Rehabilitasi Masjid Gedhe Kotagede di Tahun 2015

by pamongbudaya|| 12 Oktober 2020 || || 11 kali

...

Masjid Gedhe Kotagede terletak di Dusun Sayangan, Desa Jagalan, Kecamatan Banguntapan, Bantul, sekitar  200 meter di selatan Pasar Kotagede. Bangunan masjid ini didirikan sekitar tahun 1640 pada masa pemerintahan Sultan Agung. Menurut https://kebudayaan.kemdikbud. go.id/bpcbyogyakarta/, di halaman masjid ini terdapat prasasti yang di dalamnya menerangkan bahwa Masjid Kotagede dibangun dalam 2 tahap. Tahap pertama oleh Sultan Agung dan tahap kedua oleh Paku Buwana X dari Kasunanan Surakarta.

Pada tahun 2015 Dinas Kebudayaan DIY melakukan kegiatan rehabilitasi pada bangunan masjid ini. Sasarannya adalah pada bangunan induk, serambi, emper kiwo, pawestren (tempat jemaah perempuan), pawudhon (tempat wudhu) putra dan pawudhon putri. Pekerjaan yang dilakukan di bangunan utama antara lain adalah penggantian penutup atap menjadi atap sirap metal, penggantian kayu reng dan perbaikan kayu lainnya pada struktur atap, perbaikan mustaka (puncak) masjid, penggantian bubungan dengan plat tembaga, penggantian talang air, pemasangan plafon dari papan kayu jati, pemasangan instalasi listrik dan perbaikan pintu dan jendela. Selain itu dilakukan pekerjaan perbaikan struktur atap untuk dikembalikan sebagaimana mestinya/aslinya sesuai dengan metode pengerjaan bangunan tradisional Jawa dan menghilangkan beberapa konstruksi besi yang digunakan sebagai perkuatan tambahan. Kemudian di bagian serambi, pekerjaan yang dilakukan adalah perbaikan kayu yang rusak. Pekerjaan yang dilakukan pada bagian pawestren dan emper kiwo hampir sama yaitu penggantian penutup atap menjadi atap sirap metal, penggantian talang, dan perbaikan pintu dan jendela. Pada pawudhon putra pekerjaan yang dilakukan antara lain adalah penggantian penutup atap sedangkan pada pawudhon putri antara lain adalah penggantian penutup atap dan pemasangan instalasi listrik dan air bersih. Selain itu dilakukan juga pengecatan pada dinding bangunan.

Tampak dalam foto yang menyertai tulisan ini adalah perancah yang digunakan untuk menopang sementara struktur atap, dalam hal ini adalah kayu usuk dengan bentuk paniyung. Bentuk ini menyerupai rangka payung atau jari-jari pada roda, jadi jarak antar kedua usuk di ujung atas dan di ujung bawah berbeda. Struktur atap perlu ditopang karena sejumlah saka (tiang) dan blandar (balok) yang ada di bawahnya sedang dibongkar dan diperbaiki. (DD)

Artikel Terpopuler


...
Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

by admin || 04 Maret 2014

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo. Dilahirkan pada tanggal 22 Maret 1899 di Yogyakarta Putera Ngabehi Prawiroreso ini pada tahun 1909 tamat Sekolah Dasar di Gading dan Tahun 1916 masuk menjadi abdi ...



...
Raden Wedono Larassumbogo

by admin || 04 Maret 2014

Raden Wedono Larassumbogo, putra kedua dari R. Sosrosidurejo ini dilahirkan di Kampung Bumijo Yogyakarta  pada tanggal 27 Juli 1884 atau 12 Dulkongidah wawu 1813. Pada masa kecilnya bernama ...



Artikel Terkait


...
Pekerjaan Bangunan Pelindung Pada Kegiatan Rehabilitasi Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Ketika ada kegiatan pembangunan baik itu berupa gedungmaupun prasarana lain seperti jalan dan jembatan, kita hampir selalu melihat bidang pembatas yang membatasi antara area yang bisa dilalui umum ...


...
"Pre Construction Meeting" pada kegiatan Rehabilitasi Bangunan Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Pre Construction Meeting atau juga disebut dengan rapat persiapan pelaksanaan kontrak, adalah rapat koordinasi yang dilakukan setelah penandatanganan kontrak dan sebelum pelaksanaan kegiatan ...


...
Pameran Cagar Budaya

by admin || 23 September 2019

Pameran tentang cagar budaya dilakukan dengan beberapa tujuan antara lain adalah pengenalan tentang cagar budaya kepada masyarakat, pemberian informasi mengenai cara-cara pelestarian cagar budaya dan ...





Copyright@2020

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta