Rehabilitasi Gandhok Puro Pakualaman di Tahun 2017

by pamongbudaya|| 18 Agustus 2020 || || 13 kali

...

Pada tahun 2017 Dinas Kebudayaan DIY melakukan pekerjaan rehabilitasi pada bangunan gandhok yang berada di kompleks Puro Pakualaman yang secara administratif terletak di Kelurahan Purwokinanti, Kecamatan Pakualaman, Kota Yogyakarta. Bangunan gandhok yang dimaksud di sini adalah bangunan yang berada di kompleks Puro Pakualaman yang berbatasan langsung dengan jalan yang ada di sebelah utaranya (Jl. Purwanggan) dan di sebelah timurnya (Jl. Harjono). Bangunan gandhok adalah salah satu dari beberapa bangunan yang ada di kompleks Puro Pakualaman. Bangunan lainnya antara lain adalah pintu gerbang/regol Danawara yang merupakan pintu gerbang utama untuk masuk ke kompleks ini yang terletak di sisi selatan. Kemudian di utara pintu gerbang ini terdapat taman, dan di utara taman terdapat bangunan pendopo yang dikenal dengan nama Bangsal Sewatama. Di belakangnya terdapat Dalem Ageng Prabasuyasa dan di timur dalem ini terdapat bangunan yang dikenal dengan nama Gedhong Purwaretna dan di belakang dalem terdapat Gedhong Maerakaca. Puro Pakualaman merupakan sebuah Istana Kadipaten yang menjadi tempat tinggal semua generasi Paku Alam. Kadipaten Pakualaman ini berdiri di tahun 1813.

Pekerjaan rehabilitasi yang dilakukan pada tahun 2017 antara lain adalah penggantian atap genteng dari genteng jenis vlam/kripik menjadi genteng jenis kodok. Penggantian ini untuk menyesuaikan dengan atap genteng yang ada di banyak bagian dari kompleks ini. Selain itu dilakukan penggantian bubungan dan penggantian/pemasangan lisplang, pemasangan talang datar dan talang tegak di sejumlah bagian, serta pemasangan plafon di tritisan. Perbaikan dan penggantian di beberapa bagian dari kayu yang digunakan sebagai rangka atap juga dilakukan karena sudah rusak/lapuk. Pekerjaan lain yang cukup menonjol adalah pembongkaran/ pengelupasan plesteran lama untuk diganti dengan plesteran baru. Meskipun baru, tetapi campuran untuk plesteran ini menggunakan campuran bubukan bata merah seperti yang digunakan pada bangunan lama, yang biasanya dikenal dengan istilah bligon. Setelah dilakukan penggantian plesteran pada dinding maka selanjutnya diberi acian/lapisan semen halus dan kemudian di atasnya dilakukan pengecatan dinding. Pada jendela/ventilasi yang ada juga dilakukan perbaikan termasuk penggantian kawat kasa.

Pada foto dapat dilihat dinding di gandhok sisi utara bagian timur dalam proses selesai diplester untuk selanjutnya akan diaci. (DD)

Artikel Terpopuler


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi abdi ...



...
Raden Wedono Larassumbogo

by admin || 04 Maret 2014

Raden Wedono Larassumbogo, putra kedua dari R. Sosrosidurejo ini dilahirkan di Kampung Bumijo Yogyakarta  pada tanggal 27 Juli 1884 atau 12 Dulkongidah wawu 1813. Pada masa kecilnya bernama ...



Artikel Terkait


...
Pekerjaan Bangunan Pelindung Pada Kegiatan Rehabilitasi Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Ketika ada kegiatan pembangunan baik itu berupa gedungmaupun prasarana lain seperti jalan dan jembatan, kita hampir selalu melihat bidang pembatas yang membatasi antara area yang bisa dilalui umum ...


...
"Pre Construction Meeting" pada kegiatan Rehabilitasi Bangunan Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Pre Construction Meeting atau juga disebut dengan rapat persiapan pelaksanaan kontrak, adalah rapat koordinasi yang dilakukan setelah penandatanganan kontrak dan sebelum pelaksanaan kegiatan ...


...
Pameran Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Pameran tentang cagar budaya dilakukan dengan beberapa tujuan antara lain adalah pengenalan tentang cagar budaya kepada masyarakat, pemberian informasi mengenai cara-cara pelestarian cagar budaya dan ...





Copyright@2020

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta