Gumrégah Jumangkah, Mengawali Selasa Wagen Kalurahan/Kelurahan Budaya

by ifid|| 28 Februari 2024 || || 71 kali

...

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar Pentas Budaya Kangen Selasa Wagen pada Selasa (27/02/2024). di panggung ekspresi seni, Monumen Serangan Umum 1 Maret Daerah Istimewa Yogyakarta. Pelataran panggung dipadati pengunjung baik dari domestik maupun mancanegara sejak sore hari. Alunan gamelan gaya Yogyakarta mampu menarik hadirin untuk menyaksikan sajian istimewa tersebut. Dalam Laporan Kegiatan Kepala Dinas Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan “Berdasar Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 454/KEP/2023 tentang Penetapan Kalurahan/Kelurahan Budaya, telah ditetapkan bahwa Kalurahan/Kelurahan Budaya berjumlah 100 dengan persebaran: a. Kabupaten Gunungkidul, 24 Kalurahan/Kelurahan Budaya b. Kabupaten Sleman, 24 Kalurahan/Kelurahan Budaya c. Kabupaten Kulon Progo, 21 Kalurahan/Kelurahan Budaya d. Kabupaten Bantul, 24 Kalurahan/Kelurahan Budaya e. Kota Yogyakarta, 7 Kalurahan/Kelurahan Budaya Nantinya Kalurahan/Kelurahan Budaya berjumlah 100 ini bisa berpartisipasi pada pagelaran seni unggulan eksklusif Daerah Istimewa Yogyakarta. Penampilan mariah ini bertujuan menjaga eksistensi & pemberdayaan kesenian tradisional yang menjadi sebuah atraksi budaya dengan tidak mengubah nilai – nilai esensialnya. Yakni berfokus pada pengemasan ke masyarakat. “Pengemasan tersebut berupa pagelaran yang menarik, komunikatif, dengan sajian koreografi sehingga mampu dinikmati, dihayati, dan diapresiasi masyarakat. “Dalam 1 tahun Kegiatan Pembinaan dan pengembangan Kalurahan/Kelurahan Budaya meliputi; Pentas Seni Desa Budaya (Selasa Wagen) 7 kali dalam 1 tahun, Pentas di Bandara YIA selama 8 kali di Bulan Mei, Workshop Peningkatan SDM dan Kapasitas Desa Budaya, Pembuatan Buletin Desa Budaya, Gelar Potensi Desa Budaya dan Penarikan Pendamping dilaksanakan di Bulan Desember 2024. Pada Pentas Desa Budaya pertama ini akan menampilkan 15 Kalurahan/Kelurahan Budaya dan dimeriahkan oleh pementasan dari Mahasiswa Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta. Pentas Budaya Kangen Selasa Wagen Kali ini Mengusung tema “Gumrégah Jumangkah” kata tersebut dikutip dari istilah Jawa. Yang dimaksud dengan “Gumrégah Jumangkah” adalah bagian dari langkah mengawali sebuah kegiatan dengan semangat selalu berproses menuju visi dan misi yang telah ditentukan selama satu tahun. Hal tersebut merupakan sebuah ajakan sekaligus harapan terhadap seluruh unsur yang ada dalam Kalurahan/Kelurahan Budaya DIY baik dari para pelaku seni, budayawan, perangkat Kalurahan/Kelurahan, Warga Kalurahan/Kelurahan Budaya, Pendamping Budaya, maupun Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY untuk semangat dalam mengemban tugas melestarikan dan mengembangkan kebudayaan di Daerah Istimewa Yogyakarta”. ujar Dian Lakshmi Pratiwi dalam laporan kegiatan. Pentas Budaya Kangen Selasa Wagen ini dibuka oleh Sekretaris Daerah Istimewa Yogyakarta, Beny Suharsono dengan tanda pemotongan tumpeng. dalam sambutanya, Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) menjadikan desa sebagai basis keistimewaan DIY karena keistimewaan DIY bertumpu pada eksistensi desa. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui Desa Mandiri Budaya (DMB). Visi DMB adalah desa atau kelurahan berdaulat, berintegritas, dan inovatif dalam mengaktualisasikan nilai-nilai keistimewaan DIY melalui pendayagunaan segenap potensi sumber daya dengan melibatkan partisipasi warga dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Desa Budaya memiliki potensi untuk terus dikembangkan. Dengan kekuatan budaya, Desa Budaya menyimpan daya tarik luar biasa. Apalagi budaya tidak dapat dipisahkan dengan pariwisata. Baik budaya maupun pariwisata harus berjalan beriringan dan saling bersinergi. “Untuk itulah dengan adanya Pentas Seni Desa (Kalurahan/Kelurahan) Budaya kali ini dapat menjadi momentum baik yang bukan dilihat dari sisi kepentingan seni dan hiburan saja, akan tetapi lebih jauh lagi yaitu bagi kepentingan promosi potensi unggulan desa budaya terkait. Saya menyambut baik serta menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) yang telah menyelenggarakan Pentas Seni Desa (Kalurahan/Kelurahan) Budaya ini. Sekaligus ucapan terima kasih kepada Perwakilan Kalurahan/Kelurahan beserta seniman lokal lainnya yang telah bersedia untuk menghibur kita semua dengan kreasi seni yang ditampilkan”. ujar Benny. Penampil pada hari Selasa, 27 Februari 2024, juga dimeriahkan oleh pementasan dari Mahasiswa Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta dan 15 Kalurahan/Kelurahan adalah : 1. Kalurahan Muntuk, Bantul TEARTIKAL DOLANAN ANAK TRADISIONAL Dikala kita mendengar kata kata DOLANAN ANAK pasti akan mengingatkan kembali ke masa lalu. Bermacam macam dolanan anak yg sering kita jumpai ada JARANAN..DAKON..TEBAK TEBAKAN..ada juga dolanan ANCAK ANCAK ALIS dsb. Bukan sekedar dolanan tapi ada FILOSOFI di dalam Dolanan itu contoh : Dolanan anak Ancak ancak Alis. Menggambarkan betapa seorang petani harus berproses dari membajak sawah, menanam padi hingga panen. 2. Kalurahan Girirejo, Bantul Jathilan Kreasi Turangga Giri Sayekti Seni Jathilan ini menggambarkan kisah prajurit Mataram yang sedang mengadakan Latihan perang dengan semangat heroisme di bawah pimpinan Sultan Agung, demi persiapan menghadapi kolonialis Belanda Terlihat dari Gerakan ritmis, dinamis, dan agresif dengan mengibaskan kuda kepang menirukan gerakan kuda di medan perang. Dalam pertunjukan ini, seiring dengan perkembangan jaman, menuntut untuk lebih kreatif Gerak dalam tari dan iringan saling bersinergi sehingga bisa membuat suasana dan keharmonisan didalam tari jathilan 3. Kalurahan Sriharjo, Bantul BLANGKETAK GENDANGGUK Jathilan Lompong Keli Sriharjo, Blangketak Gendangguk adalah pengucapan dari suara kendhang, sebuah kata kunci dalam transisi iringan musik dalam jatilan lompong keli. Mendengar suara atau kata ini tentu secara reflek akan dilanjutkan dengan deng..pong,,,deng.. yang adalah suara bendhe dengan ciri khas tabuhan empat pong satu deng. Spirit sederhana dalam upaya menjaga dan mempertahankan kesenian jathilan khas sriharjo yaitu lompong keli yang disajikan secara ada adanya akan tetapi diperkaya dengan ramuan semangat anak muda kekinian yang tetap mencintai kekhasan budayanya seperti cerita yang dipaparkan dalam cerita jathilan yaitu tentang perjuangan. 4. Kalurahan Trimurti, Bantul “Progo Kumrincing” Terinspirasi dari mitos yang diyakini dan berkembang dimasyarakat sekitar kali progo. Mengangkat spirit krincing, Krincing progo yang bergemuruh dipercaya masyarakat sebagai tanda prajurit dari kerajaan laut selatan sedang melintas. Cing kumrincing, tanda yen kudu waspada, aja metu ndak kegawa. 5. Kalurahan Beji, Ngawen, Gunungkidul Thek Thek Tegalrejo Thek Thek merupakan kesenian musik tradisional yang alat musiknya terbuat dari bambu. Kesenian ini menampilkan harmonisasi suara dari pukulan perkusi kentongan, kendang dan gambang, tiupan suling, serta petikan bas yang juga terbuat dari bambu. Musik tradisional Thek thek ini mengiringi lagu campursari dengan sangat unik dikarenakan dengan alat-alat yang terbuat dari bambu sehingga suaranya memiliki ciri khas tersendiri. Thek thek Tegalrejo merupakan kelompok seni musik tradisional bambu dari Kalurahan Beji Ngawen yang melestarikan kesenian alat musik bambu dan juga menambah inovasi baru dengan menciptakan alat-alat musik bambu yang belum ada dikelompok seni yang thek thek yang lain. Aransemen yang unik dan indah membuat musik thek thek nyaman didengar dan menjadi sarana pengenalan pelestarian budaya dalam bidang musik tradisi. 6. Kalurahan Bejiharjo, Gunungkidul Musik Kolaborasi “ KANGEN JOGJA” Dalam pentas seni selasa wagen kali ini Kalurahan mandiri budaya Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul menampilkan musik kreasi yang menggunakan alat musik modern. Selain itu padu padan gemulai penari menjadikan harmoni antara musik dan tari menjadi semakin indah. Menyajikan lagu - lagu yang sudah sangat populer di kalangan masyarakat di aransemen dan digarap dengan nuansa yang berbeda menggambarkan semangat anak muda Bejiharjo untuk terus tumbuh, berkembang dan melestarikan kebudayaan. Indonesia Kaya , Yogyakarta Istimewa , Bejiharjo Berkarya. 7. Kalurahan Kepek, Wonosari, Gunungkidul CS PANDU TIMUR 86 Campur sari mengandung nilai-nilai Bahasa dan budaya jawa ,terkandung makna kehidupan yang tersirat pada lirik lagu. Campur sari adalah penggabungan beberapa jenis music tradisional Indonesia (Musik jawa) perpaduan music diatonic dan pentatonic (gamelan). Masyarakat kepek kapanewon wonosari mayoritas remaja menyukai music dan lagu campur sari, kreatifitas music di dukung lenggak lenggok penari yang menawan hati. Musik garapan campur sari dengan lagu langgam , Lagu kreasi dan lagu daerah banyu wangi. 8. Kalurahan Giring, Gunungkidul WATU JAGONG Dahulu kala Trah keturunan Raja Majaphit Prabu Brawijaya IV, Ki Ageng Wono Kusuma sudah berhasil mendapatkan Wahyu Tanah Jawa yang “Murco” bernama Wahyu Degan Gagak Emprit, akan tetapi saudaranya yang bernama Ki Ageng Wanabaya juga mencari wahyu yang sama. Tak terduga Degan Gagak Emprit diminum olah Ki Ageng Wanabaya. Terjadilah perselisihan, prajurit pengikut Ki Ageng Wanakusuma dan prajurit pengikut Ki Ageng Wanabaya saling berhadapan untuk saling membelanya. Terjadilah pertempuran sengit. Kemudian beliau berdua duduk di atas dua batu berjajar yang sekarang disebut; “Watu jagong” Diatas Watu Jagong Beliau berdua dalam perjanjiannya bersepakat bahwa Ki Ageng Wanabaya bisa menjadi Raja Tanah Jawa sampai keturunan ke IX. 9. Kalurahan Bangunkerto, Sleman “ TEK BUNG GUYUB RUKUN ” Budaya gotong royong selalu dilakukan disetiap desa, karena dengan bergotong royong menjadikan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Diwaktu libur warga berbondong bondong membawa alat untuk bergotong royong membersihkan lingkungan, ada yang mencabut rumput, memotong tanaman dan para wanita menyediakan makan dan minuman, hal ini membuat masyarakat menjadi Guyub Rukun. Kegiatan gotong royong divisualisasikan dengan gerakan tari yang dinamis diiringi oleh tek-tek bung yaitu alat musik yang terbuat dari kayu dan bambu dengan berbagai bentuk seperti kentongan dan Musik tradisional ini dimainkan berirama dengan lantunan tembang yang semangat dan bahagia. 10. Kalurahan Ambarketawang, Sleman SIMFONI AMBARKETAWANG Simfoni Ambarketawang sebuah karya yang mengkolaborasikan berbagai potensi di kalurahan Ambarketawang. Seperti karawitan, musik, tari, dan juga potensi kerajinan batik. Kolaborasi yang harmonis dengan berbagai keunikan potensi yang dimainkan oleh putra putri Ambarketawang, untuk menciptakan seuatu yang istimewa. Ambarketawang Sanyata, Papan Suka Lan Gembira, Ambarketawang arannya, Desa Budaya Utama. 11. Kalurahan Banyurejo, Sleman Kobrasiswa Garapan Sesepuh Senoboyo yang dikenal dengan nama Mbah Canggah ( Syeh Mudjar Shodiq) jaman dahulu ketika menunaikan ibadah haji ke Mekah, dalam perjalanannya menggunakan Onta. Onta sebagai alat transportasi kala itu. Beliau mengajarkan tari Kobra Siswa sebagai syiar agama di wilayah tersebut dengan lantunan lagu-lagu Islami, diantaranya Agama Kita, Putra Santri, Bahagia, Taubat, dan Kaji. Onta merupakan IKON Kobrasiswa SADIS SISWA Senoboyo Banyurejo. 12. Kalurahan Caturharjo, Sleman DHANYANG RATU GROWONG Keinginan untuk membangun sebuah padhepokan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Seperti yang dialami seorang pemuda di Padukuhan Kemloko yang bernama Joko Lancur. Pahit getir dan cobaan berat menimpa silih berganti, bahkan ia harus menjadi korban sang penunggu Watu Growong yang muncul dengan penampakan seorang gadis cantik yang sangat menggoda. Namun dengan kesabaran dan kegigihan, menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa bagi Joko Lancur sehingga bias menaklukan Sang Penjaga Watu Growong. 13. Kalurahan Kaliagung, Kulon Progo Sendratalung ‘’Ande-ande Lumut’’ Dikisahkan mbok randha dadapan mempunyai seorang anak laki-laki rupawan bernama ande-ande lumut. Berbulan-bulan ande-ande lumut mengurung diri dalam sebuah tabir dan membuat mbok randha dadapan gelisah. Syahdan kabar tentang ande-ande lumut sampai di telinga gadis dari desa sebelah yang bernama klething abang, klething ijo, klething biru dan klething kuning. Mereka berniat menemui ande-ande lumut dan berharap salah satu dari mereka akan menjadi pendamping ande-ande lumut. Namun tak disangka rintangan besar menghalanginya, yuyu kangkang penjaga sungai mempunyai niat buruk terhadap para klething. 14. Kalurahan Jatimulyo, Kulon Progo Dolangguk Jatimulyo Jatimulyo merupakan salah satu kalurahan yang berada di bukit menoreh yang berbatasan langsung dengan kabupaten purworejo, dengan demikian karya tari ini adalah sebagai salah satu peleburan tari ndolalak purworejo dengan tari angguk kulon progo, gerakan yang di gunakan merupakan perpaduan tari angguk dan dolalak yaitu mengangguk, ngetol dan kekirik yang di kemas secara dinamis sehingga menjadi sajian yang menarik yang di mainkan oleh para penari putri dari jatimulyo. Selain menampilkan potensi senin tari dalam event Selasa Wagen ini, Kalurahan Jatimulyo juga menampilkan stand produk UMKM dari potensi masyarakat Jatimulyo 15. Kalurahan Hargomulyo, Kulon Progo Prawiraning Menoreh Karya ini menggambarkan para prajurit berkuda di wilayah Menoreh yang sedang menghimpun kekuatan dalam merebut wilayah Menoreh dari tangan kompeni. Karya tari ini pengembangan dari Kesenian Rakyat Jathilan, Incling yang sudah dikemas digarap sedemikian rupa dan menjadi suatu karya kreatif dalam seni pertunjukan. Selain itu, Kalurahan/Kelurahan Budaya mendirikan stan – stan UMKM dari 15 Kaluirahan/Kelurahan budaya yang menyajikan berbagai kuliner, kerajinan tangan, dengan harga bervariasi. Pengunjung domestik serasa bernostalgia mencicipi jajanan jadul khas Kalurahan/Kelurahan, begitupun turis luar daerah maupun mancanegara yang turut merasakan sajian kuliner yang lezat dan menggugah selera.

Berita Terpopuler


...
Raden Ayu Lasminingrat Tokoh Intelektual Pertama

by museum || 24 Oktober 2022

Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2024

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta