PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin|| 18 Juni 2013 || 38.482 kali

...

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.

Pernyataan tersebut lalu dikomentari super hero Gundala, bahwa dialog itu di luar naskah. "Aku ra melu-melu. Tanggungjawab sepenuhnya kepada pemain," timpal Gundala.

"Aku yo ora wani," kata Pak Petir.

Itulah penggalan dialog antara Pak Petir (Butet Kartaredjasa) dengan anaknya yang bernama Gundala (Susilo Nugroho) dalam di pementasan Gundala Gawat di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Selasa (16/04/2013) malam.

Pentas serupa masih akan ditampilkan di tempat sama Rabu (17/04/2013) malam dan rencananya dihadiri Gubernur DIY Sri Sultan Hamangku Buwono X, Kapolda DIY Brigjen Pol Drs Haka Astana, dan Walikota Haryadi Suyuti. Pentas yang didukung penuh Djarum Apresiasi Budaya sebagai komitmen memihak perkembangan kebudayaan Indonesia ini juga akan digelar di Graha Bakti Budaya TIM Jakarta, 26-27 April mendatang.

Di tengah-tengah percakapan Gundala dan Pak Petir ini juga memunculkan karakter Sedah (istri Gundala.red), sehingga mampu mengocok perut penonton. Dialog yang tidak hanya menarik tawa penonton tapi juga menceritakan fungsi petir di Indonesia.

Teater Gandrik lewat lakon Gundala Gawat mampu menghasilkan humor parodi yang sarat kritik sosial. Pentas ini memanfaatkan audio visual untuk tokoh super hero dan gambar animasi petir. Sedang melalui tata artistik yang sederhana, karakter yang dihidupkan ini berada disetting rumah Hasmi sebagai tokoh penulis Gundala Putra Petir, rumah keluarga Gundala dan markas Pasukan Harimau Lapar. Semua setting itu digambarkan dengan semi realis.

Djaduk Ferianto sebagai penata laku dan musik mampu menghidupkan lakon 'Gundala Gawat' sesuai tuntutan adegan. Misalnya, dalam adegan penggambaran efek petir dan penggarapan lagu yang mampu harmonis antara pengadeganan dan musiknya.

Beberapa kritik sosial lain yang dimunculkan seperti perbedaan antara KPK dan petir. Petir lebih pada pencegahan kejahatan. Kalau ada petir yang menyambar, akhirnya kejadian yang bertujuan jahat dapat digagalkan. Berbeda dengan KPK yang terjadi korupsi dulu baru dilakukan pengusutan dan penangkapan.

Tidak hanya itu, para lakon juga menyindir kasus Ujian Nasional (UN) yang tidak kompak. Adegan yang dimunculkan saat warga 4 desa di Klaten protes terhadap Gundala karena kampungnya yang disambar petir. "Lha, berarti petirnya banyak dan kompak. Bisa bareng menghabiskan 4 desa. Tidak seperti UN yang tidak bisa kompak bareng," kelakar Gundala disambut gelak tawa penonton.

Di adegan yang lain, Pak Petir mengungkapkan bahwa dirinya memiliki misi mulia. Misi petir adalah membangun mental bangsa.

"Aku hanya ingin menjelaskan bahwa petir di Indonesia jumlahnya paling banyak sedunia. Ranking satu mengalahkan ranking korupsi. Karenanya, selain membangun mental bangsa, petir juga berfungsi untuk mengageti bangsamu agar tidak menjadi bangsa yang kagetan," ungkap Pak Petir menjelaskan kondisi sebenarnya yang sesuai naskah karangan Gunawan Mohamad tersebut.

Dikatakan Pak Petir, di kalangan bangsa Petir, bangsa ini dikenal dengan istilah BRB yang berarti 'Bangsa Rindu Budeg'. "Ini bukan sinis, le. Bangsamu itu memang dikenal dengan bangsa yang doyan berteriak".

Mengunakan toa, kalau tidak toa menggunakan knalpot motor. Kalau bukan knalpot motor, ya mercon. Kalau tidak mercon, ya bom. Kalau tidak bom, debat politik di televisi. Semakin diteriakin, bangsamu semakin senang. Makanya aku datang dengan membawa tugas bahwa sekeras-kerasnya suara di toa masih ada petir. Dengan demikian, bangsamu tidak menjadi bangsa yang sombong," ungkap Pak Petir.(R-4/Cil)

sumber krjogja.com

Berita Terpopuler


...
Perajin Batik Kulonprogo Perkuat Pasar Lokal untuk Jaga Produksi Tetap Stabil

by admin || 24 November 2016

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Perajin batik Kulonprogo mulai merasakan tanda-tanda kelesuan pasar batik yang biasa terjadi di akhir tahun. Untuk menjaga stabilitas produksinya, perajin batik ...


...
Kesenian Tari Hibur Peserta Funbike Gebyar Museum Pleret

by admin || 09 Oktober 2016

Laporan Reporter Tribun Jogja, Arfiansyah Panji Purnandaru TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Rombongan Funbike Gebyar Museum Pleret tiba di Museum Purbakala Pleret. Tari Sigrak Sesolak, Tari Nawung Sekar ...


...
'Selendang Sutra' Penyatu Mahasiswa

by admin || 07 Oktober 2016

YOGYA (KRjogja.com) - Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogya (Disbud DIY) bersama dengan Ikatan Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) mengadakan 'Karnaval Selendang Sutra' 2016 guna mengurangi gesesekan ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
TBY Gelar Rekonstruksi Tari Klasik Kraton Yogyakarta

by admin || 18 Juni 2013

YOGYA (KRjogja.com) - Sebagai langkah dan upaya penyelematan kesenian tari klasik, Taman Budaya Yogyakarta (TBY), akan menggelar rekonstruksi Tari Klasik Kraton. Acara bakal digelar 18 Mei 2013, ...





Copyright@2019

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta