by ifid|| 02 November 2024 || || 283 kali
Inisiatif Pelestarian Sejarah Lokal oleh Dinas Kebudayaan DIY
Yogyakarta, 1 November 2024 – Sebagai upaya untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan serta sejarah lokal, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyelenggarakan sarasehan dan pentas seni di Balai Kelurahan Banyurejo, Kecamatan Tempel, Selemen, yang bertujuan untuk memperkenalkan kembali peristiwa-peristiwa penting kepada masyarakat. Acara ini merupakan bagian dari program pelatihan Training of Trainers (TOT) bagi perwakilan kelurahan, dan bertujuan untuk memperkuat pemahaman sejarah lokal melalui metode langsung dan interaktif. Salah satu fokus utama dari program ini adalah menyatukan warga masyarakat dalam upaya kolektif untuk menghidupkan kembali cerita-cerita masa lalu dan melestarikan memori kolektif komunitas.
Baha Udin, salah satu narasumber dalam kegiatan sarasehan ini, menyambut baik inisiatif TOT yang pertama kalinya diperkenalkan oleh Dinas Kebudayaan DIY dengan metode yang berbeda. Tidak hanya mengandalkan metode pembelajaran tatap muka, program ini juga melibatkan masyarakat langsung melalui pementasan cerita-cerita sejarah yang diangkat dari kisah nyata atau legenda lokal. Menurutnya selama ini tidak semua warga mengetahui sejarah wilayahnya.
“Dipentaskan sehingga secara langsung masyarakat itu akan mengetahui dan juga sekaligus nanti didokumentasikan. Yang penting itu, karena mungkin tidak semua warga Banyurejo, saya yakin, tahu akan sejarah kelurahannya,” terang Baha Udin dalam sarasehan di Balai Kelurahan Banyurejo.
Menurutnya, pendekatan ini memberikan manfaat yang lebih mendalam, terutama dalam menyampaikan nilai-nilai budaya kepada generasi muda yang mungkin kurang mengenal sejarah lokal mereka. Dengan menghidupkan cerita-cerita ini, Baha Udin berharap agar tradisi dan kebudayaan daerah dapat terus terjaga. Baha Udin menambahkan bahwa Yogyakarta menjadi istimewa karena sejarahnya.
"Kalau kita bicara keistimewaan, salah satu unsur keistimewaan yang ada di Undang-Undang Keistimewaan itu adalah faktor sejarah. Jadi, Yogyakarta itu menjadi istimewa salah satunya itu adalah karena faktor sejarah. Nah, inilah yang kemudian menjadi pembeda dengan wilayah-wilayah lain," ujar Baha Udin.
Kisah Perjuangan Sejarah DIY sebagai Landasan Keistimewaan Yogyakarta
Dalam penjelasannya, Baha Udin menekankan pentingnya sejarah DIY yang menjadi dasar keistimewaan Yogyakarta di Indonesia. Dimulai dari Perjanjian Giyanti pada 1755, yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, peristiwa ini menjadi awal dari pembentukan identitas Yogyakarta. Perjanjian ini diikuti oleh Perjanjian Salatiga pada 1757, yang menambah wilayah DIY dengan Kadipaten Paku Alaman. Selanjutnya, Sultan Hamengkubuwono I memproklamasikan berdirinya Kasultanan Yogyakarta di Hutan Beringan pada 13 Maret 1755. Deklarasi ini, yang dikenal sebagai “Degeng Nagari Ngayogyakarta Diningrat,” menjadi simbol kebebasan Yogyakarta dari pengaruh VOC Belanda dan fondasi dari keistimewaan DIY yang kini diakui sebagai salah satu daerah dengan otonomi khusus.
“Jiwa kemerdekaan Sultan Hamengkubono I itu sangat kuat untuk pendirian sebuah negara baru yang terbebas dari bayang-bayang kolonial. Kemudian tanggal 13 Maret 1755 kemudian dijadikan sebagai hari jadi Yogyakarta,” jelas Baha Udin.
Baha Udin juga menguraikan tiga peristiwa penting yang menjadi dasar keistimewaan Yogyakarta, yaitu Perjanjian Giyanti, pembangunan keraton Yogyakarta di Ambar Ketawang, dan boyongan dari Ambar Ketawang ke lokasi keraton saat ini pada 7 Oktober 1756. Selain itu, ada dua peristiwa yang mengubah kewilahan Yogyakarta. Peristiwa pertama terjadi pada masa Sultan Hamengkubuwana II yang dikenal dengan peristiwa Geger Sepehi, ketika Inggris menyerang Keraton Yogyakarta hingga keraton mengalami kekalahan.
“Begitu keraton kalah, kemudian wilayah di Monconegoro Yogyakarta itu terutama di Kedu, itu diambil alih oleh pemerintah kolonial. Kemudian peristiwa yang kedua yaitu Perang Jawa atau Perang Diponegoro,” tutur Baha Udin.
Perang Diponegoro yang berlangsung pada Juli 1825 hingga Maret 1830 itu, ucap Baha Udin, sangat berpengaruh terhadap eksistensi pemerintah kolonial Belanda. Perang itu menguras kas negara kolonial. Semua daya ekonomi pemerintah kolonial disebut terkuras akibat perang itu. Setelah perang Diponegoro usai, penjajah berupaya mengembalikan kekuatan ekenominya hingga muncul tanam paksa.
“Belanda kemudian mempunyai pikiran bagaimana mengembalikan kasnya yang kosong yang digunakan perang itu. Makanya kemudian dilahirkanlah kebijakan tanam paksa. Selama sekitar sepuluh tahun (Belanda) berhasil mengembalikan kas itu,” tuturnya.
Beliau mengatakan peristiwa-peristiwa ini tidak hanya memberikan identitas unik bagi Yogyakarta, tetapi juga melahirkan banyak kisah kepahlawanan yang masih dikenang hingga kini, seperti penamaan wilayah di Sleman dan Kulonprogo yang didasarkan pada tempat Pangeran Diponegoro berjuang.
Keunikan dan Warisan Budaya di Kalurahan Banyurejo
Acara TOT ini juga memfasilitasi perwakilan dari Kalurahan Banyurejo untuk memperkenalkan sejarah lokal mereka. Kalurahan ini memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang menarik, dengan hari jadi yang diperingati setiap 19 April sebagai penanda penyatuan tiga kelurahan awal, yakni Senoboyo, Garisan, dan Ngabrian. Hari jadi ini dirayakan sebagai upaya untuk mengedukasi masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai sejarah lokal yang sering kali luput dari perhatian. Lurah setempat menekankan pentingnya melestarikan sejarah ini agar menjadi warisan yang berkelanjutan.
“Itulah sejarah, sejarah sudah terjadi dan kita bisa hanya mengingat dan melestarikan sejarah tersebut supaya anak cucu kita semuanya tahu tentang sejarah di Kelurahan,” ujar Lurah.
Kalurahan Banyurejo juga memiliki peninggalan kanal bersejarah, yaitu Kanal Van Der Wijk yang dibangun pada tahun 1903 dan saat ini diakui sebagai cagar budaya. Situs ini dilengkapi dengan lokasi unik bernama Bu Renteng, yang telah menarik perhatian pemerintah setempat serta masyarakat. Selain Kanal Van Der Wijk, Kalurahan ini juga memiliki Selokan Mataram yang dibangun Sultan Hamengkubuwono IX pada tahun 1942-1944 untuk menghindarkan warga dari kerja paksa Jepang. Keberadaan kedua kanal ini menjadi simbol perjuangan dan identitas penting bagi Kalurahan Imban Yurjo, serta menginspirasi warga untuk menjaga situs-situs ini melalui kelompok Pecinta Cagar Budaya (PCB). Selain itu, kalurahan ini telah ditetapkan sebagai kalurahan budaya sejak tahun 1995 dan memiliki tradisi serta seni yang diwariskan secara turun-temurun, termasuk hadroh, jathilan, dan seni rodak yang kini direncanakan untuk diperkenalkan kembali kepada generasi muda.
Pementasan Ketoprak sebagai Media Edukasi Sejarah
Pada puncak acara TOT, Dinas Kebudayaan DIY menggelar pementasan ketoprak Mataram yang mengangkat kisah perjuangan Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajahan Belanda. Pementasan ini melibatkan kisah Ki Onggojoyo, seorang tokoh lokal yang berperan dalam perjuangan di Lengkong, serta Mbah Kiai Hasan Ahmad dan Pangeran Prawirotaruno yang turut menjadi bagian dari sejarah heroik ini. Dalam pertunjukan yang berdurasi lebih dari dua setengah jam, kisah perjuangan dan pengkhianatan dalam peperangan dipentaskan dengan penuh semangat. Dengan mengusung gaya teater tradisional ketoprak, pertunjukan ini sukses membawa para penonton dalam suasana masa lalu, memperkenalkan cerita-cerita kepahlawanan lokal dengan cara yang menarik.
Pementasan ketoprak ini juga memiliki nilai edukatif yang mendalam. Dengan menggunakan seni pertunjukan sebagai media, pementasan ini diharapkan dapat menarik perhatian generasi muda untuk lebih menghargai sejarah dan budaya daerah mereka. Selain itu, melalui karakter dan cerita yang diangkat, pertunjukan ini berupaya menanamkan nilai-nilai kepahlawanan dan kebanggaan pada warisan budaya yang ada di DIY. Hal ini menjadi sangat relevan, mengingat tantangan globalisasi yang sering kali membuat generasi muda melupakan akar budaya mereka sendiri.
Program TOT yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan DIY ini menunjukkan bahwa pelestarian sejarah dan budaya tidak harus selalu menggunakan metode formal. Dengan pendekatan yang melibatkan masyarakat secara langsung, seperti pementasan ketoprak dan partisipasi dalam diskusi sejarah, masyarakat dapat lebih merasakan nilai budaya yang ada. Program ini juga berhasil menciptakan momentum bagi generasi muda untuk terlibat dalam pelestarian budaya melalui metode yang kreatif.
Ke depan, diharapkan kegiatan seperti ini dapat terus dikembangkan dan diperluas ke seluruh wilayah Yogyakarta. Dengan melibatkan lebih banyak kalurahan dan menampilkan lebih banyak cerita sejarah yang ada di masyarakat, Dinas Kebudayaan DIY dapat menciptakan sebuah gerakan kebudayaan yang kuat. Harapannya, generasi muda akan semakin tertarik untuk mempelajari sejarah lokal mereka dan mengembangkan rasa bangga terhadap identitas daerah yang telah diwariskan oleh leluhur. (haling Ratih/fit)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Oktober 2022
Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...