by ifid|| 04 November 2024 || || 31 kali
Roadshow Kesejarahan dan Sarasehan di Kalurahan Pandowoharjo, Sleman, Minggu (3/11) malam, ini diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Kegiatan mengambil tema berkaitan dengan peristiwa Perang Brayut yang mengakibatkan 14 warga gugur dalam pertempuran mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Perangan Brayut adalah salah satu pertempuran yang terjadi di wilayah Yogyakarta pada tahun 1825. Perang ini merupakan bagian dari rangkaian perjuangan yang lebih besar, yaitu Perang Diponegoro, yang berlangsung antara tahun 1825 hingga 1830. Diponegoro, yang merupakan pahlawan besar, memimpin perjuangan melawan penjajahan Belanda, dan salah satu titik penting dalam pertempuran ini adalah Perangan Brayut.
Perang Brayut terjadi di daerah Brayut, yang saat ini termasuk wilayah Kalurahan Pendowoharjo, dan melibatkan pasukan rakyat yang dipimpin oleh Diponegoro yang berjuang melawan kekuatan Belanda. Meskipun Perang Brayut mungkin bukan bagian terbesar dari seluruh Perang Diponegoro, pertempuran ini menunjukkan semangat dan perjuangan rakyat dalam melawan penjajah.
Perangan Brayut kini menjadi bagian dari sejarah lokal yang terus dikenang dan dilestarikan, terutama di wilayah Yogyakarta. Banyak kegiatan budaya, termasuk pameran sejarah, pertunjukan wayang, dan diskusi tentang Perang Diponegoro, mengangkat peristiwa ini sebagai bentuk penghargaan terhadap perjuangan para pahlawan.
Bagi masyarakat di Kalurahan Pendowoharjo dan sekitarnya, Perangan Brayut menjadi bagian dari identitas sejarah dan semangat perjuangan yang terus diwariskan. Ketua Desa Wisata Mandiri Budaya di Kalurahan Pandowoharjo, Sudarmadi, mengatakan Kalurahan Pandowoharjo memiliki andil dalam upaya menjaga tegaknya kedaulatan NKRI. Hal ini tak lepas adanya peristiwa Perang Brayut, pasca terjadinya agresi militer Belanda yang kedua.
Perang terjadi karena usaha untuk melindungi para pejuang dan tentara pelajar dari kejaran tentara Belanda. Akibat perang yang terjadi pada 5 Mei 1949, tercatat 14 warga gugur di medan pertempuran. “Untuk mengenang peristiwa ini dibangun lah monumen medan pertempuran Brayut di timur SMA Negeri 2 Sleman,” kata Sudarmadi.
Menurut dia, sisa dari perang banyak ditemukan warga. Pasalnya, ada bom seberat 21 kilogram yang ditemukan di sungai, amunisi sebanyak 300 butir di sungai di selatan Padukuhan Brayut. “Ada juga penemuan granat aktif yang diindikasikan sebagai perangkat yang digunakan dalam peperangan di Brayut,” katanya.
Selain itu, ada juga peninggalan kuno lain seperti sepeda motor ducati, Harley Davidson, motor keblak. Di sisi lain, juga ada peninggalan seperti limasan pacul, kampung, serta bunker sedalam 40 meter yang jadi tempat persembunyian warga. “Bunker ini bisa menampung hingga 60 orang,” katanya.
Sudarmadi menambahkan peristiwa perang Brayut dikemas menjadi pentas teatrikal yang berjudul “Langit Mendung Bumi Amarta” untuk menjadi sebuah pertunjukan kepada warga. Selain mengenang pertempuran tersebut, juga pentas ini juga menjadi bagian Roadshow Kesejarahan dari Dinas Kebudayaan DIY.
Kepala Seksi Sejarah Kundha Kabudayan DIY, I Gede Adi Atmaja, menjelaskan Roadshow Kesejarahan menjadi salah satu upaya Kundha Kabudayan DIY mengenalkan sejarah kepada masyarakat. Program rutin Kundha Kabudayan DIY ini merupakan bentuk upaya internalisasi sejarah. Wujudnya berupa roadshow atau sarasehan kesejarahan yang diadakan keliling ke berbagai lokasi bersejarah di DIY.
Di tahun 2024, Roadshow Kesejarahan sudah digelar di Banyurejo, Tempel; Bangunkerto, Turi. “Kali ini digelar di Kalurahan Pandowoharjo. Selanjutnya digelar di Margodadi, Seyegan dan Sendangmulyo, Minggir,” katanya.
Sebelum Roadshow Kesejarahan digelar, Kundha Kabudayan DIY terlebih dahulu melatih para perwakilan warga lewat program Training of Trainer (TOT) tentang peristiwa bersejarah di DIY. Adapun empat peristiwa bersejarah penting di DIY diantaranya Hari Penegakan Kedaulatan Negara yang jatuh pada 1 Maret 1949, lalu Hari Jadi DIY, selanjutnya peristiwa Jogja Kembali dan terakhir Hari Keistimewaan.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Oktober 2022
Raden Ayu Lasminingrat terlahir dengan nama Soehara pada than 1843, merupakan putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Lasmi ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...