan lampu pada lorong plengkung.

Pekerjaan pada Plengkung Tarunasura/Wijilan hampir sama dengan yang dilakukan pada Plengkung Gading. Hanya tidak ada penggantian lantai bagian atas dengan batu andesit dan tidak ada perbaikan plesteran dan sponengan pada tangga, karena di plengkung ini tidak ada tangga dari bawah menuju ke atas plengkung.

Pekerjaan rehabilitasi yang dilakukan pada tiga Pojok Beteng secara umum sama, yaitu penggantian saluran yang ada dengan jenis u-ditch, adalah perbaikan plesteran, acian dan sponengan yang rusak, pengelupasan cat lama dan pengecatan dengan cat yang baru, pelapisan water repellent pada dinding sebelum dicat pada dinding sisi luar, dan perbaikan ornamen.

Pada saat pekerjaan rehabilitasi pada bagian lorong di Plengkung Gading dan Plengkung Wijilan, lorong tersebut ditutup dan lalu lintas yang melewati lorong plengkung tersebut harus dialihkan lewat jalan lain.  

Pekerjaan pengelupasan cat lama dan perbaikan plesteran yang dilakukan pada lorong di Plengkung Wijilan dapat dilihat di foto yang menyertai tulisan ini. (DD)

Artikel Terpopuler


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi abdi ...



...
Raden Wedono Larassumbogo

by admin || 04 Maret 2014

Raden Wedono Larassumbogo, putra kedua dari R. Sosrosidurejo ini dilahirkan di Kampung Bumijo Yogyakarta  pada tanggal 27 Juli 1884 atau 12 Dulkongidah wawu 1813. Pada masa kecilnya bernama ...



Artikel Terkait


Tidak ada artikel.



Copyright@2020

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta