Umbul Donga, "Ungkapan rasa syukur, saling memaafkan, tolak balak"

by ifid|| 02 November 2024 || || 111 kali

...

Festival Dalang Anak Nasional yang akan dilaksanakan pada tanggal 4-6 November 2024 di Gedung Pewayangan Kautaman TMII Jakarta. Dinas Kebudayaan DIY dan Pepadi DIY mengirimkan empat Dalang Anak yang akan berfestival di tahun ini. 

Jumat siang, (1/11) 2024, di Pendopo Dinas Kebudayaan DIY menggelar Umbul Dongo sekaligus Gladi Bersih pergelaran empat dalang anak yang akan diikutkan dalam kegiatan Festival Dalang Anak Nasional yang akan dilaksanakan pada tanggal 4-6 November 2024. Kata umbul yang berarti munggah ing awang-awang dalam bahasa Indonesia berarti naik ke langit dan kata donga yang berarti sembahyang atau dalam bahasa Indonesia berarti berdoa, sehingga kata umbul donga dapat diartikan sebagai memanjatkan doa,  ungkap Sekertaris Dinas Kebudayaan DIY Cahyo Widayat, S.H, M.SI., dalam membacakan sambutan Kepala Dinas Kebudayaan DIY.

Umbul Donga ini juga menjadi bagian dari pemaknaan kearifan lokal tradisi ruwahan masyarakat Jawa khususnya Yogyakarta yang diselenggarakan pada awal sebelum Bulan Ramadhan. Tujuan pelaksanaannya tidak lain adalah ungkapan rasa syukur, saling memaafkan, tolak balak dan ungkapan doa kita bersama. “Tolak Balak adalah upaya untuk menghindari berbagai malapetaka yang mungkin terjadi”. kata Cahyo.

Umbul Donga hari ini spesial kita laksanakan sekaligus dengan Gladi Bersih pergelaran empat dalang anak yang akan diikutkan dalam kegiatan Festival Dalang Anak Nasional yang akan dilaksanakan pada tanggal 4-6 November 2024 di Gedung Pewayangan Kautaman TMII Jakarta. Empat dalang anak yang akan diikutkan adalah :

  1. Ivo Lanta Sang Kesawa, Kategori Wayang Kulit 
  2. Alexsius Apriliano Beny Anggoro, Kategori Wayang Kulit 
  3. Adimas Alby Ersani Widyaputra, Kategori Wayang Golek Menak
  4. Daneswara Satya Swandaru, Kategori Wayang Golek Menak

“Kami berharap agar dengan adanya Umbul Donga Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi media kita bersama dalam memohon kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa untuk memberikan kesehatan, kemudahan dan kesuksesan khususnya pada kegiatan Festival Dalang Anak Nasional”, pungkas Cahyo.

Sementara itu Ketua Pepadi DIY Ki Edi Suwondo, menyampaikan menilai Festival Dalang Anak Nasional sangat penting untuk melestarikan budaya bangsa, khususnya seni pedalangan yang kaya akan nilai-nilai luhur.  Festival ini dapat memberikan pengalaman berharga bagi para peserta, baik dari segi pengembangan diri maupun peningkatan keterampilan dalam mendalang. Festival ini akan semakin memperkenalkan seni pedalangan kepada masyarakat luas, terutama generasi muda, sehingga dapat menumbuhkan apresiasi terhadap warisan budaya bangsa. Ki Edi Suwoondo berharap melalui Festival Dalang Anak Nasional, akan lahir generasi penerus dalang-dalang handal yang mampu mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional, menjadi wadah bagi generasi muda untuk melestarikan seni pedalangan dan menjadi ajang unjuk bakat, meningkatkan kualitas seni pedalangan anak, serta menginspirasi lebih banyak anak muda untuk mendalami dunia pewayangan.

Sementara itu Ivo Lanta Sang Kesawa adalah seorang dalang wayang kulit yang cukup terkenal, khususnya dalam dunia seni pertunjukan tradisional Indonesia. Dia dikenal karena kemampuannya yang luar biasa dalam menghidupkan karakter-karakter wayang melalui suara dan penguasaan teknik mendalang. Nama "Sang Kesawa" mengindikasikan mungkin sebuah julukan atau identitas artistik yang melekat pada dirinya.

Alexsius Apriliano Beny Anggoro adalah seorang dalang muda yang dikenal dalam dunia wayang kulit, seni pertunjukan tradisional Indonesia yang menggabungkan seni teater, musik, dan cerita. Sebagai seorang dalang, Alexsius memainkan peran yang sangat penting dalam menghidupkan karakter-karakter wayang, menyampaikan cerita-cerita epik dari Ramayana atau Mahabharata, serta mengontrol jalannya pertunjukan dengan menggunakan suara dan gerakan wayang.

Sebagai dalang muda, Alexsius Apriliano Beny Anggoro sering kali membawa pendekatan atau interpretasi baru dalam seni wayang kulit, menggabungkan teknik-teknik tradisional dengan sentuhan modern atau inovatif yang dapat menarik perhatian penonton yang lebih muda sekaligus menjaga kelestarian budaya ini.

Seni wayang kulit memang terkenal dengan kompleksitasnya, baik dalam teknik pertunjukan maupun dalam penguasaan cerita dan filosofi yang mendalam. Sebagai bagian dari generasi muda yang melanjutkan tradisi ini, Alexsius bisa jadi memiliki peran penting dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya ini.

 

Adimas Alby Ersani Widyaputra adalah seorang dalang muda yang dikenal dalam dunia wayang golek, sebuah jenis wayang tradisional yang menggunakan boneka kayu (golek) sebagai media untuk bercerita. Wayang golek sendiri merupakan bentuk seni pertunjukan khas dari daerah Jawa Barat, yang juga memiliki keunikan dalam hal teknik mendalang dan penceritaan.

Wayang Golek Menak merujuk pada jenis pertunjukan wayang golek yang mengisahkan cerita Menak atau cerita dari kisah-kisah dalam tradisi Islam, terutama yang berhubungan dengan kehidupan tokoh-tokoh seperti Raden Menak (seorang pahlawan dalam cerita-cerita Jawa yang menggabungkan unsur Islam dan budaya lokal). Cerita ini biasanya mencakup perjalanan spiritual, perjuangan, serta perjuangan antara kebaikan dan kejahatan.

Sebagai dalang yang aktif dalam dunia wayang golek, Adimas Alby Ersani Widyaputra memainkan peran penting dalam menghidupkan cerita-cerita tersebut. Melalui kemampuannya dalam mendalang, dia menggabungkan keterampilan teknis serta penguasaan cerita untuk menciptakan pertunjukan yang memukau dan menggugah penonton, baik dari segi hiburan maupun nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita. 

Daneswara Satya Swandaru adalah seorang dalang muda yang dikenal dalam dunia wayang golek Menak, sebuah bentuk seni pertunjukan tradisional yang menggunakan wayang golek (boneka kayu) untuk menceritakan kisah-kisah, biasanya dari legenda atau mitologi, dengan fokus pada cerita-cerita Menak—yaitu cerita-cerita yang sering berhubungan dengan perjalanan dan perjuangan tokoh-tokoh dalam tradisi Islam dan budaya Jawa.

Wayang Golek Menak sering mengisahkan tokoh-tokoh pahlawan Islam, seperti Raden Menak, yang merupakan figur heroik dalam cerita-cerita Jawa yang memadukan unsur Islam dengan budaya lokal. Kisah-kisah Menak menggambarkan nilai-nilai spiritual, perjuangan antara kebaikan dan kejahatan, serta berbagai konflik sosial atau pribadi yang dihadapi oleh para pahlawan.

Sebagai dalang, Daneswara Satya Swandaru tidak hanya menguasai teknik mendalang yang khas dalam wayang golek, tetapi juga membawa jiwa cerita dan menghidupkan karakter-karakter tersebut melalui gerakan wayang dan suaranya. Kemampuan untuk mengekspresikan emosi dan konflik dalam cerita menjadi hal yang sangat penting, karena wayang golek Menak tidak hanya menyajikan hiburan visual tetapi juga sarat dengan nilai-nilai moral dan ajaran spiritual.

Dalang, dalam tradisi wayang kulit, memiliki peran penting sebagai pengatur jalannya cerita, penggerak karakter-karakter wayang, serta sebagai penghubung antara dunia manusia dan dunia spiritual yang tergambar dalam pertunjukan wayang.

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Raden Ayu Lasminingrat Tokoh Intelektual Pertama

by museum || 24 Oktober 2022

Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2025

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta